Seni, Mamanda, Tenggarong, Kukar, Budaya

Era Keemasan

Darpi Kenedi, Sutradara Kelompok Teater Mamanda, “Panji Berseri” berdiri di depan rumah salah satu anak asuhnya . Lelaki 46 tahun tersebut tengah menunggu empat pemainnya selesai mengenakan kostum yang mereka sewa dari dana pribadi. Malam itu mereka diundang tampil di Festival Kota Raja.

Wakil ketua kelompok teater itu melontarkan kegundahannya pada nasib seni Mamanda yang terancam tiada. Panji Berseri satu-satunya kelompok  yang masih bertahan memainkan kesenian tradisional itu.  “Ini cuma satu-satunya teater yang ada di Kutai Kertanegara. Kita bangkit pada 2004 tenggelam lagi dan sekarang bangkt lagi, Karena tak ada modal. Penting sekali. Karena kesenian yang mengangkat kesenian Kutai yang asli  itu Mamanda,” kata Darpi. 

Sejumlah sumber  menyebut asal-usul  kesenian ini dibawa rombongan Abdoel Moeloek dari Malaka  pada tahun 1897. Sumber lain menyebut seni drama tradisional tersebut dikembangkan oleh bangsawan Malaka  Encik Ibrahim dan isterinya Cik Hawa di Tanah Banjar. Mamanda kemudian mendapat sambutan hangat masyarakat.

Mamanda sempat mengalami masa keemasan di sejumlah wilayah Kalimantan setangah abad silam, cerita   Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemkab Kutai Kartanegara, Sri  Wahyuni menuturkan,” Dulu orang dari Samarinda datang ke Tenggarong hanya untuk menyaksikan seni Mamanda. Sekitar tahun 1960-1970-an. Itu sangat terkenal sandiwara Bisa disejajarkan dengan Lenong, Ludruk, Ketoprak. Cuma bedanya Mamanda ini selalu ceritanya tentang kerajaan. Dan kadang ada sindiran atau pesan moral kepada pemerintah.”

Sri tak menampik jika Mamanda terancam punah. “Di Tenggarong saja mungkin hanya ada 1 kelompok serta satu Yayasan dan kelompok Mamanda anak-anak. Jadi sekarang kita mulai sulit mencari kelompok Mamanda yang memiliki pemain lengkap,” ucapnya.

Banyak faktor penyebab seni drama tradisional itu  terancam digilas zaman, jelas Ketua Yayasan Total Indonesia, Edi Mulyadi,”Mungkin kurang peminat ya. Generasi muda sudah tak mau meneruskan. Generasi tua sudah pada pergi. Dan generasi muda tak mau mengambil alih peran itu. Seperti dimanapun daerah kita. Teater-teater rakyat  tak digemari…”

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!