Hoegeng, kapolri, korupsi, suap, integritas

KBR68H - Masih ada pejabat atau bekas pejabat yang bisa diteladani laku  semasa  hidupnya. Salah satunya bekas Kapolri Hoegeng Iman Santoso. Ia dikenal sebagai figur polisi yang  jujur dan idealis. Menolak rumah dinas  sampai hadiah kendaraan dari kolega beberapa contoh sikapnya agar tak tergoda suap dan korupsi. Berikut sekelumit hidup almarhum Hoegeng .

Tak banyak yang diingat Meriyati Hoegeng diusianya yang sudah menginjak hampir 90 tahun. Ditemui di sebuah kantor penjualan alat musik ternama di kawasan Gatot Subroto Jakarta, dia tampak berusaha keras mengingat setiap jengkal kisah yang pernah dilewati bersama suami, Hoegeng, Kepala Kepolisian Indonesia (Kapolri) periode 15 Mei 1968 - 2 Oktober 1971.

Kisah Meri, dimulai pada 1945 silam. Saat itu, dia bekerja sebagai penyiar berita luar negeri di Radio Republik Indonesia (RRI) Yogyakarta. Perempuan berdarah Jawa keturunan Belanda asal Pekalongan ini memang mahir berbahasa asing.  “Jadi penyiar siaran luar negeri bahasa Belanda. Ada bahasa Indonesia, Inggris, Prancis. Jadi saya dinasnya tengah malam pukul 02:00 sampai pukul 03:00,” kenangnya.

Pertemuan Meri dan Hoegeng, saat itu berpangkat Mayor Angkatan Laut, bermula dari sebuah sandiwara radio yang berjudul Saija dan Adinda,  cerita yang disadur dari novel Max Havelaar karya Multatuli. Sebelumnya, cerita ini disiarkan Radio Militer Aldo. Sandiwara ini ditampilkan ulang di RRI atas permintaan Presiden Soekarno. Meri dan Hoegeng kemudian terpilih mengisi suara kedua tokoh cerita tersebut. “Kebetulan yang pengisi suara pria Hoegeng. Karena ini memang cerita cinta, lama-lama karena latihan terus jadi betul. Di sana kita main betul-betul baik, sehingga Bung Karno juga memuji kami,” kata Meri.

Saking seringnya bertatap muka, hubungan mereka semakin erat. Hoegeng selalu mengantar-jemput Meri menggunakan sepeda Fongers. “Waktu itu Papa  masih pakai sepeda. Saya selalu dibonceng, dijemput di RRI, kembali. Lalu tidak lama kemudian kita nikah. Kami nikah 30 Oktober 1946 di Yogyakarta. Tidak lama kita kenalan.”

Dari pernikahan ini, Hoegeng dan Meri dikaruniai tiga anak, Reni Soerjanti Hoegeng, Aditya Soetanto Hoegeng dan Sri Pamujining Rahayu. Sebelum menikah, Hoegeng berpesan agar Meri menjadi isteri yang kuat.  “Dia bilang, asal kamu tahu saya orang yang sangat keras dengan prinsip, idealis. Dia bilang, saya hanya minta kejujuran. Lalu dia juga cerita bahwa barisan belakang itu-wanita-ibu harus kuat. Kamu harus memperlihatkan bahwa kamu bantu saya. Kehidupan kami sangat sederhana. Apa yang kita dapat waktu itu sebagai mahasiswa,” imbuhnya.

Hanya sehari Meri menjadi isteri Mayor Angkatan Laut. Esoknya, Hoegeng telah mengabdi sebagai perwira polisi yang tengah menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK). Mereka tinggal di Jalan Jetis Yogyakarta, di sebuah garasi milik Kepala Polisi Perairan saat itu, Sudharsono. “Sangat sederhana, tidak ada lampu, langsung genteng, lampu minyak tanah. Jadi kalau bangun pagi-pagi itu hidung hitam.. Jadi saya mulai dari permulaan saya mengerti hidup yang keras,” jelasnya.

Di Yogya, Meri dan Hoegeng tinggal selama 8 tahun. Dalam rentang waktu itu, Meri seolah digembleng untuk hidup sederhana oleh pria kelahiran 92 tahun silam ini.  “Jangan lihat ke atas, jangan lihat ke selilingmu. Jaga dirimu sendiri, syukur dan sabar. Tidak bermewah-mewah. Kalau saya pikir, oh meraka punya itu ya, mereka punya ini, kan tersiksa sendiri,” kata Meri menirukan pesan Hoegeng.

Bahkan, saat anak pertama mereka lahir, Hoegeng sempat menolak pemberian tempat tidur dari orangtua Meri. Meski saat itu, mereka tidak punya cukup uang untuk membeli tempat tidur. “Dia menghendaki saya tidak boleh minta sumbangan dari ibu saya, tidak boleh ditolong dari ibu. Kamu harus bisa sendiri, bagaimanapun juga. Suatu contoh yang saya tidak lupa, sesudah setahun menikah anak kami yang pertama lahir tahun 1946 Desember. Kita tidak mempersiapkan tempat tidur untuk bayi, hanya bangku panjang dan tempat tidur kita. Lalu ibu saya mengirim tempat tidur untuk satu orang, sederhana, dia takut saya mantunya. Langsung ditanya dari mana, saya bilang dari mama. Lalu dia tanya, mama beli berapa, dia mau bayar kembali. Sampai ibu menangis, begitu dia. Jadi dari yang sekecil-kecilnya, dia mau mendidik untuk terima seadanya. Kita harus bersukur dengan apa yang ada. Itu yang saya pegang sampai sekarang,” ungkapnya.

Didikan itu lah yang masih membekas di benak Meri. Bahkan saat menerima uang pensiun sebesar Rp 10 ribu per bulan hingga 2001, Meri berbesar hati. Kini, isteri pensiunan Jenderal Polisi Bintang Empat ini menerima Rp 1,100,000 per bulan.

Sebelum memimpin Korps Bhayangkara, Hoegeng antara lain pernah menjabat Kepala Reserse dan Kriminal Kantor Polisi Sumatera Utara sampai Sekretaris Kabinet era Presiden Soekarno. Setelah Soekarno lengser, Hoegeng ditunjuk sebagai pengganti Menteri Panglima Angkatan Kepolisian, Jenderal (Pol.) Soetjipto Joedodihardjo. Meski segudang jabatan mentereng pernah ia peroleh, Hoegeng tetap hidup sederhana.

Dia menolak berbagai fasilitas kedinasan dan memilih tinggal di sebuah rumah kontrakan di bilangan Menteng, Jakarta Pusat. Aditya Hoegeng menceritakan, “Kalau dipikir, kita sebagai anak dan ibu sebagai isteri. Itu mungkin ya dibilang nyesel dan kecewa. Kita tidak pernah menjadi anak pejabat itu tidak merasakan. Karena semua fasilitas itu tidak diberikan. Anak-anak tidak berani, minta sepeda saja tidak berani.”

Hoegeng tidak ingin isteri dan anak-anaknya menggantungkan diri pada sebuah jabatan, begitu ucap Didit, panggilan Aditya. Kepada Didit, hal itu ditunjukan saat ia ingin menjadi Taruna Akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Ketika itu, Didit mendaftar di Komando Daerah Angkatan Udara (Kodau) V, Jalan Tanah Abang, Jakarta Pusat. Setelah memenuhi berbagai syarat, pengujian dan berpeluang masuk AKABRI, Didit diperintahkan untuk membawa surat izin orangtua. Pasalnya, Didit adalah anak lelaki satu-satunya dalam keluarga. Namun, pria tinggi kurus ini menolak memberikan surat izin tersebut hingga masa pendaftaran usai.

Sikap itu sontak membuatnya marah. Saking marahnya, Didit menggunting semua ujung kuas lukis milik  Hoegeng dan mogok berbicara. Hoegeng lalu menjelaskan alasan mengapa tidak memberikan izin tersebut. “Tetapi saya tidak mau lihat muka beliau. Sudah kesal. Dia bilang begini Dit, saya tahu kamu marah, saya tahu kesal. Tetapi tolong dengar dulu apa yang saya mau bicarakan. Sesudah itu kamu ngomong. Dit, dari hati saya yang paling dalam, sudah cukup saya saja yang merasakan ini semua (menjadi pengabdi negara), kedua mulai dia pukul meja, kamu harus tahu saya saat ini Kapolri, jadi surat apapun yang saya keluarkan, entah izin orangtua saya harus menulis nama dan jabatan lengkap. Dengan surat itu, kamu pasti dapat kemudahan di Akademi Militer. Tidak ada cerita, titik. Sekarang kamu ngomong dit, mau ngomong apa lagi, sekian dan wasalam sudah,” kenangnya.

Sebagai polisi, Hoegeng sangat mencintai pekerjaannya. Sekalipun telah menjabat Kapolri, dia tidak sungkan untuk turun mengatur lalu lintas.  Suatu saat Aditya pernah dimarahi saat melarang ayahnya mengatur lalu lintas Ibu Kota.  “Dia marah sekali sama saya. Mengapa malu kamu? Walaupun saya Bintang Empat. Tetapi tugas dasar saya adalah seorang polisi. Masalah kemacetan pun, kalau tidak ada anggota, saya harus turun tangan,” ceritanya.

Selain dikenal tegas, Hoegeng juga memiliki integritas. Dia sempat menolak hadiah berupa scooter Lambretta sampai  mobil Mazda dari sebuah perusahaan. Bahkan ia menolak dibayari makan, kenang Didit. “Pernah sewaktu saat, kakak saya sekolah di Bandung. Kita mau lihat mbak Reni ke Bandung, kita pakai kendaraan lewat Puncak. Ibu kebetulan habis operasi, jadi harus sering makan. Kita berhenti di Cipanas, kita makan. Waktu kita mau bayar, kasir bilang pak tidak usah karena sudah dibayar. Bapak marah bukan main. Sejak saat itu kalau keluar kota tidak ada lagi berhenti-berhenti di jalan. Sebab dia tidak mau, dia menjaga, orang nanti bilang saya sudah bayari pak Hoegeng makan. Dia tidak mau.”

Sejak saat itu, Meri selalu membawa bekal, seperti lemper saat bepergian jauh.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!