minyak jelantah, trans pakuan, energi alternatif, bogor, bbm

KBR68H – Sebuah sekolah dasar di Bogor, Jawa Barat memperkenalkan pentingnya energi ramah lingkungan. Siswa diajarkan langsung mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel. Bahan bakar alternatif buatan siswa tersebut lantas disuplai untuk memenuhi bahan bakar Trans Pakuan. Namun sayangnya pemerintah setempat belum menerbitkan peraturan yang mendukung penyediaan biodisel transportasi massal tersebut.

Celoteh anak-anak SDN 9 Bantarjati, Bogor riuh di aula terbuka sekolah. Mereka berkumpul untuk membuat biodiesel dari minyak goreng bekas atau biasa disebut minyak jelantah.

Puluhan siswa SD kelas 6 itu tengah  mempraktikan proses pembuatannya  bersama wali kelas mereka, Ely Rachmawati. Bahan yang disiapkan methanol, soda api, dan minyak jelantah.  “Jadi begini. Ibu ada pembelajaran bagi mereka (siswa-red) yang belum tahu (cara membuat biodisel-red),” jelas perempuan sekitar 40 tahunan tersebut.

Siswa yang mengikuti praktik pembuatan biodisel terlihat bersemangat.  Mustapa Surya (12) salah satu siswa menunturkan kesannya, “Praktik biodiesel ini sudah sejak tahun ajaran baru, sekitar bulan Agustus 2013. Susah buatnya. Waktu proses endapannya. Kalau kegoyang-goyang endapannya, itu gagal.” Temannya George (12) ikut menimpali,  “Tapi senang juga belajar begini. Soalnya dapat pelajaran baru untuk membuat bahan bakar yang ramah lingkungan. Harapannya nanti untuk bahan bakar Bus Trans Pakuan dan semua alat-alat yang bisa.”

Minyak  jelantah untuk bahan praktik itu dibawa siswa dari rumah mereka. Menurut Wasti, salah satu guru,  setiap siswa membawa minyak sisa menggoreng tersebut minimal satu botol ukuran 500 mililiter. Dia bangga anak didiknya sudah mengerti maksud membawa jelantah. “Mungkin karena sudah terbiasa dan pesan dari gurunya, jangan buang minyak jelantah ke selokan karena bisa mencemari. Jadi anak sudah tahu. Ditampung dibotol dan dibawa ke sini, gotong royong dibawa dan dituang di sini,” ujar Wasti. 

Mengenai bahayanya minyak jelantah, pihak sekolah juga sering menyosialisasikannya ke peserta didik. “Karena minyak jelantah dari arahan yang mengerti kesehatan itu berbahaya. Masa anak kita di rumah harus didiamkan? Sementara program Puskesmas BIAS (Badan Imunisasi Anak Sekolah) mereka disuntik terus tapi di rumah diracuni minyak jelantah, mau jadi apa? Mungkin usia sehat-sehat begini tapi lama-kelamaan nanti kena penyakit. Mungkin kena kanker atau penyakit lainnya. Kita tidak ingin generasi penerus kita sakit bukan?” ujar Kepala Sekolah SDN 9 Bantarjati Yayah Komariah.

Awalnya minyak jelantah itu dikumpulkan untuk disetor ke salah satu transportasi di Bogor yang menggunakan biodiesel, Trans Pakuan. Tapi kini, ditangan Ely Rachmawati, mereka mencoba untuk membuat biodiesel secara mandiri. Dia bercerita rutinnya pihak sekolah menyetor minyak jelantah ke Trans Pakuan, lalu menginspirasinya untuk membuat biodiesel secara mandiri.

Dari praktik itu dia berharap murid-muridnya paham untuk bisa menjaga penggunaan bahan bakar yang tak terbarukan. “Sementara tujuannya membentuk karakter peserta didik agar menyadari dan dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ramah lingkungan. Sehingga sumber daya alam kita yang sangat terbatas seperti bahan bakar minyak yang berasal dari fosil itu tidak cepat habis, namun ada alternatifnya yaitu minyak jelantah jadi biodiesel,” jelasnya lagi.

Sementara mimpi lain dari kepala sekolah SDN 9 Bantarjati, Yayah Komariah adalah, hasil produk biodiesel kreasi murid-muridnya bisa dipakai untuk keperluan sekolah dan Trans Pakuan. “Akan kita coba dulu untuk perawatan tanaman di sini, juga dengan menggunakan alat dan bahan bakar dari hasil sendiri. Jadi semuanya dari kita dulu.  Ke depannya kita harus sosialisasikan bahwa ini bisa. Yang punya kebijakan mengolah lebih banyak kan pemerintah. Kan mereka punya lahan, tempat dan mesin,” kata Yayah. 

Sejak tahun 2007 lalu, Trans Pakuan sudah menerapkan era transportasi masal dengan menggunakan bahan bakar ramah lingkungan.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!