tragedi 65, putu oka sukanta, belo, PKI, portalkbr

KBR - Penyair Putu Oka Sukanta menulis kumpulan puisi berjudul Bulan di Atas Belo. Ini puisi mengisahkan pembasmian warga yang diduga atau dituduh terlibat dengan Partai Komunis Indonesia PKI pada era 1965. Tak banyak yang tahu, insiden pembantaian 65 juga terjadi di pelosok Nusa Tenggara Timur, selain di Jawa, Bali dan Sumatera. Jurnalis KBR Rio Tuasikal bertemu dengan Putu Oka Sukanta dan korban tragedi kemanusiaan di Sumba NTT.

#
Cerita Pendeta Yetty

Pandangnya menerawang jauh,
seolah meniti jalan setapak ke masa kecilnya
menyeberangi laut kembali ke kampung di Sumba.
Bola mata berkaca-kaca, sebelum bercerita.

“Saya mengintip, suatu pagi dingin,
penjara yang melantunkan lagu gereja
menyambut kematian dengan damai
penyerahan diri kepada penebus dosa.”

Yetty terdiam kembali, seolah mencari halaman masa lampau yang belum using tetapi direkat oleh kegamangan dan kekhawatiran.
“Seorang pendeta memimpin mereka bernyanyi,
para tahanan, tujuh belas orang sudah siap dibawa pergi ke pantai.”

Pendeta Yetty terdiam kembali.
sepi yang nyeri.
“Kemudian mereka ditembak mati, di tepi pantai sesudah diberkati sambil menerima bisikan:
-sakitnya sebentar saja-
mereka bernyanyi, sampai suaranya dihentikan peluru serdadu
yang dihidupi hasil petani yang ditembak mati.
Sampai ke ujung-ujung tanah air
darah mengalir
ditimbun lumpur banjir.


Penyair Putu Oka Sukanta membacakan karya puisi yang dibuatnya pada 2011 lalu di sela-sela perayaan “60 tahun Putu Oka Berkarya di Goethe Institute, Jakarta. Menurut Putu Oka, puisinya mengisahkan situasi kelam, pada saat tragedi pembantaian 1965 berlangsung.

“Pendeta Yetty pada waktu masih kecil, dia melongok ke penjara, karena rumahnya dekat dengan penjara. Dia dengar ada lagu mengantarkan orang masuk surga. Jadi dia pikir ada apa ini. Akhirnya dia longok. Ternyata pendeta memimpin lagu itu. Tahanan yang ikut menyanyi dan dipimpin oleh pendeta itu, kemudian dibawa oleh tentara ke tepi laut. Di situ masih menyanyi sambil menunggu letusan peluru yang menembus tubuhnya. Itu di Sumba, orang tidak pernah mengira bahwa korban 65 juga itu sampai ke Sumba,” kisah Putu Oka.

Menurutnya tak banyak orang yang tahu, tragedi 65 berlangsung hingga di pelosok Timur Indonesia, selain di Bali, Jawa dan Sumatera. Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, mayoritas warga memeluk Kristen Protestan. Di sana militer bekerjasama dengan pengurus gereja untuk memburu orang-orang yang dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia.

“Kalau kita berpikiran secara orthodoks bahwa gereja itu tempatnya orang-orang suci, pura itu tempatnya orang-orang suci, masjid itu tempatnya orang-orang beriman tinggi, lalu melakukan pembunuhan, memang kita akan terkejut. Orang yang taat beragama, tapi ketika diketahui seseorang itu diindikasi Barisan Tani Indonesia (BTI) dan lain sebagainya dia tak boleh ke gereja, anaknya tak boleh dibaptis. Kenapa?” tanya Putu Oka  retoris.

Setelah kemerdekaan 1945, BTI dikenal sebagai organisasi yang erat kaitannya dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Putu Oka bercerita, para pengurus gereja waktu itu dalam posisi yang sulit. Membunuh atau dibunuh. Hal serupa kata dia juga terjadi di seluruh Indonesia. Tapi hingga kini, korban dan juga pelaku sama-sama enggan berkisah. “Tidak hanya di Kupang, di Bali juga kalau Anda pergi ke desa orang takut bicara, di Kalimantan Tengah orang takut bicara, di Aceh orang menganggap tidak pernah terjadi pembunuhan,” jelas dia lagi.
 
Lewat puisinya, Putu Oka mau masyarakat tahu, insiden tahun 65 terjadi di hampir seantero Indonesia. Sehingga dengan begitu, pemerintah tak perlu sungkan untuk mengakui kesalahan masa lalu, meminta maaf untuk memulai lembaran baru. “Jangan takut melihat sejarah. Masa depan bisa bagus, kalau kita menjadikan masa lampau itu sebagai tulang punggung bangsa. Sebentar lagi Anda akan ketemu dengan satu orang dari Kupang. Saya sudah siapkan. Anda bisa ngomong lebih jauh mengenai Kupang, mengenai Belo,” katanya.

Putu Oka kemudian memperkenalkan dua perempuan asal Kupang, Mama Ina dan korban 65 Mama Henni. Keduanya menceritakan apa yang terjadi di Nusa Tenggara Timur pada 1965.

Baca lanjutan ceritanya: Puisi Bulan di Atas Belo (bagian 2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!