kampung warakas, narkoba, jakarta, satgas

Dari para pengedar dan penikmat narkoba yang sudah insyaf  Suhendi Asmaran dan warga  mulai menyusun strategi melawan barang terlarang tersebut.  Ketua Satgas Pemberantasan Narkoba Kelurahan Warakas tersebut sengaja mengumpulkan informasi dari mereka.  “Ada anaknya pengguna, terus dia gak tahu caranya bagaimana nih. Kalau dilapor ke polisi takut ditangkap. Makanya kita rehab di sini, fungsi kita sekarang itu,” kata Suhendi.

Suhendi bersama warga lainnya  berkumpul dan mendiskusikan cara penanggulangan narkoba dibelasan posko. “Nah 14 posko itu juga membawahi 14 RT, dimana setiap RT itu punya lima petugas anggotanya. Nah sekarang makanya sumber informasinya berada di wilayah masing-masing. Misalnya RT mencatat kejadian tiap malam, siapa pemakai, ada yang ditangkap tidak. Kemudian laporan ke Satgas,” ucap  Suhendi.

Mereka juga menugaskan mata-mata untuk mengintai masuknya pengedar dan pemakai dari wilayah lain. Agar keselamatan mata-mata terjamin, identitasnya pun dirahasiakan.  “Ada mata-mata juga? Ada. Karena untuk memberantas itu tidak bisa langsung berhubungan. Mereka dibekali oleh Kodim, dan Badan Intelejen Negara. Dari mana mata-mata itu, itu rahasia. Jumlah mereka itu satu RT satu orang,” ucap Suhendi.

Setelah pengedar dan pengguna narkoba diidentifikasi, Suhendi dan kawan-kawan mulai mengajak mereka secara persuasif  melepaskan diri dari jerat narkoba. Caranya mulai dari menjelaskan bahaya narkoba sampai melaporkan ke orang tua para pelaku. Mereka juga digugah, akibat narkoba Kampung Warakas ikut tercoreng. 

“Ada sanksi sosial dari warga lain untuk Warakas. Orang ga mau bergaul sama Warakas, melamar kerja, di tanya dari Warakas, kan sudah merah. Kasihan warga yang tidak menggunakan. Kalau kita bisa nasehati tiga anak kita di sini, maka sudah bisa dikurangi kan.” Ujar Suhendi.

Tapi cara persuasif tersebut jelas Suhendi  kadang tak efektif. Masih ada pengedar narkoba yang  nekad masuk Warakas.  Tak kurang akal, bekas pengedar dan pemakai narkoba pun ditugaskan mengusir mereka. Ecep  salah satu yang pernah mengusir pengedar. “Dulu kalau ada orang kampung lain bikin rese di sini saya ceburing. Ada pengedar saya ceburin ke kali. Sama saya urusannya,” tutur Ecep.

Buat pengedar dan pemakai narkoba yang ingin tobat, pengurus Pos Antinarkoba langsung dirangkul. Selanjutnya mereka diberi penyuluhan tentang bahaya narkoba dari petugas Badan Narkotika Nasional. “Kalau ada apa-apa kita bantuan ke polisi atau BNN. Jadi kita bekerjasama dengan BNN, kasi penyuluhan. Penyuluhan bisa ke sekolah-sekolah, karang taruna dan lainnya,” katanya.

Selanjutnya mereka diajak mengikuti kegiatan positif. Mulai dari kegiatan olah raga, musik sampai wirausaha. “Yang remaja itu, di sini ada rumah belajar. Di sini ada kursus komputer, ada juga kursus HP. Jadi ada Astra berperan serta dalam pelatihan perbaikan HP. Jadi ada juga perusahaan yang perhatian dengan kondisi Warakas ini,” kata Suhendi.

Lambat-laun upaya Suhendi bersama warga Warakasa memerangi narkoba membuahkan hasil. Mayoritas anak muda Warakas kini dinyatakan sudah tak lagi terlibat narkoba. “Ya secara umum sudah tidak bisa lihat lagi secara kasat mata. Ya polisi saja tidak bisa berantas habis. Namun misalnya di zona merah, kini sudah di bawahnya. Misalnya 10, kini tinggal dua sampai tiga orang. Itu juga dilakukan secara diam-diam, tidak terbuka lagi. Itu juga sudah alhamdulillah,”jelasnya. 

Atas kerja keras tersebut, Kelurahan Warakas terpilih sebagai pemenang lomba Kampung Bebas Narkoba 2013.  Kampung ini berhasil menyingkirkan 15 kelurahan  lain yang dicap sebagai sarang narkoba. “Ya alhamdulillah kita menang, bisa menunjukkan ke semua orang. Bahkan kita mendapat kunjungan dari Kampung Bali, Tanah Abang Jakarta Pusat. Mereka belajar ke sini,” imbuhnya.

Setelah mendapat penghargaan bukan berarti program pemberantasan narkoba di Warakas terhenti.  Warga mulai menggandeng kerja sama dengan sejumlah organisasi kemasyarakatan seperti Ikatan Pemuda Tanjung Priok dan  Forum Betawi Rempuk. Kisah sukses Warakas memerangi narkoba pun siap disebarkan ke wilayah lain.   “Kita lagi bikin film tentang Warakas. Tahun depan kita melangkah jauh, kita juga menulis buku tentang sejarah Warakas. Termasuk soal pergerakan kita,” pungkasnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!