buruh, UMR, KHL, bekasi

KBR68H - Kepolisian Jakarta hingga kini masih menyelidiki  kasus  kekerasan yang dialami buruh di Bekasi. Pelakunya diduga melibatkan tiga ormas.  Buruh yang tengah menggelar aksi  mogok kerja diserang massa yang beringas. Akibatnya sejumlah buruh luka parah. Reporter Sindu Dharmawan menemui korban dan keluarganya yang berharap kasus ini diusut tuntas. Atas  pertimbangan keamanan, identitas beberapa nara sumber redaksi rahasiakan.

Hujan yang mengguyur kawasan Lippo Cikarang, Bekasi, Jawa Barat petang itu baru saja reda. Bau tanah sisa hujan  di areal Rumah Sakit Hosana Medika meruap.   Di lantai II ruangan rumah sakit, belasan orang lelaki muda  duduk bergerombol di dekat pintu ruang perawatan intensif pasien. Mereka tengah menjenguk R, salah satu buruh yang menjadi korban luka senjata tajam  dari anggota  ormas akhir bulan lalu.

Saat itu  R dan rekannya tengah mengikuti aksi mogok kerja  di  Cikarang. Mereka menuntut kenaikan upah.  Tiba-tiba gerombolan ormas Pemuda Pancasila menyerang buruh. Akibatnya R dan belasan buruh lainnya terluka.

Saat dikunjungi,  hampir sepekan lelaki 26 tahun itu koma. Tulang tengkorak belakang kepala bapak dua itu pecah  disabet senjata tajam. SN, orangtuannya  yang tengah menunggu  hanya bisa pasrah.  “Kasihan, sungguh kasihan itu. Wong, saya punya anak sampai segitu besarnya, sampai punya anak, mukul belum, itu dipukul orang lain gitu rasanya gimana gitu, itu gimana itu, itu kan ya lebih kejam gitu ya. Saya baru ini. Saya itu di kampung itu enggak tahu apa apa, ini kok ya ada ada aja,” tutur lelaki yang rambutnya sudah memutih ini.

Di mata sang ayah,  anak ketiganya itu dikenal  pendiam dan tak banyak tingkah. Lelaki asal Boyoali, Jawa Tengah  ini kebingungan membayar biaya pengobatan yang ditaksir mencapai ratusan juta rupiah. “KBR68H: Untuk biayanya seperti apa, pak? Saya enggak tahu! Iya, saya enggak tahu. Makanya itu, saya enggak tahu?,” ujar SN dengan wajah sedih dan bingung.

Yanti, kakak korban cuma bisa berharap.   “Harapannya semoga adik saya cepat sembuh, dan pelakunya dihukum seberat-beratnya.”

Di rumah sakit yang sama, dua buruh korban kekerasan ormas juga tengah dirawat. Di salah satu kamar lantai 4,  WCT, 26 tahun masih terbaring lemas. Pinggang sebelah kirinya koyak  diduga ditusuk samurai. “Cuma ketika saya luka, dan tahu luka sudah langsung ke sini. Cuman kronologisnya saya enggak tahu seperti apa? (Waktu itu sedang demo, ikut aksi, ya? Pas saya mau arah balik, motor saya kan mogok, begitu motor saya mogok, saya enggak tahu lagi gimana, saya sudah luka, langsung ada yang ngantar ke sini,” ujarnya dengan terbata bata.

Saat dibawa ke RS, potongan senjata tajam itu masih tertancap di pinggangnya.  “Kurang lebih sepuluh senti. (Tapi, ini sudah boleh pulang, atau masih dalam perawatan?) Belum, masih nunggu info lebih lanjut dari dokter. Ini kan posisinya belum bisa bangun juga, baru bisa duduk juga itu pun agak dipaksain, belajar. Karena, posisinya dia kencing aja masih pakai selang, karena ada otot didalamnya yang putus,” tutur WCT dipandu rekan kerjanya.

Aktivis buruh yang tergabung Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) hingga kini terus  menggalang dana membantu pengobatan dan perawatan rekan mereka. Diperkirakan biaya yang dibutuhkan mencapai lebih dari Rp 800 juta.   .

Kasus kekerasan yang dialami buruh mendapat perhatian banyak pihak. Organisasi perburuhan, International Trade Union Confederation (ITUC) Asia Pacific lewat Sekretaris Jenderal Noriyuki Suzuki menilai  kekerasan terhadap buruh merupakan bentuk kriminal yang teroganisir.

Noriyuki berencana  melaporan peristiwa yang melukai sejumlah buruh itu ke organisasi perburuhan internasional, ILO. Nantinya,  bakal ada sanksi dan teguran tertulis terhadap Indonesia. Langkah lain melaporkan ke pengadilan HAM,  PBB.

Persoalaan ini juga ikut ditangani  Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!