timnas, skuat garuda, indra sjafrie, pssi, sepak bola

KBR68H - Panceklik prestasi masih dialami tim nasional sepak bola Indonesia. Di SEA Games yang berlangsung di Burma, misalnya skuat “Garuda Muda” hanya meraih medali perak. Sementara  timnas senior gagal menembus putaran final Piala Asia tahun depan di Australia. Meski demikian masih ada harapan pada timnas yunior atau skuat “Garuda Jaya”. Tim asuhan Indra Sjafrie ini berhasil meraih Piala AFF U-19 dan lolos putaran final Piala Asia U-19 di  Burma.  

Pelatih Tim Nasional Usia di Bawah 19 tahun atau U-19 Indra Sjafrie tengah semringah. Pasalnya kerja kerasnya menempa anak-asuhnya menghadapi putaran Final Piala Asia U-19 di Burma tahun depan mulai menunjukan hasil. 

Ini misalnya ditandai dengan meningkatnya VO2 Max atau kemampuan volume maksimal oksigen yang diproses oleh tubuh manusia pada saat melakukan kegiatan yang intensif. Indra mencontohkan VO2 Max sang kapten, Evan Dimas yang mengalami peningkatan sejak pemusatan latihan  di Kota Batu Malang, Jawa Timur.  “Kemarin dari 1 bulan latihan kita sudah ukur lagi mereka naik 3 sampai 5 digit. Sekarang sudah masuk minggu ketujuh. Kita berusaha naiklah, nanti kita lihat berapa naiknya. Ya mudah-mudahan mereka bisa mencapai 60 rata-rata,” jelasnya.

VO2 Max Evan jelas pelatih asal Sumatera Barat tersebut tercatat  yang tertinggi di angka 63,8 disusul pemain  M Hargianto di angka 61. Di kota bersuhu 18 derajat celcius itu, 40 pemain muda dilatih fisiknya.“Daya tahan dulu, nanti di spesifik kita kembangkan dengan daya tahan kecepatan dan kekuatan kita fokus di daya tahan dulu. Ibarat orang bikin rumah kita bikin pondasi dulu. Tidak mungkin bikin atap, saya kuatkan pondasinya dulu, nanti baru tiang-tiangnya, buat dindingnya baru kita cat,” jelasnya. 

Dia menambahkan, “Mengikuti pelatihan yang keras dan berat itu latihan mental juga namanya. Kan terbentuk dari proses latihan itu, mental itu. Bukan mental yang berani dibawah ke kuburan kemudian ditinggal. Bukan seperti itu mental sepakbola.”

Menurut lelaki 50 tahun lewat pemusatan latihan ini kemampuan personal pemain diuji. “Jadi latihan itu sifatnya individualis, menurut kemampuan dia masing-masing dan kita tidak bisa samakan. Makanya perlu tes awal. Jadi sebelum program latihan dibuat ada namanya tes kemampuan awal pemain. Dari situ data itu kita dapat baru kita pilah-pilah, siapa yang kecepatan gak bagus, data gak bagus. Dari situ kita melihat datanya,”terangnya.

Jadwal latihannya juga sangat ketat. Maklum saja target skuat Garuda Jaya di ajang Piala Asia U-19 tahun depan di Burma: lolos semifinal. “Setiap hari kecuali hari minggu. Jadi minggu libur berarti. Libur itu definisinya ya bebas, mau pulang ke rumah, pergi sama pacar. Yang namanya libur ya libur tidak ada latihan. Bebas yang refresh. Yang penting senin sudah kembali ? bukan senin, hanya sampai jam 7 malam, dia tidur tetap di hotel tempat kita,” ungkap Indra Sjafrie.

Diberbagai kesempatan juga Indra Sjafrie memasang target Evan Dimas dan kawan-kawan bisa lolos putaran final Piala Dunia U-20 di Selandia Baru pada 2015.  Beratnya latihan juga ikut dirasakan Ketua PSSI, Djohar Arifin yang berkunjung ke Kota Batu selama 2 hari. “Saya pun sekali pagi ikut lari ke gunung (tertawa) Saya ikut berjalan saya ngos-ngosan, kemudian saya naik sepeda akhirnya saya naik mobil. Tapi mereka masih lari, semangatnya tinggi,luar biasa.” jelas Djohar.

Kerja keras tersebut seolah untuk menjawab Timnas U-19 tak terlena dengan Juara Piala AFF U-19 beberapa bulan silam. Pelatih Timnas sepakbola U-19, Indra Safrie. “Tentu banyak pengalaman yang kita dapat dari 7 kali pertandingan untuk pemain tentu sangat bermanfaat. Mereka bisa belajar dari pertandingan. Dan kami dari pelatih bisa juga belajar apa yang bisa kami perbaiki dan kemajuan sepak bola di ASEAN,” tegasnya. 

Prestasi lain yang ditorehkan Timnas U-19 adalah  lolos  putaran final Piala Asia U-19 setelah menumbangkan tim raksasa, Korea Selatan 3-2 di Jakarta. Indra Sjafrie berharap kerja keras Timnas U-19 kelak membuahkan hasil. Memenangkan laga demi laga di ajang Piala Asia U-19 nanti.  “Optimisme tidak diragukan lagi, saya selalu orang yang optimis. Bangsa Indonesia ini harus optimis. Ini tidak perlu ditanya berulang-ulang. Tidak pernah berkurang sedikitpun optimisme saya,”katanya.

Namun bagaimana dengan prestasi Timnas senior dan Timnas U-23 ?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!