maria, oentoe, dubber, sandiwara, portalkbr

KBR - Sandiwara radio digemari banyak orang pada era 80-an. Maria Oentoe Tinangon yang saat itu menjadi perintis pengisi suara drama radio kebanjiran tawaran. Bahkan Ia menjadi satu-satunya pengisi suara pembuka di seluruh bioskop di Indonesia. Saat sandiwara radio tak lagi populer, tawaran untuk mengisi suara di radio dan film jadi tak seramai dulu. Reporter Evilin Falanta mengikuti keseharian Maria Oentoe diusia senjanya.

#
Bagi anda yang gemar menonton film di bioskop pasti akrab dengan suara berbunyi; “Pintu theater dua sudah di buka, Anda dipersilakan masuk!” Ya! Pesan itu dibawakan Maria Oentoe Tinangon, artis sulih suara paling beken di era 80 - 90an.

“Pokoknya Twentyone ada tuh, saya dicari sama mereka terus rekaman. Pertama rekamannya di sanggar Prativhi, orangnya datang di situ katanya, tolong rekamin suara Maria kita mau buat Twentyone di seluruh Indonesia. Dibikin deh sama mereka. Kemudian pada saat yang terakhir 3-4 tahun yang lalu saya rekamannya di Twentyone seberang Sarinah itu loh, ada Twentyone besar banget nah di situ rekamnya lagi,”

Rekaman suara perempuan beranak tiga ini masih dipakai di seluruh bioskop 21, sejak direkam pada 1970-an dan diperbaharui pada 2010. Tapi sayang, dari suaranya yang diperdengarkan setiap hari di jaringan bioskop 21 itu, Maria hanya dibayar sekali. Tak ada uang royalti atas penggunaan suaranya selama bertahun-tahun itu.

“Yah tidak apa-apa sih kalau tidak dikasih. Cuma waktu itu ketemu teman-teman, ada pak Tantowi Yahya, ada juga teman saya ketemu namanya Pak Bernard. Katanya, kamu kok enggak minta royalty, ya habis waktu itu saya tanya, mereka bilang enggak. Jadi, waktu itu pas langsung dibayar. Katanya, kamu berhak untuk minta royalty dia bilang karena itu bertahun-tahun dipakai. Kan, saya enggak tahu yang kayak gitu-gitu, pokoknya rekaman ya rekaman aja. Kata dia, harusnya ada royalti itu ada hukumnya,” tandasnya.

Untuk perkara yang satu itu, Maria Oentoe hanya bisa pasrah. Dia tak mau memperpanjang perkara dengan dalih tak banyak mengetahui prosedur penuntutannya. 


Setelah Radio Tak Populer

Seiring perkembangan zaman, sandiwara radio ditinggalkan pendengarnya. Tawaran untuk menyulih suara pun makin jarang. Tapi Maria tak khawatir, sebab segala kebutuhannya sehari-hari tetap bisa dipenuhinya. “Kalau lagi tidak punya uang tiba-tiba ada aja kerjaan gitu loh, itu saya percaya. Tapi, kalau memang saya sudah kepepet betul pasti anak-anak saya kasih. Ya, Tuhan segalanya buat saya karena ibu selalu berterima kasih akan apa yang ibu tempuh ini.”

Pun di kala usia senja, Maria Oentoe tetap bisa mendapatkan uang berkat suara emasnya yang melegenda. Adalah Dimas Adiputro, Mahasiswa Universitas Nusantara yang itu hari mengajak Maria Oentoe syuting dalam filmnya. “Kan kita lagi cari peran ibu, terus kebetulan juga ibu pernah ngalamin kisah yang kayak gini makanya, wah cocok banget neh. Jadi, kita udah patenin bu Maria yang jadi pemeran ibunya disini. Saya dapat rekomendasi dari sutradara film Bajaj Bajuri aja sih, dan kebetulan beberapa filmnya udah pernah nonton.”

Kini kehidupan Maria, tak lagi seperti dulu. Ia tinggal seorang diri dengan sangat sederhana. Padahal, anak-anaknya yang bekerja sebagai editor di sebuah stasiun televisi swasta, punya penghasilan cukup untuk menghidupinya. Juga anaknya yang bekerja sebagai diplomat.

Masih di kawasan Kelapa Gading, Maria yang tengah menjalani syuting, kembali menerima tawaran untuk bermain film pada tahun depan. “Kebetulan dia bilang temannya ibu Lasya Susatyo yang bikin film Sebelum Pagi Terulang Kembali. Ceritanya, mau diajakin main film lagi. Dia bikin multi plot jadi ada empat film, tapi berkesinambungan gitu loh orangnya beda-beda.”

Di rumahnya di bilangan Depok, Maria Oentoe hidup seorang diri seraya menanti tawaran untuk bermain film atau bahkan mengisi suara. Suara emasnya di beragam sandiwara radio, tetaplah melegenda.

Kembali ke awal: Senja Bagi Maria Oentoe

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!