[SAGA] Cucu Pahlawan Revolusi Mempertanyakan Narasi Film G30S (Bagian 1)

"Kalau posisi saya... mungkin saya sudah mendapatkan closure. Bahwa, oh ya eyang saya dibunuh, tapi kita bisa datang ke makamnya."

Senin, 02 Okt 2017 08:50 WIB

Puri Lestari, cucu dari Soetoyo Siswomihardjo. Foto: Istimewa

KBR, Jakarta - Puri Lestari menghabiskan masa muda jauh dari keluarga. Usai kuliah di Bandung, Jawa Barat, ia memilih hijrah ke Australia.

Selama itu, ia tak acuh pada peristiwa 30 September 1965. Secuil informasi yang ia tahu hanya dari buku pelajaran Sejarah dan menonton film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI buatan Orde Baru.

"Yang saya ingat saat nonton film itu, ngantuk, membosankan, dan saya enggak pernah nonton sampai habis," akunya sambil tertawa.

Pun di keluarga, tak pernah sekalipun ia membicarakan kejadian berdarah itu. 

"Mungkin dirasa tidak perlu untuk didiskusikan," kata Puri, ibu satu anak ini. Karena itulah, ketika banyak orang membahas peristiwa kelam tersebut, Puri, bersikap dingin.

Dia baru tersadar pada 2008 silam, kala Perdana Menteri Kevin Rudd menyampaikan pidato di depan parlemen bahwa pemerintah Australia meminta maaf kepada penduduk asli Negeri Kangguru itu. Suatu sikap yang, bagi Puri, menakjubkan.

Puri kemudian membuang sikap apatisnya. Buku 'Pulang' kepunyaan Leila Chudori, dua film karya Joshua Oppenheimer berjudul 'Jagal' dan 'Senyap' pun ia lahap.

"Ketika ada film Jagal dan Senyap, saya mulai mempertanyakan lagi apakah sejarah yang saya pelajari di sekolah satu-satunya narasi yang ada?" tanya Puri.

Sejumlah kepingan informasi---pembuangan ratusan ribu manusia di Pulau Buru, pencabutan paspor ratusan orang yang memilih anti-Soeharto---membawanya pada kisah sang kakek, Soetoyo Siswomihardjo.

Soetoyo merupakan salah satu dari enam orang petinggi Angkatan Darat yang tewas di malam 30 September 1965---dan kemudian mendapat penghargaan sebagai Pahlawan Revolusi.


Orde Baru mengumbar kabar bahwa enam jenderal itu meninggal dengan menyedihkan; mata dicongkel dan tubuh penuh sayatan.

Puri, meski tak begitu mengenal dekat sosok sang kakek, berusaha menggali kebenarannya. Tahu lah ia, eyangnya mati dengan luka tembak dan tusukan.

"Kalau posisi saya..., mungkin saya sudah mendapatkan closure. Bahwa, ohh eyang saya dibunuh, tapi kami bisa datang ke makamnya," sambung Puri.

Kepada KBR, Puri Lestari---kini seorang arsitek---berbincang tentang masa kanak-kanaknya dan apa yang dia lakukan untuk menemukan versi lain dari kejadian berdarah itu.

Anda termasuk generasi yang wajib menonton film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI. Saat itu apa yang terlintas di pikiran Anda?

Mengenai film itu... yang saya ingat adalah ngantuk, membosankan. Sejujurnya, sepertinya saya enggak pernah nonton sampai selesai. Kalau nggak salah itu film dipotong jadi dua bagian. Kemudian sampai malam penculikan, biasanya saya tertidur. Setelah itu, saya enggak ingat pernah nonton menyelesaikan sampai habis.

Apakah saat menonton, Anda langsung percaya? Atau mempertanyakan kebenaran di film itu

Pertama kali saya mengetahui tentang G30S/PKI, seperti generasi saya dahulu adalah melalui pelajaran di sekolah, dari buku pelajaran Sejarah dan dari film Pengkhianatan G30S/PKI. Dari situ saya tidak pernah mencari tahu tentang kebenaran, ataupun mempertanyakan kebenaran itu sendiri.

Saya mulai aktif mencari tahu tentang narasi lain, mungkin sekitar tahun 2012. Ketika mulai ada film Jagal, kemudian Senyap. Saya mulai mempertanyakan lagi apakah sejarah yang saya pelajari di sekolah adalah satu-satunya narasi yang ada? Atau apakah ada narasi yang lain?

Bagaimana kemudian Anda mencari narasi lain dari peristiwa 30 September 1965?

Keingintahuan untuk mencari narasi lain itu muncul ketika ada narasi lain. Karena yang sebelumnya saya tidak pernah tahu ada narasi lain, kemudian tiba-tiba ada cerita dan kisah-kisah dari sisi dan perspektif yang lain.

Saya mulai mempertanyakan, apakah kebenaran ini mutlak atau tidak. Ternyata kebenaran itu juga dari banyak sudut, dari banyak sisi. Jadi mungkin apa yang selama ini kita ketahui, generasi saya ketahui, mungkin tidak selamanya, tidak seutuhnya benar. Jadi mungkin harus aktif mencari tahu bahwa ada sisi apalagi ya di sekitar peristiwa ini.

Bisa dicontohkan, misalnya dari film atau buku apa saja?

Untuk narasi lain mungkin yang masih mudah dicari dan diakses sekarang adalah buku-buku, film. Contohnya film Jagal atau Senyap. Itu yang sangat ekstrem ya. 

Lalu, novel Leila Chudori, ‘Pulang', itu juga salah satu kisah tentang eksil akibat dari peristiwa 1965. Banyak kalau mau cari tahu, kita bisa dapat narasi-narasi.

Anda sempat menulis di laman Ingat 65, judulnya "Ini kan Buku Komunis". Di situ anda menceritakan bagaimana respon ayah Anda, Pak Agus Widjojo yang bertanya tentang buku yang Anda baca, yaitu karya Pramoedya Ananta Toer. Dan tulisan di Ingat 65 adalah kali pertama Anda terbuka tentang diri Anda ke publik. Apa alasannya?

Sebenarnya tulisan saya di Ingat 65 itu adalah refleksi saya terhadap pertanyaan dari bapak, ‘Ini kan buku komunis?' ketika saya membaca bukunya Pram tadi.

Setelah tulisan itu, saya dan bapak belum pernah berdiskusi lagi. Cuma menurut saya, mungkin tidak perlu didiskusikan lagi. Karena mungkin, bapak yang dulu bertanya ‘Ini kan buku komunis?', dengan bapak yang membaca tulisan saya di Ingat 65 adalah individu yang sudah berbeda. Individu yang sudah menjalani proses yang mendewasakan, healing juga. Dan mungkin sudah enggak masalah kalau saya sudah sekarang punya koleksi buku Pram di rumah.

Tapi apa yang melatari Anda akhirnya menulis?

Waktu itu lagi digelar Simposium 1965 di Hotel Arya Duta. Kemudian kondisinya mulai memanas lagi. Ada  yang pro, ada yang kontra. Saya merasa bahwa kisah saya itu harus dibagikan, harus dibuka. Supaya kita semua sadar bahwa kita mempunyai kisah yang sama. 

Bukan pengalaman yang sama, tapi garis merah yang sama. Bahwa kita mengalami trauma sedikit atau banyak, kita punya pertanyaan, dan kita harus bisa berani untuk mencari jawaban tersebut. Itu yang membuat saya tergerak untuk menulis dan membagikannya di Ingat 65.

Kalau bicara tentang keluarga, apakah masih sering membicarakan peristiwa 30 September 1965?

Di keluarga saya tidak pernah secara terbuka membicarakan atau berdiskusi tentang kejadian G30S. Mungkin itu salah satu cara keluarga kita untuk berkomunikasi, atau mungkin juga dirasa tidak perlu untuk didiskusikan di dalam keluarga.

Kakek Anda Soetoyo Siswomiharjo tewas dibunuh dalam peristiwa 30 September 1965. Apakah ada perasaan dendam hingga kini?

Mungkin karena saya tidak pernah bertatap muka dengan eyang saya, jadi saya tidak punya hubungan emosional mengenai hal ini, dengan fakta bahwa eyang saya terbunuh malam itu. Hanya, jadi buat saya tidak ada dendam, apalagi mengenai kejadian itu.

Dalam versi Orde Baru, kakek Anda disebut tewas dibunuh anggota PKI. Sementara ayah Anda ikut mendirikan Forum Silaturahmi Anak Bangsa, yang isinya ada keturunan dari DN Aidit, anak-cucu para jendral yang juga mati dibunuh, dan korban-korban lainnya. Apakah ada beban saat bertemu dengan mereka?

Masing-masing kita punya beban sendiri-sendiri, tergantung seberapa sadar kita menerima fakta bahwa kejadian tersebut memberikan efek yang berbeda kepada setiap orang. Proses setiap orang menghadapi itu juga beda-beda.

Jadi kalau posisi saya, mungkin saya sudah mendapatkan closure, keluarga kami sudah mendapatkan closure gitu. Bahwa, ohh.. eyang saya dibunuh, tapi kami bisa datang ke makamnya. Buat banyak orang lain mungkin enggak bisa seperti itu, dan proses itu yang harus kita sama-sama bantu.

Kalau kita yang sudah lebih kuat menghadapi ini, harusnya bisa membantu yang lain, yang masih dalam proses.

Jika suatu saat anak Anda bertanya tentang buyutnya, bagaimana Anda akan menjawabnya?

Apapun yang nanti generasi penerus kita pertanyakan, kalau ia bertanya kepada saya, saya akan menjawab dengan perspektif dan latar belakang yang saya ketahui. Apapun itu, akan saya sediakan untuk dia. 

Cuma satu yang lebih penting adalah mempersiapkan dia untuk berpikir kritis. Karena bukan hanya tentang 1965 saja, untuk banyak hal yang lain dia harus bisa mempertanyakan informasi yang dia dapat. Apakah ini benar atau salah, apakah ada narasi yang lain. 

Dari informasi itu, dia akan bisa menyimpulkan sendiri kebenaran menurut dia, yang benar apa, yang mana. 

Dan saya rasa bekal itu lebih penting kita sampaikan ke generasi penerus selanjutnya, daripada memberikan satu versi narasi atau beberapa versi narasi. 

Cara berpikir kritis, mempertanyakan, mencari informasi dan bisa menyimpulkan dari informasi-informasi tersebut, itu sebuah warisan yang harus kita siapkan untuk generasi selanjutnya.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh

  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil
  • Gubernur Yogyakarta Pastikan Tindak Tegas Pelaku Aksi Intoleransi
  • Sebagai Panglima Tertinggi, Jokowi Perintahkan Bawahannya Tak Bikin Gaduh
  • Kalau Tak Setuju Ide Tes Keperawanan, Jangan Menyerang!
  • Jokowi: Kita Lebih Ingat Saracen, Ketimbang Momentum

Polisi Selidiki Penadah dan Penyuplai Hasil Pendulang Emas Ilegal di Freeport

  • Bappeda DKI: Anggaran Kunker DPRD Naik Karena Djarot
  • Presiden Minta Malaysia Impor Beras Dari Indonesia
  • Kejati Tahan 2 Tersangka Mark Up Alat Tangkap untuk Nelayan di Mandailing Natal

Guna mengembangkan dan mengapresiasi Organisasi Kepemudaan, Kementerian Pemuda dan Olahraga menyelenggarakan "Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi 2017"