maria, oentoe, dubber, sandiwara, portalkbr

KBR - Pada era 80-an, beragam sumber informasi dan hiburan banyak didengar orang lewat radio. Di era itu pula, banyak orang senang dan kagum mendengar suara khas Maria Oentoe Tinangon. Suaranya membahana di berbagai radio tanah air, dalam sajian sandiwara, iklan radio dan bahkan film. Dia adalah pemula usaha pengisi suara di negeri ini. Reporter KBR Evilin Falanta berkunjung ke Depok, untuk melihat Maria dengan daya hidupnya, saat bisnis radio tak sepopuler dulu.

#
Di perumahan Cenning Ampe, Depok Timur, Jawa Barat, sinar matahari terasa menyengat kulit. Di sebuah teras rumah di sana, seorang perempuan tua berusia 68 tahun, menunggu mobil jemputan untuk syuting film. Perampuan itu, Maria Oentoe Tinangon, pelopor pengisi suara radio beken di era 80-an. Sebuah masa di mana sajian sandiwara radio berjaya di tanah air. Suara emas Maria Oentoe, membawanya terjun ke dunia hiburan, mulai dari siaran radio sampai perfilman.

“Lulus SMA ada yang ngajakin, Maria kalau didengar suara loe kayaknya bagus deh untuk penyiar. Saya jadi penyiar neh, kebetulan saya masuk mahasiswa waktu itu, di mahasiswa itu ada radio angkatan muda (RAM) namanya. Nah, siaran deh aku kemudian radio angkatan muda itu jadi Radio Sonora,” paparnya memulai cerita. ”

Saat jadi penyiar radio, Maria Oentoe baru saja kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Rawamangun yang namanya kini diubah jadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Dia tak juga tak mempelajari ilmu penyiaran khusus saat itu. Semua serba otodidak, cuma bermodal suara emasnya. “Waktu disuruh siaran emang aku siaran aja, emang udah senang, enggak belajar. Waktu itu kan teman saya dengar terus nanti kamu harus gini gini ya Maria, itu sembari berjalan. Katanya, kamu nanti ngomongnya harus gini gini ya.””

Di dunia penyiaran, karir Maria Oentoe cemerlang sejak 80 hingga 90-an. Dia pernah siaran di Radio Sonora, Radio Nenggala Broadcasting Services, Radio Antar Nusa dan lainnya. Hanya saja, dia berhenti bersiaran di radio selepas melahirkan putra keempatnya, Agustinus Christorus Tinangon. Tapi tak lama, dia bekerja di sanggar Prativhi bersama sang Suami, Rudi Tinangon.

“Suami saya kan juga kerja di Sanggar Prativhi, itu membuat sandiwara-sandiwara radio, sketsa remaja atau renungan atau macam-macam deh. Ada yang ajak saya, Maria ikut saya untuk bikin mimbar agama katolik di RRI namanya itu pak Pius Popey, terus dari situ suara saya didengar oleh bapak John Simamora sutradara drama radio di RRI. Dia manggil saya untuk ikut main di sini. Akhirnya saya ikut,”

Waktu itu, Sanggar Prativhi menjadi terkenal memproduksi sandiwara radio hingga iklan. Di sanggar itu, Maria Oente merintis karirnya sebagai pengisi suara atau dubber. Suara emasnya membuat banyak orang mencarinya. Misalnya pada 1975, Ia kebanjiran tawaran untuk mengisi suara berbagai sandiwara radio maupun film drama televisi.

“Ada sutradara-sutradara film, tapi astradanya yang datang untuk ngajak saya dubbing film. Itu rupanya, dia dengar juga sandiwara terus dia bilang oh kamu cocoknya untuk ngisi peran utama. Saya lupa waktu itu peran utamanya siapa, pokoknya saya pertama kali udah disuruh isi suara untuk peran utama, terus dia bilang suaranya cocok sama yang main. Dari situ berawalnya saya dubbing-dubbing terus, saya pernah dubbing sama Teguh Karya, saya pernah dubbing sama bapak  Ami Priyono,” jelasnya.

Wanita kelahiran 1946 itu akhirnya terjun merintis usaha pengisi suara radio di Indonesia. Suaranya saat itu membahana melalui sandiwara radio Saur Sepuh, Tutur Tinular, Ibuku Malang Ibuku Tersayang. Tak hanya di radio, suaranya juga melegenda pada sejumlah film di Indonesia. Seperti; Badai Pasti Berlalu, Penikahan Dini pada 1987, Cau Bau Kan pada 2002 dan yang terbaru; Sebelum Pagi Terulang Kembali.

Maria Oentoe masih ingat beberapa dialog drama radio yang pernah dilakoninya. Baru saat era 90-an, perempuan kelahiran Ciamis ini mendirikan studio pengisi suara di kawasan Tebet. “Jadikan studio untuk dubbing, itu di Tebet. Dulu kan ibu masih tinggal di Tebet, studio dubbing itu permulaan cuma satu, terus jadi dua, jadi tiga. Nah, akhirnya bisa jadi enam studio. Waktu itu dubber film-film yang di dubbing itu lagi marak banget.”

Sayang studio yang ia bangun bersama almarhum suaminya tak berdiri lama. Raut wajahnya cepat terlihat sedih jika mengingat peristiwa sepuluh tahun silam. “Pagi hari itu bulan Mei tiba-tiba saya ditelpon. Ibu studionya terbakar, saya kaget banget. Kamu jangan main-main, ya ibu datang aja deh. Nah, jadi kabelnya itu terkupas nah itu yang bikin percikan api. Untung enggak ada yang meninggal. 2003 studio saya terbakar, 2004 anak saya meninggal, 2005 suami saya meninggal. Itu bener-bener saya down banget. Akhirnya, saya bikin lagi di Pasar Minggu tapi cuma dua studio akhirnya saya tutup karena saya udah tidak konsentrasi.”

Perlahan usaha sulih suara tak semarak seperti dulu. Sandiwara radio pun mulai ditinggalkan pendengarnya. Sementara Maria Oentoe, menyibukkan diri dengan menjadi pembaca firman di gereja. Kadang sesekali, dia menerima panggilan sebagai pembawa acara pesta (Master of Ceremony) dan syuting film.

“Udah enggak ada apa-apa lagi sekarang, kecuali kalau dipanggil. Misalnya, Maria isi acara ini ya, datang deh. Jadi, sudah tidak ada kegiatan. Banyakan di rumah aja karena udah banyak yang baru-baru kan aku udah tua, kecuali mereka udah kenal terus aku dipanggil,” tukas Maria.

Setelah menunggu berjam-jam di teras rumahnya, mobil jemputan Maria yang ditunggu tiba. Itu hari, Maria Oentoe hari berangkat syuting di kawasan Kelapa Gading. Di usianya yang tak lagi muda, Maria ternyata tetap bekerja, dengan talenta suara emasnya.

Simak lanjutannya: Senja Bagi Maria Oentoe (bagian 2)

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!