Kopi Arabika Bondowoso. Foto: Friska Kalia/KBR

KBR, Jakarta - Di Desa Sukorejo, Kecamatan Sumber Wringin, Bondowoso, Jawa Timur, Mat Hosen tengah memeriksa hamparan biji kopi yang dijemur di halaman Unit Pengolahan Hasil (UPH) Kelompok Tani Maju.

Di lahan seluas dua hektar itu, ia pun sesekali mengecek pekerjanya yang memetik kopi.

Kebun kopi miliknya itu sudah menjadi sumber utama petani berusia 54 tahun tersebut.
 
Padahal sebelumnya, ia tak menyangka kopi yang ditanam jadi salah satu yang terbaik di dunia; Arabika dengan brand "Java Ijen Raung".
 
Mat Hosen pun memutar kembali ingatannya ke tahun 1985, saat dimana ia merintis tanaman kopi.

“Kami sejak tahun 1985 biasa saja, karena tidak ada yang membina. Cara penjemurannya hanya dilempar-lempar saja. Kadang ditaruh di aspal agar dilindas mobil. Harganya juga hanya Rp 2 ribu kadang ya Rp. 3 ribu,” ujar Mat Hosen mengawali cerita pada KBR.

Bersama petani kopi lainnya Sumarhum, Sukarjo, Nanang dan Nur, Mat Hosen bercerita, semula mereka sama sekali buta tentang pengolahan kopi. Sehingga dilakukan dengan ala kadarnya.
 
Meski sudah membentuk kelompok petani kopi tapi tak juga menghasilkan. Barulah pada tahun 2011, cerita keberhasilan itu dirintis.

“Kalau dulu, karena kita tidak terbina dan panennya asal-asalan jadi harganya murah. Kalau sekarang sulit cari kopi gelondongan, semua petani sudah memproses sendiri, karena harganya lebih mahal.”

“Pemerintah yang bermimpi dan baru terbuka pintu hatinya sekitar tahun 2011. Saat itu kami dibawa ke Bali. Kalau cerita itu saya selalu ingin menangis, karena tidak disangka. Bali sudah melalui proses tiga tahun tapi belum ekspor. Kami sendiri saat itu langsung ekspor ke Swiss. Bali saja terkejut, karena Bali lebih dulu memulai proses itu,” kata Mat Hosen dengan mata berkaca – kaca.

Kopi Arabika Bondowoso punya cita rasa yang khas dengan kadar keasaman yang pas. Ini lantaran para petani menerapkan sistem organik. Di mana setiap pohon tanaman kopi dibuat jurang kecil yang akan diisi rumput dan limbah kulit kopi. Fungsinya sebagai pupuk alami.
 
“Semua organik. Alami semua. Kalau organik itu ada gondang-gandung (jurang) dengan jarak 40 sentimeter dari batang. Jurang itu diisi dengan rumput dan limbah kulit kopi, itu yang dimakan akar kopi. Ada rencana pembuatan pupuk organik hasil limbah. Semoga pemerintah bisa memfasilitasi. Kalau ada hama di daun saya tidak berani semprot. Bedanya nanti akan terlihat di cita rasa kopi,” papar Mat Hosen.
 
Kopi Arabika Bondowoso kini telah mendunia.
 
Bahkan Kementerian Luar Negeri bakal memfasilitasi Kopi Arabika Bondowoso menyeberang hingga ke pasar Eropa Tengah dan Timur. Malah lewat Direktorat Eropa Tengah dan Timur, Kopi Arabika Bondowoso yang sebelumnya telah diekspor ke Swiss dan Amerika akan merambah pasar di Rusia, Ceko, Polandia Hungaria, dan negara Eropa.

Direktorat Eropa Tengah dan Timur Kemlu, Tri Sari Paramita.
 
“Kawasan Eropa Tengah dan Timur kopi Bondowoso belum masuk. Tapi dengan adanya permintaan pasar untuk komoditi kopi kami melihat ini kesempatan. Ada beberapa event yang bisa dimanfaatkan antara lain World Food Expo di Moskow. Kami pilih kopi Bondowoso karena sudah punya Sertifikat Indikasi Geografis yang peluangnya besar,”kata Tri Sari.

Ia juga menyatakan, Kopi Arabika dipilih karena kualitasnya yang terjamin dan adanya sertifikat indikasi geografis yang dimiliki 40 kelompok tani.

Sementara untuk panen tahun ini, petani kopi Bondowoso sudah mengekspor 800 ton dengan nilai ekspor mencapai Rp22 miliar.




Editor: Quinawaty Pasaribu 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!