Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Foto: Nurika Manan/KBR

KBR, Jakarta - Sebuah papan bertuliskan Pos Pemeriksaan Lintas Batas Entikong, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat tegak berdiri.
 
Deretan mobil berplat Malaysia mengantre. Menunggu giliran di gerbang perbatasan. Itulah penampakan yang saban hari terlihat di sana.
 
“Setiap hari, memikul-mikul dan angkut barang terus dibawa ke Malaysia atau dari Malaysia ke Indonesia. Jasa pikul. Buruh. (Berapa biasanya ongkosnya, Bu?) Tergantung, tengok barangnya, beratnya berapa. Kadang orang kasih 20 ribu Rupiah, kadang 10 ribu Rupiah. Kadang 10 Ringgit,” ungkap Utin kepada KBR di sesela waktu ngasonya.
 
Namanya Utin Sumitalsi, warga Entikong.
 
Kala melintas di jalan berbatasan, ia tengah menjunjung bawaan besar di kepalanya. Barang yang dibungkus kain itu dililit kain yang berfungsi sebagai tali -pengait antara barang dengan kepala.
 
Tapi Utin tak sendiri. Perempuan lain menyusul, juga para lelaki.
 
Mereka adalah buruh panggul di Malaysia. Ketika memasuki negeri jiran itu, Utin dan yang lain harus menjalani pemeriksaan, begitu juga sebaliknya.
 
“Kalau ke Malaysia, selain bekerja, kami jalan-jalan, bersantai, belanja juga. Enak di sana, selega-leganya. Orang sini belanja sehari-hari ke Malaysia. Kalau kami di sini, belanja gula, minyak goreng, telur, segala macam ke Malaysia. Bandingkan, gula kita itu 15 ribu rupiah, di Malaysia cuma 7 ribu rupiah aja. Dua Ringgit lebih, satu Ringgit sekitar 3 ribu rupiah,” keluh sekumpulan warga yang ditemui KBR di Pos Perbatasan.
 
Nike dan Subhan, dua warga Entikong yang berada di dekat pos lintas batas mengaku, hampir seluruh kegiatannya ada di Malaysia. Mulai dari kerja, cek kesehatan hingga pelesiran. Seperti yang diceritakan Manzur.
 
“(Tiap hari menyebrang ke Malaysia, Pak?) Tidak, jarang, kalau ada perlu saja. (Perlunya biasanya apa?) Kalau berobat saja, saya rutin berobat ke sana ke rumah sakit di Malaysia. (Karena jauh ke Pontianak?) Bukan masalah jauhnya, karena biayanya. (Obatnya murah di Malaysia?) Iya, obatnya juga paten. Obat kita (Indonesia) ini tengok lah, bangunannya (rumah sakit Indonesia) saja yang mewah tapi dari segi pelayanannya?”tutur Manzur yang dijumpai KBR di pintu keluar Pos Pemeriksaan Kawasan Tebedu, Malaysia.
 
Biaya yang mahal dan jarak yang jauh, jadi alasan mengapa warga Entikong lebih memilih ke negara tetangga.
 
Hal itu terbukti ketika KBR ke sana; butuh enam hingga tujuh jam dengan mobil dari Entikong ke Pontianak. Belum lagi lubang lebar yang menganga di sepanjang perjalanan menuju Ibukota Kalimantan Barat itu.
 

Patroli Perbatasan

Tapi, sedikit harapan muncul. Sejak September lalu, sekitar 500 meter dari Pos Perbatasan Indonesia-Malaysia, perbaikan jalan sedang berlangsung. Proyek Kementerian Pertahanan dan TNI AD itu merupakan jalur inspeksi dan patroli perbatasan.
 
Komandan Satgas Pelaksana Pembangunan, Pengamanan dan Pemberdayaan Wilayah Pertahanan Kawasan Perbatasan Negara, Subagyo.
 
“Sekarang kita ada di jalan yang disebut, Jalur Inspeksi dan Patroli Perbatasan, yang merupakan salah satu program fisik Kementerian Pertahanan. Nah, sesuai dengan program prioritas pemerintah Kabinet Kerja yang salah satunya, nomor tiga adalah membangun Indonesia dari pinggiran. Inilah wujud yang dikerjakan Kementerian Pertahanan,” jelas Subagyo.
 
Ia juga mengatakan, proyek ini akan sangat membantu anggotanya berpatroli di patok perbatasan. Tak hanya itu, meski bukan jalan untuk lintasan umum, tapi warga Entikong diperbolehkan lewat. Kembali Subagyo.
 
“Jalan ini secara aspek pertahanan akan memperlancar pelaksanaan patroli pos-pos pengamanan perbatasan dalam melaksanakan tugasnya, di samping itu akan membantu masyarakat meningkatkan ekonomi. Karena masyarakat yang di kampung-kampung selama ini belum ada jalan, maka ini bisa dimanfaatkan. Sebagai contoh, masyarakat di dalam sana (menunjuk hutan) yang akan ke Entikong, tentu diperbolehkan menggunakan jalan ini,” terang Subagyo.
 
Ia pun sesumbar, proyek tersebut bakal meningkatkan perekonomian warga setempat. Betulkah? Simak kisah bagian kedua .
 




Editor: Quinawaty Pasaribu
 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!