tugu, chastelein, belanda, depok, portalkbr

KBR - Di halaman depan Rumah Sakit Harapan, Depok, berdiri tugu Chastelein, tuan tanah Depok yang belum sepenuhnya rampung. Tugu setengah jadi itu hanya ditutup terpal biru. Pembangunan tugu kini diharamkan pemerintah kota Depok. Pemkot Depok sepertinya tak mau sejarah pendiri kota itu diketahui warganya.

#
Seolah hilang dalam sejarah Depok, sosok Cornelis Chastelein, tuan tanah yang membebaskan para budak dihari kematiannya ini memang tak banyak yang kenal. Ibu Ade, salah seorang warga Depok misalnya, mengaku tidak tahu sejarah perjalanan hidup Chastelein. Juga Dodo warga Depok lainnya. Dia hanya mengaku pernah mendengar nama Chastelein, tapi tak tahu sejarah Depok yang menyertakan Chastelein. Ade dan Dodo menjadi dua diantara sekian banyak warga Depok yang tak mengetahui sejarah Chastelein.

Ada lagi pemuda bernamaDauglas Leander. Dia generasi kesepuluh dari keturunan bekas budak Chastelein. Menurut dia, pendirian tugu itu untuk mengingat sejarah pembebasan budak di Depok, pada masa penjajahan Belanda. “Justru kalau menurut pribadi aku ini sebagai sebuah kesempatan buat generasi muda Depok untuk mencoba mengenal dan bicara mengenai kemurnian sejarah tidak lebih dari itu. Dan ini kesempatan buat Depok asli untuk menjelaskan bahwa kita ini yang tadinya selalu diidentikan dengan penjajahan padahal tidak.”

Sementara di kantor Pemkot Depok, di jalan Margonda,Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata Seni dan Budaya, Misbahul Munir menyatakan masih mengkaji izin pembangunan tugu Chastelein. Menurut dia, keberadaan tugu dikhawatirkan merusak keberagaman masyarakat Depok.

“Kami hanya mengkaji dan sedang melakukan dialog terkait unsur-unsur yang terkandung dalam tugu itu. Di dalam tugu itu rencananya ada tulisan yang dalam tanda kutip akan menimbulkan konflik SARA. Tulisannya apa, dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya kami berharap warga Depok menjadi kristiani yang sejahtera. Ini yang harus kita jaga, jangan sampai hubungan beragama yang sudah baik di Depok ini, akhirnya terusik oleh persoalan-persoalan seperti itu.”

Tulisan yang dipersoalkan Munir, yakni tulisan berbahasa belanda, yang berbunyi:"Mijn intentie is dat te Depok mettertijd een fraale Christenbevolking groele,". Anggota Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC), Yano Jonathans, menerjemahkan kutipan itu sebagai "Harapan saya, kelak Depok jadi masyarakat Kristen yang sejahtera."

Untuk itu, dia kembali Meluruskan kalau pembangunan tugu bersama tulisannya itu sama sekali tak terkait dengan isu keagamaan. Semua murni urusan sejarah, bukan soal ahama. “Saya juga enggak mau cari masalah. Saya melihat ini hanya tok dari sejarah. Mungkin pengamatan saya terlalu sempit saya enggak tahu atau mereka melihat dari sudut-sudut lain kan kita enggak tahu,”

Pengurus Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein mendapat dukungan dari berbagai kalangan termasuk sejarawan JJ Rizal. Aparatur kota menurutnya gagal memahami sejarah kotanya sendiri. “Kota itu adalah manivestasi budaya dengan keanekaragaman tradisi, sifat, simbol, kepercayaan, agama. Nah, dalam hal ini otomatis pemerintah kota dengan bersikap menolak tugu Chastelein itu menghilangkan potensi kekayaan kultural Depok,” tukas JJ Rizal kesal.

Sejarawan JJ Rizal melihat jejak peninggalan Cornelis Chastelein pantas dijadikan cagar budaya. Tapi ironinya, bangunan-bangunan tua peninggalan Belanda di Depok saat ini ditelantarkan. Cuma tersisa 4 bangunan tua saja. “Itu kota tua loh di Depok. Maksudnya, kota tua itu kan punya istimewa ceritanya, gedungnya, artefaknya masih ada, komunitasnya masih ada. Itu kan bisa diminta sama Unesco Wolrd Herittage sebenarnya potensi itu kan ada cuma dihancurin gedung-gedungnya.”

Sementara, sejumlah warga seperti ade justru mau tugu Chastelein tetap dibangun.  “Kalau menurut saya sih setuju aja soalnya kan untuk memperingati sejarah kita gitu ya.” Berlanjut tidaknya pembangunan Tugu Chastelein, pengurus YLCC hanya bisa pasrah, seraya menunggu restu pemerintah kota. Sementara pemerintah kota malah bersiasat mengajak pengurus yayasan membahas kelanjutan pembangunan tugu bersama tokoh agama dan sejarawan Depok.

“Ini kan persoalan harus kita dudukan bersama dulu antara YLCC dengan pemerintah, dengan tokoh-tokoh masyarakat, tokoh agama ya kita harus terus merumuskan tentang masalah ini. Kalau memang sudah ada kesepakatan di masyarakat, misalkan terus dibangun dengan berbagai modifikasi dan sebagainya, ya it’s oke. Tidak akan menimbulkan persoalan-persoalan baru yang saat ini Depok sudah kondusif, ya it’s oke bisa teruskan pembangunan.”

Pemerintah Depok, termasuk Kepala Dinas Pariwisata Misbahul Munir yang mempersoalkan slogan di tugu Chatelelein, sepertinya harus membaca ulang sejarah kota yang dikelolanya. Termasuk mempelajari kembali kepanjangan singkatan dari kota DEPOK, De Eerste Protestante Organisatie van Christenen. Arti kalimat itu kurang lebih begini; Organisasi Kristen Protestan Pertama. Organisasi tua, yang dibuat oleh leluhur kota Depok, para bekas budak yang dibebaskan Chastelein.

Kembali ke cerita awal: Polemik Tugu Tuan Tanah Depok

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!