Pompa dengan tabung gas elpiji. Foto: Yudha Satriawan/KBR

KBR, Jakarta - Suara mesin pompa menderu di tengah Waduk Cengklik, Boyolali, Jawa Tengah.
 
Lebih dari 50 petani menggunakan lahan waduk yang mengering. Salah satunya, Dibyo. Ia bercerita, menanam padi dan tanaman pangan di lahan itu sudah menjadi tradisi tahunan saat kemarau.

“Ya seperti ini kondisi persawahan di waduk. Ini sawah musiman kalau kondisi waduk mengering,” kata Dibyo pada KBR.
 
“Sawah saya empat ribu meter, sekali menyiram lahan ini butuh waktu dua hari. Ini saya tanam kedelai dan kacang, ini baru pertama saya tanami itu. Biasanya saya tanami padi."

"Kalau kedelai butuh waktu tiga bulan, enam kali menyirami dengan air. Kalau menanam padi butuh banyak air, satu bulan saja enam kali menyirami. Ya memang boros di musim kemarau ini, mending begini daripada saya menganggur.”
 
Kata Dibyo, hasil panen dari situ cukup untuk kebutuhan keluarganya. Meski hanya berlangsung 5 hingga 6 bulan saja. Lepas itu, ia menjadi buruh bangunan.
 

Pompa Modifikasi

Sekitar 25 meter dari tanggul waduk, tampak pompa air.
 
Tapi pompa air itu tak biasa.
 
Pompa yang dipasangi payung itu menyatu dengan tabung gas elpiji yang juga dipayungi. Tujuanya demi menghindari terik matahari dan menimbulkan ledakan.

Mereka tak mau bernasib sama seperti dua petani Sragen yang menjadi korban ledakan gas

Air pun menyembur dari selang yang tersambung dari pompa air berbahan gas elpiji itu.
 
Sugimin, si pemilik pompa air modifikasi itu mengatakan, dengan hasil kreasinya itu, dia bisa berhemat biaya tiga hingga lima kali lipat dibanding menggunakan bahan bakar minyak.
 
“Saya pakai pompa berbahan bakar gas elpiji karena jauh lebih hemat, sehari saya hanya butuh satu tabung ukuran 3 kilogram. Kalau pakai bahan bakar minyak butuh 10 liter, bandingkan biayanya satu tabung gas elpiji paling mahal 20 ribu rupiah. Kalau bahan bakar minyak lebih dari 75 ribu rupiah."

"Pompa dinyalakan dari jam 6 pagi sampai jam 6 petang, mesin ini saya utak-atik sendiri. Tapi saya kurang tahu ini bisa merusak mesin pompa atau tidak. Nyatanya banyak yang pakai pompa air bahan bakar gas elpiji ini. Terutama para petani di sekitar waduk ini, banyak yang pakai elpiji pompa airnya,” kata Sugimin.
 
Tak hanya Sugimin, ada puluhan petani lainnya yang juga melirik menggunakan pompa air berbahan bakar gas elpiji.
 
Salah satunya, Wagiyo.
 
“Ya kalau pakai elpiji jelas lebih murah dan lebih irit, tidak perlu antre beli premium atau solar ke SPBU. Cuma ke toko atau pangkalan gas elpiji,” ucap Wagiyo.
 
Namun tak semua petani di sana mau menggunakan pompa air yang dimodifikasi itu.
 
Sukiman, lebih memilih pompa air berbahan bakar minyak daripada gas elpiji. Meski kata dia, pompa air berbahan gas elpiji lebih hemat.
 
“Masalahnya di karburasi, saya akui pompa air berbahan bakar gas elpiji jauh lebih hemat, lebih irit apalagi di musim kemarau ini. Kalau pakai tabung ya sekitar 15 sampai 20 ribu rupiah, kalau pakai bahan bakar minyak sekitar 50 sampai 70 ribu rupiah," ungkap Sukiman.

"Tapi saya lebih tenang pakai pompa air. Takut mesin pompa cepat rusak. Karburasi jadi kering, tidak seperti kalau memakai bensin. Sebab kalau pakai elpiji tidak ada pendinginnya beda dengan yang pakai bahan bakar minyak.”
 
Bertahan di kala kemarau dan krisis air menjadi pilihan para petani di musim tanam ke 3 tahun ini.
 
Dan, berkerasi dengan segala cara dilakukan demi mewujudkan ambisi pemerintah.
 

 

Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!