Aksi solidaritas tunggal roso di depan Balai Kota Malang, 28 September 2015. Foto: Eko Widianto

KBR, Lumajang - Di balai desa, Salim alias Kancil, tak henti-hentinya dikeroyok. Para pelaku kemudian menyeret Salim ke luar balai desa, menuju sekitar makam.

Di sanalah, Salim meregang nyawa dengan tubuh tertelungkup dan tangan terikat tambang. Darah bercucuran dari tubuh dan kepalanya. Batu dan kayu berserakan.

Sabtu siang, 26 September 2015, mayat Salim ditemukan warga setempat.

Dua hari setelahnya, Kepolisian Lumajang menangkap 18 tersangka yang diduga mengeroyok hingga tewasnya Salim. Kemudian terus bertambah menjadi 38 orang, termasuk Kepala Desa Selok Awar-awar, Haryono yang diduga sebagai otak pengeroyokan Tosan dan Salim.

Koordinator Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, Abdul Hamid mengatakan, warga mengenali para pelaku.

Sebutan untuk mereka; Tim 12 yang merupakan tim sukses Haryono saat pemilihan Kepala Desa. Hanya saja, warga takut bersaksi.

“Dari sini dibonceng, dengan berteriak 'hore' Kancil mati. Jadi masyarakat tahu. Tapi diminta menjadi saksi takut. Butuh perlindungan. Wong pagi hari, banyak orang mau beraktivitas kerja. Makanya banyak rumah ditutup takut dimintai keterangan,” ungkap Abdul Hamid pada KBR.

Jarmoko, pengacara aktivis antitambang, malah menuding Kepolisian abai atas laporan mereka.

Pasalnya, jauh hari sebelum kejadian itu, mereka telah melaporkan adanya ancaman oleh orang yang diduga suruhan kepala Desa Haryono pada 9 September lalu.

“Mendapat ancaman apalagi memakai clurit dan sebagainya. Harusnya ada tindakan, tapi faktanya tidak. Apa yang dilaporkan kejadian tanggal 26 ada pembunuhan. Jadi bukan hanya ancaman. Seharusnya ada tindakan serius dari  Kepolisian Resor Lumajang. Jadi aneh, kalau orang kecil melaporkan ini tindakannya tidak ada.”

Sementara Polisi tetap berkelit. Kapolsek Pasirian, Eko Hari Suprapto mengklaim sudah menyiapkan antisipasi di hari nahas itu. Tapi tak disangka, aksi pengeroyokan itu terjadi lebih dulu.

“Ini kan sudah siap. Kami sudah siap tapi belum maksimal. Kita sudah siapkan pasukan 100 personel. Sejak jam 8 kita di sini. Ternyata jam 7 kejadiannya. Di luar perkiraan. Jam 8 kita apel untuk bagi tugas, dalam perjalanan ada kabar pak di rumah Tosan. Aduh. Mau bagaimana lagi.”

Khotijah, istri Salim menuntut hukuman yang setimpal atas kematian suaminya.

“Aku ikut mendukung dulu Haryono jadi kepala desa. Apalagi masih kerabat. Masa tidak gembira kerabat jadi kepala desa. Tapi sekarang kurang ajar. Tuntutan dilanjutkan, kalau perlu dihukum mati, jangan ada sisa. Kalau ada yang tersisa bisa membuat rusuh desa."

Kematian Salim alias Kancil dan lukanya Tosan, menggemparkan Lumajang bahkan membuka borok bisnis tambang pasir ilegal di Desa Selok Awar-awar.

Seperti apa bisnis itu berjalan dan mengapa warga menolak? Simak kisah bagian ketiga .


Editor: Quinawaty Pasaribu
  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!