Pegiat Difabel Sri Lestari saat melintasi bidang miring di kantor KBR, Jalan Utan Kayu, Jakarta (Dok

Pegiat Difabel Sri Lestari saat melintasi bidang miring di kantor KBR, Jalan Utan Kayu, Jakarta (Dokumentasi KBR)

KBR - Sri Lestari memakai kursi roda. Dia mengendarai motor modifikasi dari Aceh sampai Jakarta. Jalan seribuan kilometer di Sumatera ditaklukkan. Tapi tak hanya di jalan, Sri juga kerepotan mencari penginapan yang ramah difabel. Jurnalis KBR Rio Tuasikal mengikuti Sri mencari hotel di Cilegon dan Jakarta. Termasuk berkunjung ke Kantor KBR dan Balaikota Jakarta.

Sri Lestari, Difabel yang berkendara motor dari Sabang Aceh Jakarta, baru saja sampai di Cilegon, Banten. Sri memarkir motornya di muka Hotel Sari Kuring Indah. Dia harus dibantu oleh tim perjalanannya untuk bisa masuk ke pintu hotel. Tantangan setelahnya adalah masuk ke kamar hotel.

Sri pun menuju ke kamar hotel untuk memastikan apakah kamarnya mudah diakses oleh para difabel. Di dalam kamar, Sri menggerakkan kursi rodanya hingga ujung kamar. Lalu dia masuk kamar mandi dan coba berputar di sana. Cukup lega, katanya.

“Aku ngelihatnya bukan karena bagusnya. Tapi aku ngelihatnya karena akses. Aku bisa masuk kamar mandi sendiri, aku bisa manuver di dalam kamar mandi gitu. Itu yang kucari. Syarat akses sepetinya sudah sih. Pintu-pintu lebar, terus wc jongkok dekat pegangan wastafel. Pintu masuk oke,” jelas Sri setelah mencek kamarnya.

Bagi difabel seperti Sri, mencari hotel bukan cuma masalah biaya dan lokasi. Sri bercerita, tak banyak hotel yang akses seperti ini sejak dari Aceh sampai di Cilegon. Sebab kebanyakan hotel memiliki banyak tangga, pintunya sempit, atau memakai toilet jongkok. Semua itu tidak mungkin bagi pengguna kursi roda seperti dirinya.

Menuju Jakarta

Kamis pagi, Sri Lestari melanjutkan perjalanan ke Jakarta, dan dia berharap menemukan hotel di ibukota akan jauh lebih mudah. Di Jakarta, Sri menyasar hotel yang berada tak jauh dari Tugu Proklamasi. Tapi Sri urung menginap di hotel yang berjarak tak lebih dari seratus meter dari kawasan Proklamasi, karena sulit diakses difabel seperti dirinya. Ruang kamar dan juga pintu yang sempit.

Bersama Sri ada Murni, anggota tim dari organisasi difabel Unites Cerebral Palsy Roda untuk Kemanusiaan (UCP RUK). Menurutnya hotel yang ramah terhadap difabel mesti meniadakan tangga atau menyediakan bidang miring yang mudah dijangkau para difabel. Tersedia lift, selasar dan kamar yang bisa leluasa dilintasi kursi roda. “Kemudian pintu untuk masuk kursi roda, pintu kamar dan pintu kamar mandi, kemudian manuver kamar mandi. Dia itu mau jalan ke kamarnya itu, muat nggak kursi rodanya. Lorongnya itu loh. Terkadang ini ada pintu masuk, ini kamar, ini ada meja rias, dia nggak bisa masuk. Sering sekali kami merubah posisi tempat tidur,” jelas Murni.

Sri lantas bergegas menyasar hotel selanjutnya yang berada tak jauh di sisi utara bioskop Megaria. Ini kali hotel lumayan mewah, lengkap dengan ruangan atau kamar khusus difabel. Tapi harganya tak bisa direken Sri, lebih dari Rp 2 juta per malam.

“Biasanya kalau roomnya memang difabel room itu biasanya akses. Karena saya merasa saya sudah nggak mungkin budgetnya masuk sana jadi saya nggak jadi cek. Terus difabel tidur di hotel hanya bisa orang kaya saja?,” kata Murni saat mendampingi Sri ke hotel ketiga.

Tim lantas mencari menyasar hotel ketiga. Berada dibilangan Menteng – Gondangdia, hotel yang diincar kali ini menyediakan bidang miring. Sementara kamarnya memadai untuk Sri berkegiatan dengan kursi rodanya. Saat itu pula, Sri memutuskan untuk bermalam di sana.

Keesokan harinya Sri Lestari memenuhi undangan KBR untuk berbagi kisah perjalanannya dalam program Sarapan Pagi KBR. Inti kisah yang disampaikan saat itu yakni memotivasi para difabel untuk bisa mandiri dan pemerintah memenuhi sarana dan prasarana yang memadai untuk mereka.

Selama di kantor KBR Jumat pagi itu, Sri mengapresiasi penyediaan bidang miring. Hanya saja karena kurang landai, Sri terpaksa didorong untuk bisa sampai ke studio siar kami. “Belum bisa sendiri. Karena di  pinggirnya ada bolong begini toh mbak, ada lubangnya. Terlalu miring. Ini sudah ada niat baik. Harusnya lebih landai. Nilai 7 buat kantor KBR. Setidaknya nggak harus diangkat. Bidang miring sudah cukup membantu,” jelas Sri sambil menunjukkan pegangan kanan dan kiri bidang miring di KBR yang terlalu jarang dan lebar.

Kata Sri, seluruh bangunan dan fasilitas kota wajib akses untuk difabel. Apalagi Indonesia sudah mengikuti konvensi hak-hak disabilitas. Itulah kenapa Sri lanjut bertemu Wakil Gubernur Jakarta Basuki Tjahaya Purnama untuk curhat masalah ini.                                         

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!