malapraktik, klinik, metropole, dokter, portalkbr

KBR - Data Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) menunjukkan terjadi peningkatan laporan kasus malapraktik. Tahun sebelumnya rata-rata terlapor 40 kasus, sementara tahun ini, hingga Oktober sudah masuk 50 kasus. Tapi kasus yang para korban alami kerap menggantung, mandek di tangan penyidik kasus, juga terganjal arogansi organisasi kedokteran. Di sisi lain, sejumlah pihak tergiur mencari laba dari derita para korban. Simak laporan SAGA yang disusun reporter KBR Ninik Yuniati.

#
Kejadian naas itu berlangsung pada 2011 lalu. Persisnya saat Yuni menyambut kehadiran buah hati yang kedua. Agar proses persalinan lancar, Yuni rutin memeriksakan kandungan saban bulan. Seperti saat usia kandungannya masuk 7 bulan. Ia pergi ke Rumah Sakit Anggrek Mas di Jakarta Barat.

“Pas saya datang ke RS-nya itu, ngambil nomor, suruh tunggu sebentar. Nggak dicek darah, nggak di-USG ulang, ditimbang juga nggak. Langsung dimasukin ruang ganti ibu hamil, langsung disuruh ganti baju operasi. Tanpa kasih tahu, harus hari itu juga saya dioperasi. Langsung main pasang kateter aja. Saya bilang ama perawatnya, kok pasang keteter, Sus. Ya ini harus dioperasi. Kok dioperasi, kan saya belum nanya sama orang tua. Soalnya kata dokternya, ibu anaknya sungsang. Kok sungsang, kan belum waktunya, perhitungan saya, saya waktu cek di RS Budi Kemulyaan, hitungan dokternya antara Juli atau nggak Agustus.”

 Tak berdaya, Yuni yang ditemani kedua orang tuanya, menjalani operasi cesar. “Udah operasi, belum keluar dari pintu operasi tiba-tiba saya bangun. Entah ngeluh, sakit, panas semua badan nih. Kata dokternya, kenapa? Aduh, Dok saya nggak tahan, panas banget perut saya Dok, kayak ada api di perut saya. Saya pegang semua badan saya, pas saya lihat, kok darah, banyak banget, kenapa dok? tolong jangan kemana-kemana. Panggil ortu saya, Dok. Aduh mungkin ini yang terakhir. Saya tarik korden jendela. Jangan panggil ortunya, kita harus operasi ulang nih.”

Perut Yuni kembali dibedah, Ia tak sadarkan diri selama hampir 2 bulan. Djubaidah, ibu Yuni terus menemani dan berupaya menenangkan anaknya. Apalagi setelah rahim Yuni diangkat. “Akhirnya dia panggil lagi saya dokter tuh. Minta supaya rahimnya diangkat. Kok rahimnya diangkat. kasihan anak saya, masih kecil, masih muda, kok rahimnya nggak ada. Iya memang harus diangkat rahimnya supaya Yuninya nggak pendarahan terus. Tapi namanya kita ingin anak sehat kan, ya menurut dokternya lebih baik seperti itu ya silakan aja,” jelasnya.

Tapi Yuni tak kunjung sembuh. Dokter lantas angkat tangan, dan merujuknya ke Rumah Sakit Thamrin di Jakarta Pusat. Sementara keluarga yang ingin Yuni sembuh pun cari pinjaman sana-sini. Saat itu, yuni butuh ratusan juta rupiah untuk bisa sembuh.

“Di Thamrin itu, yang diinikan penyakit anak saya itu bukan penyakit operasi. Ya ngobatin mereka itu, ginjal, anak saya pernah cuci ginjal dua kali, paru ginjal saraf, ginjal yang sering, transfusi darah dua kali, yang bayarnya gede-gede. Kalau tebus obat sehari itu paling sedikt dua juta,” tambahnya.

Tapi Yuni tetap koma. Dokter di rumah sakit kedua juga menyerah. Ayah Yuni, tak kuat menanggung pedih. Ia menutup mata, tanpa sempat menyaksikan anaknya membuka mata.

“Saya ngeliat di samping nih Bapak. Bapak ada tapi saya nggak tahu kalau Bapak udah meninggal. Terus pas mau, masuk ruang operasi, ganti tempat tidur diangkat, bapak yang ngangkat. Saya tanya ibu, orang bapak ada di Bima, nggak di sini. Tapi tadi yang ngangkat ini ayah bu, ayah tadi. Terus pas saya sadar dari operasi, ayah yang cidukin madu di mulut saya. Entah benar atau nggaknya, mungkin halusinasi saya.”

Jalan terang mulai tampak. Yuni dirujuk ke Rumah Sakit Pelni. Di rumah sakit ini terkuak misteri penyebab penderitaan Yuni, yakni kain kassa sepanjang dua meter yang melilit usus Yuni.

“Kok perut saya yang sebelah kanan buncit, gedhe. Itu makanya saya nggak bisa tengok kanan, tengok kiri, cuman telentang begitu aja. Pas dicek bener-bener ama dokter kebidanannya, cuman di USG doank, dilihat bentuk kain kassanya tuh udah ketauan. Udah ngelilit di usus. Selesai dioperasi itu, baru saya bisa jalan. Baru saya bisa ngomong lancar. Tadinya ngomong kayak orang gagu. Pas keluar dari kain kassa itu, aduh lega banget kayak gimana sih. Bayangin, kain kassa kejepit usus.”

Tahu jadi korban malapraktik, Yuni meminta pertanggungjawaban dua dokter yang mengoperasinya. Kedua dokter menolak, Yuni lantas melaporkan kasusnya ke Kepolisian, Komnas Ham dan LBH Jakarta, bahkan sampai ke Joko Widodo. “Saya modal nekat, lari ke Pak Jokowi, kata Pak Jokowi harus ke asisten saya dulu bu, tapi berkasnya ibu saya yang pegang. Saya balik ke sana, kok nggak ada kabar-kabarnya, nih Pak Jokowi. Sampai nginep saya di Balai Kota.”

Terkait kasus ini, KBR mendatangi Rumah Sakit Anggrek Mas dan Rumah Sakit Thamrin. Namun, pengelola kedua rumah sakit menolak memberikan komentar.

Selama tiga tahun menuntut keadilan, Yuni tak jua memperoleh hasil. Tapi sejumlah pihak, salah satunya seorang oknum dokter menjanjikan penyelesaian. Tawaran disampaikan saat Djubaidah dan Yuni hendak melaporkan kasus ke Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI).

“Pas ke MKDKI, mau kerjain, tapi fifty fifty, udah dapat pengacara langsung. Orang MKDKI ini udah dua kali ketemu ama Ibu, pertama, majunya gitu juga, kedua, gitu juga. Kasus akan selesai, tapi fifty-fifty, bagi hasil, plus pengacara.”

Tapi kejadian itu ditepis Ketua MKDKI Ali Bazaid. Dia menjamin tak ada oknum di organisasinya yang berbuat demikian. Sementara terkait kasusnya,Yuni dipersilakan melapor ke MKDKI. Kata dia, temuan kain kassa tersebut adalah pelanggaran berat, dan layak masuk pidana. “Udah pasti, itu sih, nggak usah di MKDKI, di manapun kalau udah terbukti ada, pasien bawa nih kassa, dari perut saya, mau bilang apa lagi dokter. Kami membuktikan apa lagi? Makanya itu hati-hati kassa gunting alat, jangan sampai ketinggalan dalam perut. Itu berat.”

Tapi di Polda Metro Jaya laporan Yuni tak di proses meski sudah memberi amplop uang ke Rudi, si penyidik. “Sama bolak balik bayar, amplopin. Pertama sejuta, terus abis itu, saya ngutang di sekolah lagi, sejuta, Jadi saya udah ngasih itu dua juta. Kalau dia sih, saya kan kirim surat ke mana-mana kan pakai ongkos, berarti kata kuncinya dia perlu duit. Eh nggak tahunya sampai sekarang ditahan-tahan, dibilangnya, udah suruh damai aja. Keceplosan lah, orang dia udah kasih saya amplop, gitu ngomongnya.”

Terkait dugaan pemberian amplop ini, kepolisian belum menyampaikan tanggapannya. Termasuk saat KBR  mencoba menghubungi penyidik dan pejabat Polda melalui telepon dan pesan singkat. Tapi bagi Yuni, menuntaskan kasus yang menimpanya jadi sebuah keharusan. Yuni mau Icha, putrinya yang dirawat sang tante  kembali ke pangkuannya. “Kalau misalnya dia udah gede, nggak kenal Yuni sampai gede gimana? Dia kadang suka manggil mani, dan kakak. Bukan Yuni nggak mau si om yang megang. Tapi Yuni pengen lah ngerasain ibu sendiri yang megang, yang ngasuh, yang cuci eeknya, yang suapin, dari tangan Yuni sendiri.”

Sampai di situ asa Yuni menggantung. Suaminya kabur dan dia harus mencari nafkah dengan mengajar les privat. Sementara polisi tetap diam menyikapi laporannya.

Baca kembali: Jalan Suram Korban Malapraktik

Editor: Irvan Imamsyah








Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!