kampung warakas, narkoba, jakarta, satgas

KBR68H - Warakas sempat dikenal sebagai salah satu surga bagi para  pengedar dan pemakai narkoba di Jakarta. Sejak beberapa tahun silam warga kampung itu mulai berbenah. Bergotong-royong berantas barang haram tersebut. Reporter Abu Sahma Pane berkunjung daerah yang  baru saja menerima penghargaan Kampung Bebas Narkoba 2013.

Petang di Kelurahan Warakas Jakarta Utara. Di tepi jalan sejumlah warga  asyik berbincang. Di sudut lain sejumlah  remaja tengah bermain musik. Anak-anak terlihat bermain. Berlarian di ruas jalan yang sepi.

Suasana warga yang guyub baru terasa tiga bulan terakhir, pasca memenangkan penghargaan “Lomba Kampung Bebas Narkoba DKI Jakarta, Oktober silam. Sebelumnya Warakas dikenal sebagai salah satu sarang pengedar sekaligus pemakai narkoba di Ibu Kota.

Warga setempat,  Suhendi Asmaran masih ingat stigma buruk yang dilekatkan kepada Warakas.   “Kelurahan Warakas pada 2005 itu betul-betul peredaran narkoba itu merajalela. Sifatnya bebas.Tidak tertutup, bebas kaya pasar narkoba. Saya sebagai warga prihatin dengan kondisi tersebut. Karena puncak-puncaknya 2005 itu yang dijual bukan sekedar ganja, tapi putau, sabu-sabu, bahkan pil BK,”ujar Suhendi.

Menurut Ketua Satuan Tugas Pemberantasan Narkoba Warakas tersebut sejak tahun 2000 sampai 2005 hampir seluruh  remaja Warakas terjerat barang haram tersebut. Ironisnya orang tua yang seharusnya jadi panutan, ikut terbuai candu narkoba. Sebagian malah ikut mengedarkan.

Tak aneh bila saban tahun ada saja warga yang tewas akibat memakai narkoba. Mardi, bapak lima anak ini salah satu korbannya.  “Setelah kemarin itu dia sakit. A Kholid, karena dia habis pakai ini. Aduh pak, koq aku kena paru-paru nih. Cobalah lu ke Rumah Sakit. Izin sama bosnya. Timbul pak benjolan. Karena dia pakai selama lima tahun, timbul benjolan. Kelenjar, itu getah bening, tapi dia sudah kombinasi sama racun. Lima-lima kakaknya itu Hasyim Satria Prabowo, adeknya namanya Chaidir. Satu lagi Ibnu, satu mantu. Enam pak,” ucap Mahdi.

Menurut Mardi faktor lingkungan lah yang menyebabkan anak dan mantunya tersandera narkoba. Johan Punut, 38 tahun menuturkan pengalamannya memakai narkoba selama 20 tahun. “Bagiamana prosesnya sampai kecanduan narkoba? Dari pergaulan lah mas. Saya bergaul, saya coba-coba, akhirnya terjurumus juga. Ditawarkan gratis atau bagaimana? Pertama gratis, lama-lama kalau sudah sakau, kita bayar. Itu mulai SMA kelas 2,” kata Johan.

Pernah suatu waktu Johan sakau alias ketagihan. Butuh narkoba jenis ekstasi, namun ia tak punya uang. Hingga akhirnya ia ditawarkan bandar untuk ikut mengedarkan narkoba. Imbalannya ia mendapat narkoba yang diinginkan.  “Tiap hari kita pengennya makai mas. Pokoknya harus dapat duit, dengan cara apa pun. Kalau ini kita bantu bandar akhirnya. Bantu bandar untuk jual juga. Ini dapat jatah lu sekian. Dapat uang dapat jatah juga. Kemana saja anda menjualnya waktu itu? Itu khusus ya , biasanya kalau saya edarkan mulai dari teman-teman dekat sampai pemakainya. Kita ga tahu ya dia itu baru makai atau bagaimana,” ujar Johan.

Akibat ulahnya tersebut, Johan 2 kali di tangkap polisi dan mendekam di penjara Cipinang, Jakarta. Tiga tahun meringkuk di sel tak membuatnya jera untuk menjauhi narkoba.  “Walau pun orang yang di dalam penjara ya, itu susah kalau narkoba. Soalnya di dalam penjara pun penjualannya bebas. Bandar besar lebih bagus di dalam dari pada di luar. Dia lebih aman edarkan di dalam, kalau di luar dia di kejar polisi. Kalau dari dalam dia bisa bayar kok. Anda dapat duit dari mana dalam penjara? Di dalam kita ketemu bandar besar, kita jadi bandar lagi. Kita jadi mau keluar narkoba sulit. Di dalam situ sudah ada lingkaran lagi,” ucap Johan.

Johan menilai berdasar pengalamnya tersebut, penjara tak efektif untuk membuat tobat pecandu dan pengedar narkoba. “Kalau kita berhenti dari diri sendirilah. Kalau saya berhenti ini, kita melihat anak juga. Keponakan saya juga sudah besar-besar di rumah. Keponakan saya bilang, om suruh saya berhenti. Ok saya berhenti kalau om berhenti. Di situlah saya berfikir,” ucapnya.

Meski sudah sadar, godaan dari rekannya yang masih mengedarkan  dan memakai narkoba masih sering muncul.

Nah, untuk melindungi bekas pecandu seperti Johan, sejak enam tahun silam warga Warakas kompak menggelar operasi pemberantasan narkoba. Para tokoh masyarakat dikumpulkan bersama anak muda diajak berdiskusi tentang bahaya narkoba.  Posko Anti Narkoba pun dibentuk jelas Suhendi, “Saya sebagai masyarakat di Warakas prihatin dengan kondisi tersebut. Cuma karena kurangnya perhatian dari pemerintah, terjadilah pergerakan tadi. Sehingga bagaimana saya menggerakkan RT dan tokoh yang ada dilingkungan itu berperan, dirangkul semua. Kita sosialisasikan narkoba itu ke mereka, gini loh narkoba bisa masuk ke keluarga kita.”

Dengan modal semangat, posko ini dibentuk di setiap RW. Genderang perang melawan narkoba ditabuh
.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!