kotoran sapi, biogas, kampung areng, lembang, energi

Kendala Biogas

Biogas merupakan energi terbarukan yang dapat dijadikan bahan bakar alternatif menggantikan bahan bakar fosil seperti minyak tanah dan gas alam. Biogas bisa berasal dari kotoran ternak atau manusia yang mengalami proses metanisasi.

Yayasan Rumah Energi masuk ke Kampung Areng pada 2010. LSM ini membawa konsep Biru alias Biogas Rumah. Ismaul Harist, Koordinator Jawa Barat Yayasan Rumah Energi."Mereka tidak perlu memikirkan bahan bakar itu harus bergantung pada bensin, solar, minyak tanah, dan mereka punya potensi. Itu juga diharapkan dapat mempertahankan populasi ternak," katanya.

Harist mengakui kesulitan memperkenalkan biogas kepada masyarakat. Belum lagi harga pembangunan reaktor biogas yang cukup mahal. Karena itu, pihaknya menggandeng Koperasi Peternak Susu Bandung Utara KPSBU untuk memberikan kredit kepada peternak yang menjadi anggota koperasi. Sekretaris KPSBU Ramdan Sobahi menuturkan,”Jadi membangun reaktor itukan cukup besar ya bagi orang desa. Untuk yang ukuran 4 meter kubik itu Rp 6,6 juta. Dikasih subsidi dari HIVOS Belanda Rp 2 juta, jadi peternak bayar Rp 4,6 juta. Jadi dibayar setiap bulan 100 ribu sampai habis tanpa bunga selama lima tahun."

Peternak cukup membayarnya dengan susu yang mereka setor ke koperasi. Kembali Ramdan Sobahi menjelaskan, "Karena lebih mudah bagi peternak. Semuanya di sini begitu, di sini ambil beras potong susu, pinjem uang potong susu juga, jadi sudah biasa begitu. Kitakan bayaran susu tiap dua minggu. Jadi setiap dua minggu kita potong 50 ribu, sebulannya 100 ribu untuk biogas."

Eti Rohaeti dan suami adalah peternak yang mempergunakan kredit tersebut. "Kalau dibandingkan dulu pakai elpiji 3 kg satu minggu habis. Kalau dulu harganya Rp 15 ribu, satu bulan empat tabung berarti Rp 60 ribu. Kalau ibu kredit dari KPBSU satu bulan itu dipotongnya Rp 100 ribu, mahalan sekarang. Tapikan kalau kreditnya sudah lunas kitakan gak perlu beli," ungkapnya. 

Kini ada 25 reaktor yang telah dibangun Yayasan Rumah Energi di kampung Areng. Pada tahun 2012 lalu,  Pemprov Jawa Barat menargetkan Desa Cibodas menjadi Desa Mandiri Energi dan Pangan. Kampung Areng yang merupakan bagian desa tersebut masuk ke dalamnya. Pemerintah lantas membangun 80 reaktor di kampung tersebut.

Namun program tersebut tidak berjalan lancar. Warga penerima hibah mengeluhkan kompor biogas dari pemerintah yang bermasalah. Bahkan, ada rumah yang tidak mendapatkan peralatan pemantau kadar biogas yang disebut manomater. Onih, salah satu warga penerima hibah mengeluhkan kompornya yang bocor.

ONIH: "Kalau untuk masak dipaksain saja, gak apa-apa"
KBR68H: "Jadi ibu tetap masak di sini? gak takut bu?"
ONIH: "Enggak"
KBR68H: "Selain pakai kompor ini gak pakai yang lain lagi?"
ONIH: "Enggak, jadi ditutupin pakai seng bagian yang bocor"

Warga lainnya Acih, mengeluhkan tidak adanya petugas dari pemerintah yang memantau penggunaan biogas warga.

ACIH: "Ya ke petugas Biru"
KBR68H: "Oh nanyanya ke BIRU, itukan dari pemerintah?"
ACIH: "Gak ada, kalau orang yang bikinnya itunya gak ada di sini, jadi langsung ke BIRU"
KBR68H: "Jadi begitu dipasang ditinggalkan begitu saja"
ACIH: "Iya gak ada lagi orang yang masang itu"

Kepala Seksi Energi Baru dan Terbarukan, Dinas ESDM Jawa Barat, Dadan M. Ramdani beralasan  kontraktor tidak  memberikan pendampingan setelah enam bulan produk dipindahtangankan ke warga penerima hibah. Dia berharap warga Areng mandiri  mempergunakan maupun memperbaiki peralatan biogas yang  diberikan pemerintah. "Mereka beli sendiri saja, bikin sendiri saja kenapa? rusak sedikit kenapa. Kalau kita punya hasil karya sendiri kemudian rusak, itukan ada proses pembelajaran bagi mereka, jangan disuapi terus. Ini gak disuapi sama pemerintah, nanti disuapi sama Yayasan Rumah Energi. Kecuali teknologi tinggi yang mereka tidak bisa. Kalau kompor biarkan memperbaiki sendiri. Wong beli rokok saja bisa," katanya.

Yayasan Rumah Energi berencana merevitalisasi reaktor biogas yang dibangun pemerintah di Kampung Areng. Namun Dadan menyebutkan, belum adanya Standar Nasional Indonesia untuk biogas, membuat mereka tidak bisa begitu saja menyetujui rencana tersebut."Harus diverifikasi baik oleh orang sana, koperasi maupun kita. Harus diverifikasi supaya tidak memberatkan masyarkat. Kalau misalnya nanti diganti dan kita belum punya Standar Nasional Indonesia nanti gimana?," tanyanya. 

Nasib program Desa Mandiri Energi di Kampung Areng pun jadi makin tak jelas. 


Klik untuk melihat foto-fotonya...



Editor: Taufik Wijaya






Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!