Sarekat Islam, Sejarah, Tan Malaka, Semarang, Semaun

KBR68H - Pemerintah Kota Semarang, Jawa Tengah  didesak segera memugar gedung bersejarah bekas organisasi pergerakan kemerdekaan Sarekat Islam. Gedung tua yang nyaris roboh ini terletak di Jalan Gendong, Semarang Timur. Rekomendasi pemugaran menyusul ditetapkannya bangunan itu sebagai cagar budaya yang harus dilindungi. KBR68H bertemu dengan sejumlah kalangan yang berjuang mempertahankan gedung tersebut.

Di Kampung Gendongan, Semarang Timur, berdiri sebuah gedung di atas tanah seluas hampir 1000 meter persegi. Bangunan itu terlihat kusam dan nyaris rubuh akibat tak terurus. Rumput tumbuh tinggi di sekitarnya. Kontras dengan bangunan di sekeliling yang relatif kokoh berdiri dan tertata rapi. Warga setempat Lili Haryanti bercerita.

“Gedung Balai Muslimin, dulu ada tunanetra di situ, tempat sekolah PAUD, TK, ada kegiatan tuna netra. KBR68H: Yang mendirikan gedung ini? Tidak tahu. Saya lahir tahun 1968, sejak bayi. Katanya dulu tempat sejarah, Pak Karno pernah datang ke sini. Denger dari orang tua-tua, ngapain ke sini, nggak tahu”

Pak Karno yang disebut tadi maksudnya bekas Presiden Soekarno. Lili tinggal persis di sebelah gedung yang kini dikelola Yayasan Balai Muslimin. Warga sekitar tidak terlalu ingat  sejarah gedung itu.

Koordinator Komunitas Pegiat Sejarah Semarang, Rukardi menjelaskan  gedung ini ditemukan secara tak sengaja. Ia menceritakan, gedung yang pernah  dipakai  organisasi pergerakan, Sarekat Islam    pada 1919 tersebut  dulu disebut Gedung Rakyat. “Pada saat peresmian belum ada, masih tanah, kemudian dibentuk Komite Perawat Gedung memberikan lantai ini. Ketika pemasangan ubin ada seorang tukang tidak tahu, tanpa koordinasi dengan komite itu tiba-tiba memasang tegel berinisial SI itu,”jelas Rukardi.

Rukardi menambahkan penemuan tegel lantai  itu sempat membuat geger. Pasalnya, Gedung Rakyat bukan saja milik Sarekat Islam  tapi milik berbagai kalangan.   Semarang sebagai pusat kekuasaan kolonial di Jawa Tengah adalah kota yang dinamis. Industrialisasi dan pembangunan pada masa penjajahan Belanda memicu   gesekan sosial. Sejarawan Universitas Negeri Semarang Wasino menjelaskan,”  Semarang itu terkenal, terutama kereta api, antara buruh dan kaum kapitalis cukup tegang. Pertama adalah hubungan perburuhan di kereta api dan kedua di pelabuhan. Kekuatan antara buruh dan pemilik modal belanda, proses ketegangan itu cukup kuat. Kedua, jauh sebelum muncul Sarekat Islam, karisidenan Semarang adalah daerah yang sangat miskin dan pada akhir abad 19, Semarang sudah diteliti sebagai salah satu wilayah Belanda yang banyak terjadi kemiskinan dan kelaparan, terutama di afdeling Demak dan Grobogan.”   

Pada era 1900-an organisasi-organisasi rakyat mulai tumbuh di Semarang. Namun, tidak gampang gerakan-gerakan itu tumbuh. Para pemilik gedung yang sebagian besar orang Belanda dan Tionghoa enggan menyeawakan bangunannya untuk kegiatan yang mengancam kekuasaan kolonial. Para anggota organisasi Sareka Islam Semarang seperti Semaon, Darsono dan Tan Malaka berinisiatif mengorganisir pendirian gedung  

“Yang berbau Marxian, Sosialis dan menggerakan kekuatan buruh jelas akan bertabrakan dengan kepentingan kolonialis Belanda, maka itu tidak akan dipinjami gedung. Juga, Semaun dan Darsono berinteraksi dengan tokoh yang sangat penting, yaitu Tan Malaka, dari situ mereka mendirikan gedung. Tan Malaka dari kampung ke kampung mendapat dana, saweran, dengan baju putih dan berselendang merah yang bertuliskan “Rasa Kamardikaan,” jelasnya.  

Dokumen yang ditulis oleh Tjipto yang mengaku sebagai bekas anggota Sarekat Islam Semarang menyebutkan, pembangunan mendapat angin segar setelah Tasripin menyumbangkan tanah pada para pengurus Sarekat Islam. Gedung ini pernah digunakan berbagai organisasi rakyat. Selain Sarekat Islam,  ada Partai Nasonalis Indonesia dan Boedi Oetomo Semarang.

Namun, organisasi yang paling besar ketika itu adalah Sarekat Islam, yang kemudian berubah menjadi Sarekat Rakyat. Kembali Rukardi,”Semarang punya peran penting dalam pergerakan nasional. Kita tahu Sarekat Islam sebagai partai politik pertama di Hindia Belanda punya peran yang sentral dan Sarekat Islam Semarang membuat pergerakan Sarekat Islam lebih radikal, perlawanan terhadap kolonial menjadi lebih menggigit di tangan Semaoen dan kawan-kawan. Di sini pernah diadakan rapat serikat buruh, semarang dan kereta api, gerakan itu meluas ke kota-kota di Jawa dan ini tercatat di sejarah sebagai pemogokan buruh terbesar di Hindia Belanda, itu dirancang di sini. Semarang sampai lumpuh, dalam buku Riwayat Semarang diceritakan Semarang lumpuh. Pedagang pasar tidak jualan.”

Di gedung ini  Pahlwan Nasional Tan Malaka  sempat mengajar dan menjadi kepala sekolah. Soekarno sebelum menjadi presiden pernah memimpin rapat penggemblengan nasionalisme di tempat bersejarah tersebut. Kini  gedung yang berusia  hampir 100 tahun tersebut dalam kondisi tak terawat dan nyaris hancur. Anggota Komunitas Pegiat Sejarah Tjahjo Rahardjo  menuturkan,”Ini kondisinya rusak berat, sudah ada retak yang lebar. Sampai dalam, kalau retak rambut hanya permukaan. Kondisinya sudah parah, kalau air masuk kemudian terkena kayu, lapuk. Ini kayu jati, tapi kalau kena air dan kering, kena air lagi, itu lapuk. Tiang gedung ini juga sudah miring.” 

Tjahjo yang juga arsitek ini  memperkirakan, tanpa perbaikan gedung ini akan rubuh jika musim hujan datang.  Gedung ini tidak hanya terancam rusak akibat dimakan zaman. Pengelola gedung tersebut, Yayasan Balai Muslimin, tahun lalu  berencana mendirikan gedung tiga lantai di lokasi tersebut.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!