malapraktik, klinik, metropole, dokter, portalkbr

KBR - Malapraktik kesehatan kerap terjadi. Ini kali, ulah pengelola Klinik Metropole Jakarta Barat yang mengorbankan 30 orang pasien. Kebanyakan dari para korban adalah perempuan. Sementara pemerintah tetap lalai dengan kejadian ini. Simak laporan SAGA yang disusun jurnalis KBR Ninik Yuniati.

#
Di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Barat, sejumlah korban Klinik Metropole berkumpul. Mereka menyisihkan waktu istirahatnya untuk berbagi cerita kronologi malapraktik yang mendera mereka. Seraya berharap keadilan bisa diraih, mereka juga ingin menyampaikan pesan kepada publik agar kejadian serupa tak terulang.

Saya berbincang dengan Kelly, bukan nama sebenarnya, Ia salah seorang korban malapraktik Klinik Metropole Agustus lalu. Bersama pacarnya, Kelly menceritakan bagaimana pengelola klinik menjebak mereka. “Namanya penyakit wanita kan keputihan. Saya udah periksa, ke dokter, rumah sakit, cuman tidak membuahkan hasil. Terus di sebelah kanan saya, suka nyeri kayak ditusuk pisau, benar-benar sakit. Sakit pinggang, kita udah urut juga ga sembuh-sembuh. Pas browsing, nongol lah Metropole ini. Saya ngetik nyeri di perut bawah sebelah kanan. Di baliho gedhe-gedhe di jalan, khusus penyakit wanita,” jelasnya.

Saat tiba di Metropole, Kelly sempat melihat ada kejanggalan. Misalnya dokter asing asal Tiongkok dan suster penerjemah yang mencurigakan. Tapi rasa penasaran Kelly sirna. Dia terkejut dengan vonis dokter, sederet penyakit berbahaya. “Radang serviks, cairan pelviks, kista sama radang vagina. Langsung divonis gitu. hari pertama. Si dokternya, dia bilang saya punya kista itu besar. Hasilnya sudah keluar langsung, kista saya besar, saya harus dioperasi, kalau nggak nanti saya akan mandul, nggak bisa punya anak.”

Diberondong teror vonis dan bayang ketakutan, Kelly menyanggupi tawaran untuk operasi, saat itu juga. Bersamaan dengan itu, dia merogoh uang puluhan juta rupiah melunasi biaya operasi.

“Kita orang bertiga ditanyaain, ini mau yang 5 juta, 10 juta apa 15 juta. Perbedaannya apa? 5 juta nggak dibius, 10 juta dibius setengah, 15 juta dibius full. Terus akhirnya, kita cari yang terbaik 15 juta. Sebelumnya, dia nanya, mau disuntik nggak, sama anti kanker serviks nggak. Berapa duit, 9 juta. Kenapa mahal begitu? kalau 9 juta saya nggak mau. Terus dokternya bilang, kalau misalkan nggak mau, kalau misalkan kenapa-kenapa jangan cari saya, ini kebetulan kamu dioperasi, itu harus disuntik, ke kistanya nggak tumbuh-tumbuh lagi. Ya saya nggak mau. Karena saya pikir, hari ini aja saya udah keluar duit, udah banyak sekali, total 34 juta di saat itu,” tuturnya.

Selain Kelly, juga ada Dian, korban Klinik Metropole. Nasib Dian tak jauh beda dengan Kelly. Tergiur dengan iklan dan tawaran diskon Metropole, Dian mendatangi klinik itu pada Juni lalu. Seperti Kelly, vonis penyakit berbahaya bikin dia panik. 

“Pas dilihat, penyakit nya banyak banget, saat itu juga dia langsung bilang, kalau saya kena serviks erosi, ada kista, cairan pelvis. Saya tanya, kistanya mana? ada ini seujung telunjuk lah. Dia bikin down segala macam, langsung disuruh tes usg, hasilnya keluar. Itu ada cairan pelvis, bakteri, ovarium jelek, dua-duanyanya jelek, ini ovarium biasanya satu bagus, satu jelek, masih bisa punya anak. Kamu dua-duanya jelek, jadi kamu nggak bisa punya anak. Harus ikut terapi kan. Ya udah langsung ditawari paket 7 hari, karena saya keburu takut, saya ambil, udah bayar. Pokoknya satu hari itu pembayaran pertama 6 juta.”

Ibarat jatuh tertimpa tangga, Dian bukannya sembuh, justru menambah penyakit ditubuhnya. Pascaoperasi, kram perut rutin mendera. “Tidak ada sama sekali perubahan walaupun udah habis puluhan juta. Yang saya nggak pernah kram, jadi suka kram. Datangnya tiba-tiba. Gerak aja nggak bisa. Mau dibawa ke UGD pun nggak bisa, karena gerak aja nggak bisa. Dulu sebelum operasi nggak pernah kayak gini. Jadi saya pikir, ini pasti efek operasi, karena sebelumnya nggak pernah. Istilah kasarnya, kayak orang disantet tengah malam. Jam 2 malam, 3 malam. Aneh tiba-tiba kram perut, ampe mama saya kaget.”

Merasa ditipu, Kelly, Dian, juga 30 korban lain mengadu ke Dinas Kesehatan Jakarta. Tapi hasil pengaduan tak memuaskan. Pejabat Dinas Kesehatan justru menyalahkan keputusan Suku Dinas Kesehatan Jakarta Barat, karena menerbitkan izin praktik untuk Klinik Metropole.

“Yang salah? pemiliknya merubah ijin dengan semena-mena. Pengawasan yang buat ijin, bukan dinas, sudin. Sekali lagi klinik pratama adalah yang memberikan ijin Suku Dinas Kesehatan Jakarta. RS yang memberikan ijin dinas. semuanya kalau dikerjakan oleh dinas nggak akan pernah selesai. Bebannya terlalu berat. Yang kecil kita berikan ke sudin.”

Ainul Yaqin pengacara korban dari YLBHI minta pemerintah daerah tidak lepas tangan dengan apa yang dialami puluhan kliennya. Apalagi selama beroperasi, Klinik Metropole leluasa gonta-ganti status dari klinik pratama ke klinik utama.

“Pemerintah, baik pusat dan daerah, itu mempunyai kewajiban untuk melakukan pembinan dan pengawasan. Dalam hal ini, setelah ijin itu keluar, ijin untuk pendirian klinik itu. Namun tidak dibarengi dengan pengawasan. Sehingga mulai dari penyelewengan praktik dari klinik menjadi RS tidak diketahui yang kedua, adalah sampai berakibatkan adanya 30 korban. Baru 30 korban baru diketahui. Jika saja pengawasan itu berjalan, penyelewengan itu bisa dicegah dari awal,”

Kelly, Dian dan korban lain siap memperkarakan pemilik Metropole di meja hijau. Mereka juga menuntut ganti rugi setimpal dengan uang yang telanjur terkuras dari kantong. Mereka berharap kasus ini jadi pelajaran untuk masyarakat, agar tidak kembali terulang.

Sementara pegiat perempuan Gadis Arivia mengatakan minimnya pemahaman perempuan terhadap kesehatan reproduksi jadi penyebab maraknya kasus malapraktik. Situasi pun makin karut-marut, dengan adanya pandangan yang merendahkan perempuan jika hidup tanpa rahim atau mandul. Pelbagai ketakutan ini, kata Gadis, dimanfaatkan sejumlah orang untuk mengeruk keuntungan.

“Memanipulasi untuk mendapatkan uang. Dan kebetulan bagi mereka yang paling mudah dimanipulasi adalah perempuan. Apalagi kalau dianggap tidak bisa punya anak lagi, itu dianggap bahwa rahim itu adalah, kekuatan perempuan. Perempuan didefinisikan seringkali lewat rahimnya, kan kalau tidak punya anak, dianggap bukan perempuan sempurna. Bagi mereka tetap sesuatau yang ketakutan sekali.”

Menurutnya maraknya kasus malapraktik yang kerap menjerat perempuan jadi bukti pendidikan tentang tubuh dan kesehatan reporduksi gagal disemua lini.

Baca lanjutannya: Jalan Suran Korban Malapraktik (bagian 2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!