Syamsuri tengah mengajar di SDN Pengasinan IV Bekasi (Foto: Rio Tuasikal)

Syamsuri tengah mengajar di SDN Pengasinan IV Bekasi (Foto: Rio Tuasikal)

Setara Institute mencatat Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah kasus intoleransi paling banyak se-Indonesia. Tapi dari Jawa Barat juga ada harapan bernama Syamsuri, seorang guru agama dari Bekasi yang punya misi besar mengajarkan toleransi kepada siswanya. 

Syamsuri kini mengajar di SD Negeri Pengasinan IV, Bekasi. Di kelas IV, para siswa sedang mengerjakan tugas soal penciptaan Adam dan Hawa. 

Di kelas ini, seluruh siswa perempuan berkerudung. Hanya Jessica saja yang tidak karena dia adalah satu-satunya murid Kristen. 

Saat pengajaran agama Islam berlangsung, dia hanya duduk sementara siswa lain berbaris untuk menunggu penilaian. Jessica sendiri memang sengaja memilih tinggal di dalam kelas.

Jessica bercerita, Syamsuri sang guru tak pernah mengajarkan siswanya untuk menghina agama lainnya. Itu sebab, dia merasa nyaman diam di kelas. 

Sang guru agama, Syamsuri mengatakan, semua anak paham soal perbedaan agama ini. 

“Memang anak-anak juga sudah tahu dari awal bahwa keyakinan Jessica dan teman-teman yang lainnya berbeda. Kami arahkan ke anak-anak untuk tetap menjaga kebersamaan, menghargai, toleransi antar satu dan lainnya. Artinya kepercayaan yang Jessica yakini sampai hari ini tentu tidak diusik-usik oleh kita,”? jelas Syamsuri.

Sudah lebih 10 tahun Syamsuri mengajar di SDN Pengasinan IV. Selama itu pula tak ada perkelahian antar siswa karena masalah beda agama. 

Februari lalu, Syamsuri ikut dalam pertemuan antar guru agama yang  digagas organisasi kebebasan beragama ICRP, Indonesian Conference on Religion and Peace. Direktur ICRP, Mohammad Monib, mengatakan, para guru agama harus mengurangi paham radikal di benak para siswa. 

Pelatihan guru agama digagas, setelah pada 2010 Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian LaKIP mengungkapkan hasil penelitiannya: hampir 50 persen siswa setuju kekerasan berkedok agama. 

“Benarkah terjadi fenomena itu?” tanya Monib.

“Maka kemudian kami melakukan training ini. Dan hasilnya memang terkonfirmasi bahwa ada fenomena mengerasnya cara pandang keagamaan di kalangn guru-guru agama baik negeri maupun swasta,”?jelas Monib.

Kajian LaKIP diperkuat catatan Yayasan Cahaya Guru yang menyebut nilai-nilai keberagaman  di sekolah negeri mulai luntur. Alasannya, penyelenggara sekolah hanya mengutamakan agama mayoritas. Juga aturan seragam yang mengikuti agama mayoritas, kata Ketua Yayasan Cahaya Guru, Henny Supolo. 

“Sebetulnya yang menurut saya paling perlu dipertahankan adalah sekolah negeri sebagai ruang publik yang bebas untuk semua agama dan kepercayaan. Bebas dari simbol-simbol, bebas dari semua hal-hal yang membuat pengotakkan. Itu yang perlu dipertahankan,” papar Henny. 

Inilah yang coba diterapkan Syamsuri di ruang kelas SDN Pengasinan IV Bekasi. 

Kehadiran Jessica di kelasnya mengingatkan dia akan Hellen, teman sewaktu SD yang juga Nasrani. 

“Itu alhamdulillah akrab, baik dengan teman-teman laki-laki dan puterinya. Dan kita tidak ada diskriminasi atau saling singgung antara yang muslim dan bukan. Itu selama ini baik-baik saja. Bahkan sampai hari ini, kalau ketemu, itu masih bertegur sapa,” kenang Syamsuri.

Sejak mengenal Hellen, pikiran Syamsuri sudah mulai terbuka. Dan keikutsertaannya dengan pertemuan yang digagas ICRP membuat pandangannya soal toleransi semakin mantap. 

“Perbedaan antara beda agama tentu kita hargai karena memang dilindungi oleh undang-undang. Toleransi antar umat beragama, toleransi sesama umat beragama itu pun dilindungi. Begitu,”? kata Syamsuri lagi.

Syamsuri berharap guru-guru agama di lain tempat juga mengajarkan agama yang penuh cinta kasih, toleransi, dan menghormati perdamaian.

“Artinya guru-guru semua guru agama agar tetap mengajarkan sesuai keyakinan masing-masing. Dan janganlah dianggap sebuah perbedaan tersebut dianggap sebagai perbedaan yang melebar dan meluas.”

Hal sederhana yang diyakini Syamsuri adalah satu, tidak menjelekkan agama dan keyakinan orang lain. Seperti ayat Al Quran favoritnya.

“Kalau dalam agama Islam itu bahasanya lakum dinukum waliyadin. Artinya, bagimu agamamu dan bagiku agamaku,” katanya seraya tersenyum. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!