kotoran sapi, biogas, kampung areng, lembang, energi

KBR68H -  Kelangkaan minyak tanah maupun elpiji kini tidak lagi menjadi persoalan besar bagi warga desa Areng, Cibodas, Jawa Barat. Mereka memanfaatkan biogas dari kotoran sapi ternak menjadi bahan bakar untuk kebutuhan sehari-hari. Tidak itu saja, para ibu di kampung itu juga mendapatkan uang tambahan dari menjual pupuk organik 'Kascing' yang dihasilkan dari ampas kotoran sapi yang telah diolah menjadi biogas. KBR68H pergi ke Kampung Areng  melihat pemanfaatan biogas oleh warga.


Eti Rohaeti bercerita sambil tertawa, mengingat kejadian sekitar 3 tahun lalu saat pertama kali diperkenalkan pada biogas. Ini adalah energi alternatif dari kotoran sapi yang diubah menjadi gas.

Di belakang rumah Eti di Kampung Areng, Cibodas, Jawa Barat, kotoran sapi ditampung dalam sebuah bak berkapasitas 6 kubik. Di dalamnya, sekitar 40 kilogram kotoran sapi dicampur dengan air. Setelah diaduk, kotoran  masuk ke dalam tanki yang kemudian berproses menghasilkan biogas.

Eti mempergunakan biogas untuk menyalakan dua kompor dan satu lampu di dapurnya. Sejak tiga tahun terakhir, ibu tiga anak ini mengaku tidak lagi dipusingkan dengan kelangkaan minyak tanah atau kenaikan harga elpiji.

KBR68H: "Kalau dulu sebelum pakai ini ibu sudah pakai kompor gas ya? jadi sudah 3 tahun ini gak perlu susah ya"
ETI: "Iya, ibu gak gak tahu lagi gas lagi ada atau lagi mahal"
KBR68H: "Kalau lampu ini ibu dipakai masih di dapur atau di ruangan lain juga?"
ETI: "Masih di dapur saja. Ini jugakan kalau lampu lagi mati kita bisa memanfaatkan lampu ini"

Sanip menunjukkan reaktor biogas berkapasitas 8 kubik yang ada di kandang sapinya. Setiap hari 60 kilogram kotoran yang dihasilkan delapan ekor sapi miliknya dimasukkan ke dalam reaktor tersebut. Sama dengan Eti, Sanip tidak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk keperluan gas di rumahnya.

SANIP: "Untuk masak, untuk masak air. Kan dipasang kompor dua, di rumah dan kandang karena nyuci sapi harus dengan air hangat, jadi enggak kekurangan"
KBR68H: "Jadi kalau sekarang enggak perlu nyari gas lagi ya Pak"
SANIP: "Iya, kecuali kalau ada selamatan, jadi memerlukan kompor yang banyak. Tapi kalau untuk sehari-hari enggak kekurangan"

Meski sudah mendapatkan manfaat biogas, limbah ampas kotoran sapi tetap jadi masalah. Eti dan sang suami lantas mencoba membuat pupuk organik dengan mencampur ampas kotoran sapi dengan cacing merah. Pupuk tersebut diberi nama kascing alias kotoran bekas cacing.

ETI: "Mulai sedikit, angkat dari sana sebarin cacing. Lama kelamaan oh hasilnya begini, tambah lagi tambah lagi terus, alhamdullilah sampai sekarang"
KBR68H: "Jadi si bapak juga awalnya coba-coba?gak pernah dengar dari siapapun?"
ETI: "Coba-coba si bapak karena cacingkan banyak di tumpukan kotoran belakang kandang sapi. Sama si bapak diambil"

Hasilnya tak main-main. Pupuk kreasinya bisa menurunkan lebih dari setengah jumlah pupuk kimia yang biasa dia gunakan untuk kebun brokoli miliknya."Kascing sama yang kimiawi hampir sama. Cuma kita sudah bisa mengurangi biaya kimianya. Biasanya kita kasih ke tanaman, satu drum yang isinya enam ember itu kita kasih enam kilo (pupuk-red) untuk 800 tanaman. Sekarang udah pakai kascing kita kasih cuma dua atau tiga kilo pupuk kimia,"jelas Eti.

Eti kemudian berbagi pengetahuan dengan tetangga di kampungnya. Mereka  membentuk kelompok Karya Ibu."Bukan ibu saja yang mengolah begini. Anggota kelompok ibu anggotanya kurang lebih 25 orang. Cara pengeluarannya, kita gabungkan kalau ada yang beli kita jual bersama dalam kelompok. Jadi tiap minggu pengeluarannya kurang lebih 50 karung. Kita jualnya satu karung Rp 18 ribu, Rp 15 ribu untuk anggota, Rp 3 ribu untuk administrasi, kas kelompok sama tabungan ibu-ibunya," ungkapnya.

Sapi yang diternakkan warga Kampung Areng punya manfaat besar bagi kehidupan jelas Sanip.

SANIP: "Susunya, kotorannya, air kencingnya"
KBR68H: "Air kencingnya untuk apa Pak?"
SANIP: "Kebanyakan untuk pupuk rumput, dialirkan ke kebun rumput, gak pake urea, gak pakai pupuk apa-apa, lebih bagus"

Tahun lalu, kampung Areng didapuk menjadi bagian dari Desa Mandiri Energi oleh Pemprov Jawa Barat. Seperti apa nasibnya sekarang?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!