toleransi, komunitas berhati, rumah ibadah, agama, gereja

Bekerja Tanpa Publikasi


Komunitas Berhati didirikan tahun lalu oleh Taha Binsan Gransang, yang akrab disapa Habin. Komunitas ini bermula dari saat ia menghadapi masalah di tempatnya bekerja, di sebuah biro iklan di Jakarta.  “Orang kan kalau ada masalah kan biasanya mendekat ke masjid. Saya waktu itu ke masjid, saya sholat. Pas saya mau sholat saya lihat kok kotor banget ini masjid. Saya langsung bilang andaikata masalah saya selesai saya akan bersihkan ini toilet. Saya buat wangi. Pokoknya pas mau dipakai sebelum lebaran ini sudah wangi semua jadi orang tidak cium bau pesing lagi,” cerita Habin.

Setelah masalah pergi, Habin memenuhi janjinya: membersihkan toilet di masjid kampung halamannya di Banten.  Gagasan ini lantas bergulir jauh, kata Ardi yang sekarang menjadi salah satu koordinator Komunitas Berhati.  “Akhirnya beliau cerita ke teman-teman kantor. Wah bagus ya, Terus kedengeranlah sama ya bisa dibilang penyandang dananya lah. Kata dia wah kenapa ga kita bikin kegiatan rutin saja. Awalnya ini memang sifatnya hanya untuk karyawan kantor. Setelah ada yang melihat ini kegiatan bagus akhirnya ada mereka yang suka rela mau ikut. Ini jadi semacam kegiatan umum yang dulu dari 25-an orang, sekarang bisa 80 – 90 an orang,” katanya. 

Stephanie Yuliana adalah salah satu anggota Komunitas Berhati. Tiga bulan lalu dia mulai bergabung dan sejak itu selalu rutin ikut acara bersih-bersih rumah ibadah.   “Saya melihat komunitas ini memiliki rasa toleransi, kekeluargaan, kebersamaan. Dan juga komunitas ini bersifat universal tanpa memandang suku , ras, agama. Jadi kita bias bergabung di komunitas ini dan mengikuti kegiatannya. Dan juga untuk bersihkan hati melalui ibadah ini. Ibadah ini kita ibaratkan melalui bersih-bersih rumah ibadah

Mahasiswa jurusan Komunikasi di salah satu universitas swasta Jakarta ini adalah pemeluk agama Kristen.  “Hal menarik dan lucunya itu adalah ketika bersih-bersih ya, seperti melihat semua orang tersenyum dan tertawa ketika kita bersih-bersih. Berarti kita memiliki hati yang bersih dan niat untuk membantu lingkungan sekitar melalui kegiatan bersih-bersih ini,” kata Stephanie seraya tersenyum.

Komunitas Berhati kini sudah membersihkan lebih dari 150 rumah ibadah di Jakarta dan sekitarnya sejak berdiri tahun lalu. Mereka mendapat nama rumah ibadah yang hendak dikunjungi dari anggota komunitas sendiri, juga dari warga sekitar.  “Surveinya itu pertama itu kita dapat referensi, Misalnya kita sudah ke tempat ibadah A. Nanti dari A mungkin ada teman-teman warga yang ikut terus kita ngobrol. Ayo kalau ada referensi tempat ibadah lagi kasih tahu kita nanti kita datang. Itu yang pertama. Yang kedua biasanya kita akan minta dari anggota-anggota kita. Karena kan setiap anggota wajib memberikan 1 referensi tempat ibadah yang ada di wilayah mereka,” ungkap Ardi Widiatmoko salah satu Koordinator Berhati.

Setiap dua pekan mereka berkeliling, mengetuk aneka pintu rumah ibadah untuk dibersihkan. Mereka bekerja tanpa publikasi, tanpa pamrih. Sambil  bekerja, komunitas ini mendapat anggota baru. “Ada banyak juga yang mereka nimbrung, mereka langsung ganti baju, pakai celana pendek lalu ikut gabung bersh-bersih. Nah yang kita senang itu seperti itu. Sampai ada beberapa yang tanya “kapan mas next nya, nanti calling-caling  saja.” Kita anak-anak muda mau ngebantuin kok. Di sini masih banyak masjid-masjid atau gereja-gereja yang butuh perhatian. Kita malah senengnya yang model seperti itu,” jelas Ardi.

Salah satunya adalah Anugrah Pandu Satrio, yang bekerja di sebuah biro iklan.  “Dulu sempet ngelihat juga. Dia ada di lingkungan masjid sekitar rumah saya. Terus saya lihat ini apa sih. Oh ini tuh ternyata komunitas yang suka bersih-bersih rumah ibadah. Terus saya tanya-tanya, oh ternyata bagus juga ya misinya dia,” katanya.

Soal toleransi pula yang selalu ditekankan Ardi kepada anggota Berhati.  “Kita itu mencar saja. Misalnya yang Muslim ngebersihin yang Katholik, yang Katholik ngebersihin Pura. Jadi ibaratnya ini tempat ibadah tidak seperti oh ini tempat ibadah saya. Jadi kita bercampur saja. Toh sekarang mungkin banyak komunitas yang seperti kita. Tapi kalau komunitas kita ini lebih pengen nunjukin ini loh toleransi antar umat beragama kita. Kita sama memberi contohlah buat yang lain,”kata Ardi.

Tapi tak semua rumah ibadah menyambut hangat. “Ada beberapa yang nanyain kalian dari partai apa nih, dari perusahaan mana nih. Ya kita tahu juga lah mungkin mereka ada yang takut kalau misalnya menerima kita nanti malah gimana-gimana. Tapi kita positif aja sih. Kalau memang mereka tidak terima maka kita akan cari yang lain. Intinya kita sudah menyampaikan permohonan untuk membersihkan rumah ibadah itu dan terima atau tidak itu keputusan mereka. Kita tetap hargain kok, ”ucapnya.

Tahun ini Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerima penghargaan World Statesman Award karena dianggap berhasil menjaga kerukunan antar umat beragama. Namun kritik menyeruak lantaran ada begitu banyak kasus intoleransi di negeri ini. Mulai dari penyerangan terhadap kelompok Ahmadiyah, pelarangan pembangunan gereja sampai pengeboman vihara di Jakarta Barat beberapa waktu lalu.

Menurut Pandu, komunitas ini telah membuka matanya. “Saya muslim. Dari SMA saya sekolah Islam, kuliah juga sekolah Islam, Selama kegiatan ini berlangsung, saya sekarang melihat orang tidak dari agamanya apa, dari suku mana. Pernah saya ditanya, Dulu lu orang mana? Padang ya? Saya iyain aja. Padahal bukan. Jadi saya mau meratakan semua kalau saya ini orang Indonesia,” tegasnya.

Pengurus Gereja Kathedral Resti Nainggolan mengatakan, semagat toleransi antar agama bisa terus diasah dengan membersihkan rumah ibadah pemeluk agama lain.  “Harus ditumbuhkan sejak dini ya. Ya dengan cara seperti itu saya kira. Jadi tidak merasa jijik masuk ke tempat ibadah yang bukan agamanya dia. Image seperti itu harus kita buang jauh-jauh. Dari situ sejak dini kita tumbuhkan toleransi seperti itu, bagus perkembangan ke depannya,” pungkasnya. 

Editor: Citra Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!