minyak jelantah, trans pakuan, energi alternatif, bogor, bbm

Trans Pakuan vs Produksi Biodiesel

Sejak diluncurkan enam tahun  lalu, bis Trans Pakuan telah menggunakan biodiesel yang dicampur dengan solar sebagai bahan bakarnya. Meski begitu dari 30 bis yang tersedia, baru 10 saja yang menggunakan biodiesel campuran dengan perbandingan 20:80. Kepala Bidang Tata Lingkungan Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup (BPLH)  Kota Bogor Shahlan Rasidi mengatakan ketersediaan bahan pokok menjadi kendalanya. “Nah itu lah kekurangan bahan baku. Kita justru dengan target 30 kendaraan itu, memang hanya 10 kendaraan sudah terpenuhi menggunakan biodiesel. Kalau kita hitung secara keseluruhan 30 jenis kendaraan Trans Pakuan butuh 158 ribu liter per tahun. Kalau 10 kendaraan itu hanya 43 ribu liter. Itu saja belum terpenuhi tapi semoga tahun depan sudah terpenuhi,” keluhnya.

Mengatasi masalah itu, pihaknya giat menyosialisasikan penggunaan jelantah untuk bahan bakar Trans Pakuan. Kerjasama dengan rumah makan dan pasar modern juga sudah dilakukan. Namun menurut Shahlan, belum adanya peraturan daerah soal minyak jelantah, menjadi penyebab utama tersendatnya pasokan utama biodiesel itu. “Kita belum punya aturan soal ini. Selama ini hanya imbauan. Tapi nanti di perda lingkungan hidup yang baru sudah ada. Semoga akan segera diparipurnakan karena diperda yang lama, belum dibahas tentang limbah cair jelantah. Di perda yang baru itu sudah bisa disosialisasikan ke masyarakat. Rancangan sudah dirapatkan dan diparipurnakan ke DPRD, tidak tahu untuk tahun ini atau tahun depan (diberlakukan-red),” terangnya lagi.

Selama ini tambah Shahlan, BPLH membeli minyak goreng bekas atau jelantah itu dari masyarakat dengan harga tiga ribu Rupiah per liter. Nantinya BPLH bakal membawanya ke pihak ketiga yang sudah ditunjuk pemkot untuk diolah menjadi biodiesel.

Tapi soal imbauan itu, tak semua masyarakat tahu. Asep, salah satu pedagang  gorengan di jalan Padjajaran Bogor misalnya tak tahu minyaknya bisa dibeli pemkot setempat.“Sehari habis lima liter. Habis itu dipakai lagi. Tapi ya nanti. Paling sisa sedikit. Boros buat goreng singkong. Gak pengen dijual buat Trans Pakuan? Wah gak tahu. Seliter tiga ribu. Tidak tertarik? Enggak ah. Cuma sedikit soalnya minyaknya,” ujar Asep.

Lain halnya dengan Muhammad Suherman, penjual ayam goreng di jalan Warung Jambu Bogor. Dia rutin memberikan minyak bekasnya untuk digunakan Trans Pakuan.“Sisa minyak buat sekolah dasar. Kan kalau SD kelas 2-6 setiap 3 bulan sekali kalau tidak salah, bawa minyak jelantah buat Trans Pakuan. Bukannya dimakan lagi. Dari sekolah dikumpulin nih. Nanti diserahkan. Gak dijual. Dikasih aja ke gurunya,” lengkapnya.

Belum sadarnya sebagian masyarakat, ditambah belum adanya peraturan untuk menjual minyak jelantah ke pemkot, memang disayangkan pihak  Trans Pakuan. Pasalnya, Perusahaan Daerah Jasa Transportasi PDJT, selaku operator trans pakuan menyatakan tiap tahunnya terjadi peningkatan penumpang bis ramah lingkungan itu. Bagian operasional PDJT, Agus Djatmiko menuturkan, “Total penumpang pada 2011 ada 1,3 juta penumpang. 2012 ada 1,4 juta penumpang dan tahun ini, baru sampai Agustus hampir satu juta penumpang. Masih ada sisa bulan sampai akhir tahun. Kenapa bisa dikatakan beralih ke kita, karena dari segi fasilitas, kenyamanan dan pelayanan, termasuk penggunaan biodieselnya.”

Dia menambahkan survei BPLH kota Bogor menyatakan penggunaan biodiesel sangat bermanfaat bagi lingkungan kota hujan ini. “Buangan akhir ini yang sangat bermanfaat bagi lingkungan dan ramah lingkungan. Dari kajian BPLH, dengan menggunakan biodiesel, menghilangkan atau meminimalisir karbondioksida mencapai 21,53 persen yang bisa kita hilangkan. Kalau untuk trans pakuan, dari buangan asap, kalau masyarakat itu melihat berbeda dari angkutan yang menggunakan solar murni. Dari asapnya yang jernih, tidak pedih di mata dan tidak bau. Itu baru hasil dari 20 persen,” terangnya.

Karena itu Agus berharap perda soal lingkungan hidup yang mengatur soal minyak jelantah, dapat segera diketok palu. Jika sudah demikian, mimpinya menggunakan biodiesel murni seratus persen untuk trans pakuan, bisa diterapkan.(Dms)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!