Foto wisuda Yulianus Rettoblaut atau Mami Yulie. Foto: Rebecca Henschke/KBR

KBR, Jakarta - Rambutnya disanggul, lipstiknya merah, senada dengan kebaya dan songket Palembang yang ia kenakan dibalik toga.

Sembari memegang buket bunga dan ijazah, senyum Yulianus Rettoblaut atau biasa disapa Mami Yulie, terus mengembang.

"Saya atas nama waria Indonesia, kami mampu untuk bisa berkiprah, duduk sama tinggi dan sama rendah di antara masyarakat yang ada di Indonesia," ungkapnya di hari wisudanya di Jakarta.

"Selama ini stigma dan diskriminasi selalu ada dalam komunitas kami. Saat ini saya datang sebagai orang yang ingin membuktikan kepada masyarakat dan negara bahwa komunitas waria juga bisa maju dan bisa mengenyam pendidikan."

Mami Yulie lulus cum laude dengan IPK 3,85 dan tesisnya dianugerahi sebagai yang terbaik.

Nur Syamsudin, dosen pembimbing tesis Yuli mengatakan, tesis yang diangkat anak didiknya itu belum pernah ada di Indonesia.

"Dari cara penulisan dan materi di dalamnya sesuai petunjuk. Ini satu-satunya yang mengangkat HAM dari transgender. Mungkin belum pernah ada di Indonesia," kata Syamsudin.


Kisah Yulianus Rettoblaut

Yulianus Rettoblaut lahir 54 tahun lalu sebagai laki-laki. Dia lahir juga besar di Papua.

Ketika remaja, ia mulai merasakan perbedaan identitas seksual dalam dirinya. Tapi keluarga tak menerima, hingga kemudian ia ditelantarkan di Jakarta. Padahal saat itu Yulie muda, tengah kuliah.

Putus kuliah, ia terpaksa menjadi pekerja seks selama 17 tahun demi menyambung hidup.

Tapi, jalan hidupnya berubah: dia menjadi aktivis hak-hak waria, membentuk Forum Waria dan rumah singgah bagi waria berusia lanjut.

Yulie lantas mencalonkan diri sebagai anggota Komnas HAM pada 2007 dan 2012 – namun keduanya gagal. Sebab kala itu, dia hanya memegang ijazah SMA.

Kegagalan itulah yang membuatnya bertekad kuliah.

"Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk membalas itu adalah pendidikan. Dengan intelektualitas ini kita bisa melawan. Kita buktikan dulu hal positif kepada masyarakat bahwa kita ini mampu."

Dia kuliah S1 hukum dan lanjut ke S2 untuk jurusan yang sama.

"Saya memilih hukum karena itulah masalah yang kami setiap hari di komunitas. Mereka hampir setiap hari mengalami kekerasan, pemukulan, pembunuhan yang kasusnya tidak pernah selesai."

Dan tekadnya berbuah manis; ia menjadi salah satu lulusan S2 terbaik di Universitas Tama Jagakarsa.


Wisuda Mami Yulie

Di luar gedung, belasan waria menunggu Mami Yulie. Salah satunya, Miss Waria Lucky Diah Pithaloka.

"Bangga, kami bangga sekali. Kalau pendidikan kita utamakan, ke depan pasti akan lebih baik. Saya ingin, dengan Mami wisuda, pemerintah melihat. Saya ingin setidaknya setiap tahun ada berapa teman kita yang dikuliahkan."

Belakangan, Yulie memilih melanjutkan kuliah S3 dan sudah mulai sejak 26 September ini.

Baginya, waria harus sekolah.

Dengan prestasi, orang-orang, keluarga, dan lingkungan akan mengakui keberadaan mereka. Sehingga hidup mereka nyaman. Kalau mereka hidup di pinggir jalan sebagai pengemis atau pengamen, orang akan melihat waria tetap terpuruk."

Ia pun memperkirakan, ada 1200 waria yang kini menempuh S1.
 
"Sekarang kami tidak bisa ngomong karena 85 persen waria miskin karena tidak punya pendidikan. Saya harapkan 10-15 tahun mendatang ada 3000 waria yang S2 dan S3, orang melihat kami berbeda karena punya posisi."

Dan kata Yulie, di pundak merekalah stigma waria akan dipatahkan.



Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!