Kemah Rohis, upaya menangkal radikalisasi di sekolah. (Foto: Aisyah Khairunisa)

Kemah Rohis, upaya menangkal radikalisasi di sekolah. (Foto: Aisyah Khairunisa)

“Ya nggaklah, salah mereka bilang kita bibit-bibitnya teroris, salah,” kata Dini, siswa SMA yang menjadi peserta Perkemahan Rohis Tingkat Nasional 2014. 

Perkemahan yang digelar oleh Direktorat Pendidikan Islam Kementerian Agama memang dilakukan demi menangkal paham dan aliran radikal yang banyak menyusup ke siswa di Indonesia. 

Pada 2011 lalu, survei yang dilakukan di 100 sekolah menengah di Jakarta dan sekitarnya menunjukkan kalau hamper 50% pelajar mendukung cara-cara keras dalam menghadapi masalah moralitas dan konflik keagamaan. Survei dilakukan oleh Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) yang dipimpin oleh Bambang Pranowo, guru besar Sosiologi Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta. 

“Nggak mungkin lah kita diajari seperti itu. Nggak mungkin. Aku yakin jiwa Rohis Indonesia nggak seperti itu,” kata Dini lagi. 

Guru Agama Islam di SMAN 4 Palu, Sulawesi Tengah, Khadijah Alhasni hadir juga dalam acara Perkemahan Rohis ini. Kata dia, salah cara untuk menjauhkan paham radikal terorisme dari kelompok Rohis adalah dengan toleransi antar agama. 

"Misalnya ada kegiatan untuk Islam, kalau ada hal-hal yang diperlukan, misalnya paduan suara, maka itu biasa kita ambil anak-anak non muslim untuk ikut sama-sama,” jelas Khadijah. 

“Itu cara kita ajarkan toleransi. Non muslim biasanya juga legowo untuk bantu.”

Tak hanya itu, Khadijah bahkan menyarankan anggota Rohis untuk memenuhi undangan sembahyang dari siswa beragama lain tanpa bertujuan untuk beribadah bersama.

“Di OSIS ada Bidang Rohis (Islam), Rokris (Kristen), Rohin (Hindu). Biasanya kalau di kita ada Persekutuan Pelajar Kristen, itu kan ada agenda Natal bersama. Itu kan semua diundang termasuk Rohis. Caranya untuk menghargai mereka datang, undangannya diterima, tapi tidak masuk ke gereja. Cukup di luar. Menghargai undangan.”

Khadijah mengajak empat siswanya dari SMAN 4 Palu untuk ikut Perkemahan Rohis ini. 

Salah satu anggota Rohis SMAN 4 Palu, Zulkifli membenarkan, cara seperti ini bisa mempererat kebersamaan antarumat beragama.

"Jadi saling menghagai lah. Dan apabila mereka ajak kita ke acara keaagamaannya, kita harus mengikuti, tapi bukan untuk menyembah apa yang dia sembah tapi hanya untuk menghargai,” jelas Zulkifli. 

Salah satu pejabat di Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Muhammad Ichsan Fahmi mengatakan, perkemahan ini penting untuk menangkal paham radikal dan mempererat toleransi bagi anggota Rohis se-Indonesia. Sebanyak 1500 murid Rohis SMA/SMK dibekali materi dan kegiatan outbound untuk mempererat kekerabatan siswa muslim dari berbagai daerah.

“Anak SMA sudah lebih siap untuk jadi mahasiswa, dilepas ke masyarakat. Mereka harus diarahkan. Jangan salah arah loh. Islam yang mana sih yang baik buat kita,” kata Ichsan menjelaskan. 

Salah satu penanggung jawab acara kemah ROHIS, Sudarjat mengatakan selain murid, para pembimbing juga penting untuk diberikan pembekalan materi deradikalisasi.

"Karena ketika berbicara pembinaan di sekolah yang paling penting pembimbingnya. Kalau pembimbingnya sudah multikulutur pasti mereka membimbing ke multikultur. Kalau pembimbingnya radikal maka pasti dibawa ke radikal. Maka tadi seminar radikalisme lebih difokuskan ke pembimbingnya"

Perkemahan Rohis ini berlangsung dari tanggal 12 sampai 15 November 2014. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!