Direktur Bank Sampah Rosella, Endarwati (kanan). Foto: Eli Kamilah/KBR.

KBR, Jakarta - Jam menunjukkan pukul 09.30 WIB. Perempuan berusia 40 tahun, Endarwati, sudah sibuk di tengah tumpukan sampah.

Tapi jangan salah sangka, ia bukan pemulung. Endar begitu ia disapa, menjadikan tempat pengolahan dan penampungan sampah itu sebagai ruang kerjanya.

Ia menamakannya; Bank Sampah Rosella. Bersama tiga kawannya, Endar didaulat menjadi Direktur Bank Sampah Rosella.

“Jadi saya merasa ada kepuasaan batin. Dulu juga ada yang bilang ngapain ngurusun sampah. Dulu waktu sebelum ini, saya bener-bener kaya gembel. Jadi memang dari hati. Saya seneng saja.”

Bank Sampah itu terletak di Jalan Citayam II Kelurahan Rawa Barat, Jakarta Selatan.

Setiap bulannya, bank sampah yang berada di perumahan elite itu menerima hingga 150 kilogram sampah kering dan rumah tangga.

“Kalau sampah rumah tangga sebulan paling tiga kilogram satu rumah. Tetapi ada juga yang 40 kilogram kalau dia bersih bersih turun majalah. Dari 165 nasabah sebulannya bisa mencapai 100-150 kilogram,” ungkap Endar.

Biasanya, sampah-sampah tersebut diolah menjadi kompos dan kerajinan tangan atau suvenir untuk kemudian dijual dan menghasilkan pundi-pundi uang.

Tapi tak hanya itu saja, sampah di sana bisa ditukar dengan emas. “Saya punya inovasi dan berawal dari salah satu ibu dan kita lagi bincang-bincang. Terus dia ngobrol saat ini kita nggak mungkin beli emas, karena harganya sudah tinggi. Terus saya bilang gini saja, 'nabung jangan diambil, ntar kita beli emas'.”

Ide sampah jadi emas, muncul dari obrolan ringan dengan salah satu nasabah Endar. Ia lalu terpikir untuk menyicil emas lewat pengadaian. 

“Pas saya ke pegadaian ternyata bisa tapi ada sistem tabungannya. Ada perorangan dan kelompok. Kalau kelompok susah juga ya. Ya udah saya coba."

Berangkat dari ide itu, ia pun mengajak beberapa nasabah di Bank Sampah Rosella agar mengikuti jejaknya.

Salah satu nasabah yang mulai menyicil tabungan emasnya Siti Chaeronah. Ia bercerita, seumur-umur tak bermimpi punya emas batangan. "Caranya kalau cicilan kita bisa jadi emas. Saya memang sudah jadi anggota situ, cuma kan uangnya nggak dituker emas, jadi pas ada sistem ini saya mau saja."

Endar bercerita, hingga saat ini baru tiga nasabah yang mendaftar program sampah jadi emas. Ia menargetkan, ada lima hingga 10 orang yang ikut bergabung.

“10 atau lima saja udah seneng. Karena ini pertama. Kenapa mau emas batang, karena itu lebih gampang. Kalau kalung dan lainnya ntar beda-beda. Itu harus ke toko lalu tiap gramnya berapa, kadarnya berapa. Kalau emas murni itu terjamin. Kalau di situ (pengadaian-red) itu bisa nyicil, kalau ke toko emas saya harus tunai.”
 
Dalam catatannya, hingga kini ada 165 orang yang terdaftar menjadi nasabah Bank Sampah Rosella.

Tapi untuk mengikuti program sampah jadi emas, ada syaratnya; tiap nasabah harus mengumpulkan tabungan di Bank Sampah hingga Rp2,6 juta. 

“Perhitungannya satu batang emas itu Rp2,6 juta. Nasabah ini harus punya tabungan segitu. Tetapi ada hitungannya karena harga emas berubah-ubah. Jadi kalau nasabahnya seminggu udah ada 80 ribu ya saya masukin.”

Kini, Bank Sampah Rosella rutin menggelar pelatihan kerajinan tangan dari limbah sampah, Rosella juga mengepakkan sayap hingga ke bisnis suvenir dan hiasan pengantin dari limbah.

“Cita-cita pasti ada. Tetapi kami ingin menguwujudkan di sini dulu. Rencananya Senin-Jumat. Tetapi diputuskan Rabu. Jadi ada satu ibu yang meluangkan waktu untuk mengajar ibu ibu yang mau membuat bunga.”

Tujuan pelatihan ini sederhana saja; menyadarkan orang-orang untuk hidup sehat dan bersih.

“Dampaknya bagus kita menyosialisasikam orang untuk hidup bersih dan sehat. Kelurahan ini juga terangkat dengan penghijauan. Kita berharap juga ini menjadi sarana edukasi,” tutup Endar.




Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!