[SAGA] Kredit Jamban di Kampung Kantalarang

Menurut Ela, banyak warga di desanya yang tak memiliki kamar mandi dan jamban pribadi. Itu mengapa sungai di sini jadi tumpuan untuk mandi, cuci, kakus.

Jumat, 10 Nov 2017 14:40 WIB

Siti Nurlaelasari memperlihatkan jamban pribadinya. Foto: Gilang Ramadhan/KBR.

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}

KBR, Jakarta - Langkah kaki Siti Nurlaelasari sangat cekatan menuruni jalan setapak yang curam dan licin. Perempuan 36 tahun ini  hendak berjalan menuju aliran sungai yang biasa digunakan untuk buang hajat. Ia dan anggota keluarganya sudah terbiasa jalan ratusan meter hanya untuk buang air besar.

Sungai yang dituju Ela itu, berada di tengah areal perbukitan yang dipenuhi semak belukar. Dangkal dengan lebar satu meter. Tak ada dinding penghalang saat difungsikan sebagai jamban. Hanya ada bebatuan untuk pijakan kaki. Sementara air akan mengalir ke Sungai Cikanik, Bogor.

Kampung Kantalarang yang saya datangi ini berada di Desa Leuwibatu, Kecamatan Rumpin, Bogor.

Ela bercerita, sudah belasan tahun tak memiliki kamar mandi dan jamban pribadi. Itu mengapa, ia kerap khawatir pada anak-anaknya kalau ke sungai untuk buang hajat —yang berjarak 200 meter dari rumah.

Pasalnya, akses jalan menuju sungai kian licin jika hujan turun. Plus tak ada penerangan apapun.

“Takut ada binatang seperti ular, babi hutan. Terus lagi ramai penculikan. Makanya kalau ingin buang air, saya antar,” ucap Ela.

Hingga pada akhir 2016, ibu dua anak ini mengajukan dana pinjaman dari Koperasi Karya Usaha Mandiri (KUM) Syariah untuk membangun jamban sebesar Rp. 5,9 juta. Selama setahun ia harus mengangsur Rp. 118.500 perminggu.

Sedang untuk air, dia memanfaatkan air tanah dengan dialirkan menggunakan selang. Ela pun menyadari, kamar mandi  dan jamban pribadi penting demi kesehatan seluruh keluarganya.

“Manfaatnya jadi lebih baik. Jadi sekarang enggak gatal-gatal. Petugas juga kasih tahu kamar mandi lebih bersih. Kalau di kali airnya kotor. Kalau cebok di situ, jadinya gatal,” sambungnya.

Selain meminjam untuk kredit jamban, Ela juga pinjam untuk usaha berjualan telur ayam. Sebagian uang pinjaman itu, dipakai membeli sepeda motor untuk memudahkan mobilitas mereka.

Suaminya, Sopian Abdullah, kerja serabutan menjadi buruh tani atau kuli bangunan.

Menurut Ela, banyak warga di desanya yang tak memiliki kamar mandi dan jamban pribadi. Itu mengapa sungai di sini jadi tumpuan untuk mandi, cuci, kakus.

Tapi, tak semua warga bisa meminjam uang untuk membangun jamban pribadi. Seperti Siti Maria Ulfah. Perempuan 25 tahun ini tak sanggup membayar cicilan. Pasalnya, kini ia masih dibebani pinjaman membangun rumah —yang mana minim kamar mandi dan jamban.

“Kalau untuk bangun jamban butuh uang. Jadi enggak terkejar cicilannya,” tutur Ulfah.

Ibu satu anak ini mengaku belum membutuhkan kamar mandi dan jamban pribadi. Padahal ia dan keluarganya bisa enam kali ke sungai untuk mandi, mencuci, dan buang air besar.

“Kalau buang air besar ke sungai, nyuci piring juga. Itu sampai lima atau enam kali,” sambungnya.

Kondisi inilah yang mendorong LSM Water.org menggaet pemerintah daerah setempat juga 14 lembaga keuangan agar memfasilitasi akses air bersih dan sanitasi. Salah satunya Koperasi Karya Usaha Madiri (KUM) Syariah. Manajer Program Water Credit di Water.org, Kiki Amalia Tazkiyah, menyebut progam pinjaman untuk pembangunan sarana air dan sanitasi telah merambah 42 ribu rumah.

“Kami berharap semua orang memiliki akses air yang layak dan sanitasi. Makanya kami bekerja sama dengan lembaga keuangan untuk mendapatkan akses terhadap air bersih dan sanitasi,” terang Kiki.

Sementara itu, Direktur Koperasi Karya Usaha Madiri (KUM) Syariah, Murthado, mengatakan warga yang mengambil kredit jamban tak perlu menjaminkan apapun. Ini demi memudahkan mereka.

“Dari awal tidak pernah meminta jaminan dan penjamin. Baik yang produktif maupun investasi. Mengapa? Salah satu kelemahan masyarakat miskin adalah tidak punya jaminan. Lalu jaminannya apa? Harga diri saja saya minta,” ungkap Murthado.

Program kredit jamban yang digulirkan sejak 2016 ini sudah menghasilkan 1.195 sanitasi dengan biaya Rp4,3 miliar. Capaian tersebut berasal dari 17 daerah yang ada di Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Di sisi lain, Kasubdit Sistem Penyediaan Air Minum Perdesaan, Direktorat Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum, Kementerian PUPR, Tanozisochi Lase, menyebut pemerintah tak bisa bergerak sendiri dalam menyediakan akses air bersih dan sanitasi di masyarakat.

Target seratus persen layak sanitasi pada 2019. Tapi hingga 2016, baru tercapai 76,37 persen di seluruh Indonesia. Menurutnya, untuk mencapai target seratus persen perlu kolaborasi dengan LSM dan lembaga keuangan seperti saat ini.

“Karena persyaratan mendapat pinjaman agak ribet juga. Nah kami kolaborasinya di situ. Water.org ini sudah banyak lebih dari seratus desa, dan akan kami kembangkan,” ujar Lase.

Editor: Quinawaty

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polisi Selidiki Penadah dan Penyuplai Hasil Pendulang Emas Ilegal di Freeport

  • Bappeda DKI: Anggaran Kunker DPRD Naik Karena Djarot
  • Presiden Minta Malaysia Impor Beras Dari Indonesia
  • Kejati Tahan 2 Tersangka Mark Up Alat Tangkap untuk Nelayan di Mandailing Natal

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"