Seni, Mamanda, Tenggarong, Kukar, Budaya

KBR68H - Seni tradisi dari tanah Borneo, Mamanda nyaris punah. Di  Tenggarong misalnya hanya tinggal satu kelompok teater yang memainkan. Kalangan seniman dan warga menilai kesenian tradisional ini penting dipertahankan. Selain sebagai simbol budaya daerah setempat, Mamanda dipercaya dapat menarik minat wisatawan. Adakah upaya untuk meruwat dan merawatnya?  KBR68H terbang ke Kutai Kartanegara menyaksikan pentas Mamanda di Festival Kota Raja. 

Malam di Kampung Panji, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.  Sebuah rumah semi permanen  di pinggir jalan nampak dipadati anak-anak dan orang dewasa. Di ruang tamu,  tiga remaja perempuan  duduk bersimpuh.Mereka sibuk mematut diri. Memoles bibir dengan gincu dan memupuri pipi dengan bedak.Pakaian tradisional khas daerah setempat berwarna oranye membalut tubuh mereka. Dua aksesoris bunga dipasang di rambut yang  tersanggul rapi. 

Astuti Wahyuni, perempuan tigapuluh tahunan ini bersama tiga remaja tadi akan tampil di Festival  Kota Raja ke 2. Ini sebuah perhelatan seni dan budaya tahunan  yang diselenggarakan pemkab setempat. Mereka akan menyajikan seni drama tradisional Mamanda.

Jarum jam mendekati pukul 20 WITA. Astuti dan rekannya yang tergabung dalam kelompok teater Panji Berseri bergegas.  Sebuah mobil  bak terbuka diparkir di depan rumah siap mengantar mereka.  Kepergian Astuti diantar  anak yang masih kecil, kerabat dan tetangganya. Mereka juga ikut serta ingin menyaksikan Astuti mentas. Sebagian naik mobil. Sisanya memakai sepeda motor.

Sekitar 15 menit kemudian Astuti tiba di lokasi acara Pasar Seni, Kota Tenggarong. Musik tradisional mengalun dari pengeras suara. Sebuah panggung berukuran sekitar 15 kali 10 meter berdiri di lapangan terbuka tersebut. Di atas panggung berdiri gapura kayu yang didominasi warna biru.Di bagian tengah gapura tertulis “Mamanda Panji Berseri” dengan warna merah. Kontras dengan  layar hitam  yang melatari panggung.

Lapangan beraspal berukuran sekitar separuh lapangan sepak bola ini mulai dipadati seratusan pengunjung tua-muda. Mereka duduk di  bangku yang disediakan. Sebagian lainnya  memilih berdiri atau duduk di atas sepeda motor yang diparkir di pinggir lapangan.

Seni tradisi gabungan drama, pantun dan tari ini dibuka dengan sinopsis cerita tentang konflik dua kerajaan. Pentas di buka dengan adegan  tiga lelaki yang memperkenalkan diri sebagai peladon atau penyanyi. Perbincangan memakan waktu sekitar 15 menit. Adegan kemudian beralih ke  perkenalan masih-masing  tokoh.

Inti cerita seni tradisi Mamanda kali ini tentang pertikaian dua kerajaan yang semula rukun. Konflik dipicu akibat kesalahpahaman  antara Raja Anggasora dan Raja Marta Karawang. Dua raja tersebut kemudian tewas.

Butuh waktu sekitar dua jam untuk menikmati cerita Mamanda yang melibatkan sekitar 30 pemain Kelompok Teater Panji Berseri. Pelbagai komentar disuarakan  penonton saat menyaksikan Mamanda. Seperti dituturkan Dani, 30 tahun warga setempat, “Kesannya bagus. Lucu. (KBR68H) Ada dialog yang membosankan? Gak juga. Sekali nonton langsung terkesan,” jelasnya.

Lain lagi pendapat Siti Oktaviani, 32 tahun. “Saya merasa ceritanya agak lama. Kelamaan. Tapi ceritanya bikin penasaran. Harapan saya kesenian ini dilestarikan.  Dengan Mamanda ini bisa menarik perhatian wisatawan dalam negeri dan mancanegara. Dan supaya tak punah karena saya guru sebaiknya dijadikan mata ajar sendiri,” ungkapnya.

Seperti disampaikan Siti tadi, Mamanda memang terancam punah. Adakah upaya untuk melestarikan kesenian khas tanah Borneo tersebut?


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!