kekerasan seksual, konferensi perempuan, sister in danger, simponi, gender

Berani Melawan

Akhir pekan bulan lalu di wisma Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia PKBI, Jakarta Selatan. Sekitar 200 orang perempuan berkumpul, membahas kekerasan seksual pada perempuan yang semakin mengkhawatirkan di Ibu Kota.

LSM Perempuan Mahardika adalah penggagas Konferensi Perempuan Jakarta tersebut. Sekretaris Nasional Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi menuturkan,"Tujuan dari acara ini adalah membangun kekuatan untuk melawan dan bebas dari kekerasan seksual. Kenapa kita harus kuat dalam membangun kekuatan ini? Karena dari sekian banyaknya kasus seksual yang semakin hari semakin memprihatinkan sampai melecehkan, merendahkan bahkan merenggut nyawa dari korban tersebut yang kebanyakan adalah perempuan tidak ada solusi terhadap itu."

LBH Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK) Jakarta mencatat sejak Januari hingga September tahun ini sudah ada 12 kasus kekerasan seksual terhadap anak dan 1 pada perempuan dewasa. Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK) Jakarta, Ratna Batara Munti menuturkan,"Nah sebenarnya yg di KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga-red) itu juga ada dimensi kekerasan seksualnya. Memang tidak hanya fisik, psikis tapi biasanya juga ada kekerasan seksual. Kita buat pengelompokan khusus kekerasan seksual yang diluar KDRT total dari 10 tahun terakhir kita sudah mendampingi 253 kasus. Kekerasan dalam pacaran itu juga sebenarnya ada dimensi kekerasan seksual. Ada kasus ingkar janji misalnya, hubungan yang dalam tanda kutip diancam atau yang bahkan dijanjikan untuk dinikahi."

Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA) bahkan menyebut tahun 2013 sebagai Tahun Darurat Nasional Kekerasan Seksual pada Anak. Ini mengingat jumlah kekerasan seksual yang dialami anak Indonesia mencapai lebih dari 500 kasus.

Sebelum konferensi LSM Perempuan Mahardika melakukan bedah kasus berbentuk diskusi di sembilan titik di Jakarta. Vivi Widyawati, panitia konferensi menuturkan,"Bedah kasus itu diskusi di komunitas-komunitas dimana dalam diskusi itu utamanya yang kita gali adalah bentuk-bentuk kekerasan, modus-modusnya terus bagaimana warga melakukan perlawanan atau bagaimana mereka mengatasi ketika mengalami itu. Bedah kasus ini kami sudah selenggarakan di sembilan titik, di ibu-ibu rumah tangga kemudian buruh, remaja, di kelompok LGBT lesbian gay biseksual."

Umumnya korban kekerasan seksual cenderung pasrah dan tertutup. Mereka sungkan menempuh proses hukum, untuk menghindari pandangan negatif masyarakat. "Sebenarnya kesulitannya itu pengetahuan karena minimnya pengetahuan perempuan tentang apa itu kekerasan, itu yg pertama. Jadi memang tidak  tahu kekerasan seksual itu apa, pelecehan itu apa. Kita harus memberi tahu, memberikan informasi yang benar terkait dengan kekerasan seksual. Yang kedua adalah memang dalam masyarakat perempuan selalu jadi obyek. Kalau dia jadi korban kadang-kadang orang tidak melihat lalu menyalahkan korban. Sehingga ketika perempuan mengalaminya dia takut untuk bicara karena dia merasa pasti dia yg disalahkan," jelas Vivi.

Kekerasan seksual yang dialami perempuan Indonesia serupa seperti di India. Bedanya perlawanan yang dilakukan masyarakat di sana sangat kuat. Peristiwa pemerkosaan seorang mahasiswa Desember lalu menyulut gelombang protes di seluruh negeri itu. Hasilnya, pihak berwenang memberlakukan undang-undang baru yang ketat mengenai kekerasan terhadap perempuan. Sekretaris Nasional Perempuan Mahardika, Mutiara Ika Pratiwi yakin gerakan yang sama bisa terjadi di Indonesia.

"Kita mungkin, pasti kita bisa karena keresahan ini ada. Di bawah itu banyak sekali kekerasan terhadap ini cuma tidak terungkap dan tidak berani dilaporkan. Ketika kita mampu untuk membangun jaringan yang kuat terhadap itu saya yakin itu bisa karena teman-teman perempuan atau lembaga-lembaga perempuan banyak sekali. Kita sudah mengadvokasi kasus ataupun advokasi kebijakan tentang isu-isu yang spesifik tentang perempuan. Kita hanya butuh lebih di situ, menguatkan teman-teman perempuan untuk mereka punya kepentingan memperjuangkan ini,"katanya.

Kekerasan seksual pada perempuan bukan hanya menarik perhatian dari para aktivis tapi juga kalangan musisi. Band Simponi misalnya membuat lagu khusus sebagai bentuk perlawanan. Personil Simponi Berkah Gamulya menyatakan, seluruh elemen masyarakat harus bersatu untuk menghentikan kekerasan seksual pada perempuan.

"Yang jelas pertama hentikan kekerasan seksual, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan apapun terhadap perempuan, terhadap anak, terhadap semua. Bahwa semua kita dalam bahaya, keluarga saya, keluarga kamu, keluarga kita semua dalam bahaya, teman kita dan segala macam. Tetapi ketika dalam bahaya yang disalahkan kadang perempuan. Ada kejadian perempuannya disalahi. Itu kita sampaikan, bukan, yang salah pelaku, bukan korban, bukan perempuan apapun alasannya," kata Berkah.

Konferensi ditutup dengan kesepakatan melanjutkan diskusi di kelompok-kelompok kecil. Nantinya hasil diskusi akan dirumuskan dalam satu deklarasi bersama Relawan Jakarta Melawan Kekerasan Seksual.
Rencananya deklarasi akan disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo dan wakilnya Basuki Tjahaja Purnama bertepatan dengan hari internasional AntiKekerasan Terhadap Perempuan 25 November mendatang.

Korban kekerasan seksual seperti Thin Koesna dan SJ tak mau diam. Mereka ingin korban lainnya juga berani bersuara lantang. "Saya Thin Koesna dari Perempuan Mahardika, Radio Marsinah FM dan  juga dari Federasi Buruh Lintas Pabrik mengajak kawan-kawan untuk berani melawan pelecehan dan kekerasan seksual. Diam ditindas atau bangkit untuk melawan,"tegas Thin.
   
SJ ikut menimpali,"Kita harus melawan. Sebagai perempuan kita harus kuat. Banyak pos-pos pengaduan untuk perlawanan. Kita jangan takut dengan laki-laki, meskipun laki-laki itu suami kita sendiri."

Editor:Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!