[SAGA] Trauma Anak-anak Teluk Jambe, Karawang

“Kemarin sore ada kejadian menarik, kita ajarkan sholat. Pas sholat dan berdoa bareng-bareng, ada yang berdoa, semoga ayah saya keluar dari penjara, bikin terenyuh saja,” ujar Solihatun.

Rabu, 16 Nov 2016 15:30 WIB

Anak-anak petani Teluk Jambe Barat, Karawang yang mengungsi di kantor LBH Jakarta sedang bermain bersama relawan Bandung Social Society. Foto: Yudi Rachman/KBR

AUDIO

{{ currentTime | hhmmss }} / {{ track.duration / 1000 | hhmmss }}



KBR, Jakarta - Belasan anak tengah berkumpul di halaman kantor LBH Jakarta. Mereka tertawa terbahak-bahak menonton film kartun yang disuguhkan aktivis Bandung Social Society.

Bandung Social Society adalah lembaga yang membantu bocah-bocah itu agar pulih dari trauma akibat kekerasan yang menimpa keluarga mereka pada 11 Oktober lalu. Di sana, mereka juga diajak bernyanyi dan bermain.

Salah satu anak berusia tujuh tahun –sebut saja namanya Dewi, tak henti-hentinya menanyakan sang ayah –yang hingga kini masih ditahan Kepolisian Karawang atas tudingan pengeroyokan.

“Bunda bohong om, katanya bunda ayah tidak demo. Tapi bunda ngomongnya pelan," katanya merajuk.

Menurut sang ibu, putrinya tersebut sempat mengalami nyeri pada saraf lehernya dan demam. Bahkan, si anak menyaksikan sendiri ayahnya ditangkap dan ditahan aparat keamanan.

Namun, tiap kali ditanya kemana ayah? Jawabannya; ayah sedang pergi untuk aksi demo.

“Mau nungguin ayah saja. Nunggu ayahnya pulang.”

Dewi, adalah anak ke-empat dari pasangan Yuli dan Entai –keluarga petani dari Desa Wanajaya, Teluk Jambe Barat. Kala peristiwa 11 Oktober lalu terjadi, rumahnya ikut dihancurkan dan kebunnya dibulldozer petugas keamanan PT Pertiwi Lestari karena menolak pindah.

Solihatun, pendamping dari Bandung Social Society menyebut, beberapa anak mengalami trauma berat. Itu terlihat saat sesi tertentu yakni dengan berdoa, bocah-bocah itu kerap melantunkan doa yang isinya agar keluarga mereka dibebaskan.

“Kemarin sore ada kejadian menarik, kita ajarkan sholat. Pas sholat dan berdoa bareng-bareng, ada yang berdoa, semoga ayah saya keluar dari penjara, bikin terenyuh saja,” ujar Solihatun.

Selama proses pemulihan trauma, anak-anak yang tinggal di kantor LBH Jakarta begitu dijaga supaya ramah anak dan tak membahayakan. Pasalnya tempat penampungan sementara itu, pengap dan kotor. Dampaknya, dua bocah kena TBC.

Saban pagi dan sore pula, kegiatan menggambar dan bermain, dilakukan secara rutin.

Kisah pilu juga menimpa Neni. Saat peristiwa bentrok 11 Oktober terjadi, ia tengah mengandung delapan bulan.

Hingga akhirnya, pekan lalu, ia melahirkan di lokasi penampungan, sementara suaminya masih ditahan Kepolisian Karawang atas sangkaan pengeroyokan terhadap pegawai PT Pertiwi Lestari.

Kondisinya kini mulai membaik dan dirawat di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta. Bayi lelaki yang dilahirkan dinamai Agrariawan Susanto. Dengan terisak, Neni menyimpan harap suaminya bebas.

“Saya sudah pasrah, karena kita dalam perjuangan membela hak kita dalam keadaan kondisi apa pun kita harus kuat. Apalagi suami saya mau cepat-cepat keluar. Kami hanya ingin minta keadilan saja, apalagi sekarang saya sudah melahirkan, tambah lagi satu orang anak, siapa yang akan menafkahi,” kata Neni terisak.

Neni pun masih ingat, saat-saat suaminya ditangkap hingga kebun jeruknya yang siap panen dihancurkan bulldozer.

Kini, ia masih belum tahu bagaimana melanjutkan hidup dengan kondisi tanpa suami. Untuk membayar biaya rumah sakit pun, dia tak tahu. Agak beruntung, karena belakangan ada jaminan dari relawan dan pihak Kementerian Sosial.

“Kami sangat berterima kasih pada yang memihak kita. Pihak dari Karawang kan tidak ada yang mengasihi, pemerintah Karawang itu kejam, tidak ada adilnya kepada masyarakat kecil,” sambung Neni.

Sempat ada rencana, Neni dan anaknya, pulang ke kampung halamannya di Tasikmalaya. Tapi, niat itu urung dilakukan lantaran sang suami masih mendekam di bui.

Sembari menunggu kejelasan atas status hukum suaminya, ratusan petani Teluk Jambe Barat, dipindahkan ke penampungan sementara Asrama Haji. Untuk kemudian, tinggal di Rusunawa Adiarsa Barat –yang sempat mangkrak sehingga perlu diperbaiki selama dua minggu agar siap huni. Pemda juga akan menjamin pekerjaan, kesehatan dan pendidikan anak-anak itu.




Memulangkan Petani Karawang

Juma, petani berusia 35 tahun, sudah dua bulan tinggal di rumah barunya di pinggir Kalimalang, Karawang. Rumah 5x4 meter itu dia beli dengan uang kerohiman senilai Rp30 juta dari PT Pertiwi Lestari --perusahaan yang merampas tanahnya di Teluk Jambe Barat, Karawang. Namun di sini, hidup Juma sekeluarga tak lebih baik.

"Untuk kebetahan, istilahnya cari nafkah untuk anak isteri saya, justru enak tinggal di sana, dekat hutan. Walaupun istilahnya tinggal dekat hutan," kata Juma.

Ukuran bedeng ini hanya setengah dari rumah lamanya. Di samping itu, kerja serabutan membuat pendapatannya berkurang drastis.

"Cuma 60 ribu perhari di sini. Kalau saya tinggal di hutan bisa lebih. Kadang-kadang 200-300 ribu bisa sampai. Soalnya pekerjaan saya istilahnya banyak posisi: potong kayu, bikin arang. Lebih gede penghasilannya. Kan kalau kerja begini terbatas, sehari segitu ya sudah."

Di Desa Wanajaya, Teluk Jambe Barat, Juma punya kebun jeruk seluas satu hektar yang dalam waktu dekat, bakal panen.

Tapi apa daya, kebun itu harus ia tinggalkan demi menyelamatkan nyawa. Sementara, perusahaan berjanji akan memberi uang pengganti untuk kebunnya. Akan tetapi, janji itu tak juga jadi kenyataan.

Keadaan serupa juga dialami para petani yang mengungsi ke Jakarta, pasca 11 Oktober lalu, rumah juga kebun mereka dirusak dan dibulldozer. Dan sejak itu pula, kira-kira seratusan jiwa; perempuan dan anak-anak, terpaksa tinggal di kantor LBH Jakarta dan Kontras.

Di pengungsian, sejumlah anak-anak mengalami trauma dan sakit. Seperti anak Yuli Asri yang mengalami syaraf tegang di leher.

"Dia tidak bisa tidur terlentang. Kalau dipaksa, semalaman dia nggak tidur. Dia nangis. Dia lehernya sakit, kepalanya sakit, dia bilang nyut-nyut itunya (syaraf) kencang sekali. Dia nengok ke kanan, kiri, atas, bawah nggak bisa," kisah Yuli.

Sementara itu, di rumah sakit, ada dua anak dan satu lansia yang terkena Infeksi Saluran Pernapasan Atas. Satu ibu baru melahirkan dan bayinya masuk ICU.

Selama itu pula, Pemerintah Kabupaten Karawang tak pernah sekali pun menjenguk warganya. Barulah pekan lalu, rombongan Pemda datang sambil membawa bantuan logistik. Itu pun setelah pendamping para petani mengadu ke Kementerian Sosial.

Rombongan Pemda terdiri atas asisten daerah, sejumlah camat dan lurah, juga Dinas Sosial. Mereka bertemu perwakilan petani serta organisasi pendamping Serikat Tani Nasional, KontraS, LBH Jakarta dan Satgas Perlindungan Anak.

Dari pertemuan itulah, disepakati adanya dialog pada Kamis lalu, di kantor Pemkab Karawang.

Kamis, 10 November, di kantor Pemkab Karawang. Perwakilan petani dan pendamping akhirnya bertemu Bupati Cellica Nurrachadiana dan Muspida. Pertemuan selama dua jam itu berlangsung alot.

Sebab Pemda hanya ingin membahas upaya pemulangan dan bukan konflik tanah antara petani dengan PT Pertiwi Lestari. Bupati pun sempat tersinggung setelah disentil soal hak asasi manusia.

"Kalau kita bicara masalah hak asasi manusia, jangan hanya satu dua belah pihak, banyak kepala daerah yang langsung ngusir-ngusir, tanpa adanya proses mediasi. Kalau ngomong pemerintah daerah kok sebagai mediator bukan sebagai penentu, kami bukan Tuhan. Dan saya bukan yang berwenang untuk mengambil kebijakan urusan apapun, karena kita punya Tupoksi masing-masing. Masalah tanah ya masalah agraria yang bukan masalah Pemda. Coba hargai niat baik kami juga," kilah Bupati Cellica.

Bupati akhirnya sepakat memulangkan warganya hari ini. Mereka akan ditampung sementara di Asrama Haji sebelum dipindah ke Rusunawa Adiarsa Barat. Rusunawa ini sempat mangkrak sehingga perlu diperbaiki selama dua minggu agar siap huni. Pemda juga akan menjamin pekerjaan, kesehatan dan pendidikan anak-anak itu.

Namun Madhari, pemimpin Serikat Tani Teluk Jambe Bersatu, tidak sepenuhnya puas dengan rencana tersebut. Pasalnya, Rusunawa bukanlah jawaban. Sebab, tinggal di Rusunawa sama saja memulai kehidupan dari awal.

"Dibandingkan relokasi atau tempat tinggal awal, ya kita lebih memilih tempat tinggal awal. Artinya kita tak perlu membuat rumah lagi, tidak perlu bermodal dari nol lagi. Sudah ada rumah, tanaman kita, dan ternak kita. Istilahnya pangabetah kita sudah di sana, rasa senang dan cinta terhadap kampung halaman itu sudah ada di sana," ucap Madhari.

Pilihan agar pindah ke Rusunawa seperti Mahdari, atau mengambil uang kerohiman seperti Juma, keduanya tak memberikan harapan. Juma mendengar Dinas Pengairan akan melebarkan kali di depan rumahnya dalam beberapa tahun mendatang. Artinya, dia harus bersiap digusur kembali.

"Urang pindah ke sini sudah sebulan, terus beprikir ini gimana saya beli tanah segini mahal. Gimana kalau ini mau cepat-cepat digali, lumpurnya ditarik ke sini? Saya digusur lagi. Sedangkan ini kan nggak ada tanggung jawabnya," tutup Juma.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Disebut Dukung HTI, Menpora Segera Panggil Adhyaksa

  • Diprotes Imvestor, Presiden Sentil 2 Menteri
  • KPPU: 5 Perusaah Atur Tata Niaga Beras di Sejumlah Provinsi
  • Indonesia Gandeng Azerbaijan Buat Pusat Pelayanan Terpadu

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.