toleransi, komunitas berhati, rumah ibadah, agama, gereja

KBR68H- Bersih-bersih rumah ibadah mungkin hal biasa. Tapi jadi tak biasa jika yang membersihkan bukan dari pemeluk agama tersebut.  Komunitas Berhati yang terdiri dari anak-anak muda ini rutin keliling Jakarta dan sekitarnya untuk membersihkan rumah ibadah dari bermacam agama.

Lantunan doa terdengar dari Vihara Avalokitesvara di kawasan Jakarta Barat. Bangunan tempat ibadah yang usianya lebih dari seabad ini terlihat masih kokoh. Sejumlah biksu berjubah hitam tengah khusuk berdoa di depan altar yang penuh dengan tatanan buah.

Di sudut altar tampak patung Buddha duduk bersila dikelilingi lilin merah. Baru-baru ini vihara kedatangan satu kelompok anak muda yang hendak membersihkan vihara itu. Berkaus merah muda, belasan orang berpencar membersihkan toilet dan sejumlah sudut vihara.

Mereka bukan petugas kebersihan, tapi Komunitas Berhati. Menurut salah satu koordinatornya Agustinus Ardi Widiatmoko, “Berhati” adalah singkatan dari ‘bersih rumah ibadah, bersihkan hati’.   “Kita selalu bilang ke tempat-tempat ibadah bahwa kita tidak akan terima apapun karena kita bukan lembaga sosial. Kita juga tidak bisa nyumbangin apa-apa karena kami sifatnya hanya bersih-bersih saja. Kita bukan seperti panti sosial yang begitu datang nyumbangin sesuatu. Kita mau simple kok, kita datang, kita bersih-bersih, kita pulang,” katanya.

Kepala Vihara Yusak Li Sariputra mengaku sempat heran ketika komunitas ini datang. ”Disediain minum, makan, snack saja mereka kerja. Bahkan tidak disediakan apapun mereka kerja. Makanya saya bilang, enggak, kita sediain makanan minuman snack. Jadi kita pas mereka mau datang ke sini, di dapur repot belanja macam-macam. Tidak apa-apa, kita bisa buat makanan secepat mungkin. Saya bilang terima kasih kita nggak bisa buat apa-apa. Mereka bilang terima kasih sudah diterima. Kan di sini yang perempuan-perempuan kan membersihkannya tidak seperti mereka sampai naik-naik gitu,” kata Yusak. 
 
Tapi bukan itu yang membuat Yusak begitu terkesima.  “Di dalam itu saya lihat tidak semuanya orang-orang yang beragama Budhis, atau mereka Muslim, tapi bercampur baur. Saya lihat seperti itu. Dan mereka mengajarkan kita menghormati tempat ibadah. Dan mereka fanatismenya tidak ada, jadi mereka masuk, mereka bersihkan, mereka bergabung.”

Tidak hanya vihara yang jadi sasaran bersih-bersih Komunitas Berhati. Di kali lain mereka mengunjungi Gereja Kathedral – gereja Katolik tertua dan terbesar di Jakarta.

Pengurus gereja Resti Nainggolan masih menyimpan kenang-kenangan yang diberikan begitu usai bersih-bersih.  “Selesai acara mereka justru kasih kita souvenir berupa kaus tulisannya “Berhati”. Makanya kita bilang kamu yang kerja kok malah kasih kita souvenir. Harusnya kan kita yang memberi. Kata dia tidak bu ini buat kenang-kenangan, tanpa ada embel apa-apa. Makanya masih saya bercandain waktu itu. Ini ada U dibalik B tidak? Dia bilang tidak,” jelas Resti.

Di kali lain, sebuah mushola kecil di sudut Jakarta Barat jadi sasaran bersih-bersih. Salah satu remaja mushola Al Ikhlas itu, Ahmad Ridho merasa tergerak setelah Komunitas Berhati datang. ”Kita yang remaja mushola sini waktu itu jadi agak malu sedikit mereka aja ada yang agamanya Kristen sama Budha ikut bersihin mushola. Akhirnya remaja sini bikin kelompok bersih-bersih juga. Ya walaupun belum rutin-rutin banget tapi yang penting sudah ada,” ucapnya.

Apa cerita di balik berdirinya Komunitas Berhati?
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!