tugu, chastelein, belanda, depok, portalkbr

KBR Setiap kota punya sejarahnya sendiri. Termasuk juga Depok yang pada 300 tahun silam dikuasai tuan tanah asal Belanda, Cornelis Chastelein. Sisa peninggalannya kini masih dirawat oleh keluarga budak yang telah dibebaskan. Untuk mengenang sejarah perbudakan di Depok, mereka berencana mendirikan kembali tugu si tuan tanah. Tapi  pemerintah Kota Depok melarangnya.

#
Bangunan yang menjadi kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) bergaya arsitektur Belanda, persis berada di sudut jalan Pemuda, Depok. Gedung yang di bangun Cornelis Chastelein pada abad ke-18 ini, biasa jadi tempat pertemuan para pastor. Beberapa kali bangunan itu direnovasi, hanya daun-daun pintu, jendela dan genteng saja yang masih asli.

Bangunan itu kini dirawat dan dikelola keluarga keturunan bekas budak tokoh tuan tanah asal Belanda, Chastelein. Di sana Saya berjumpa dengan Yano Jonathan, warga keturunan bekas budak Cornelis. Menurut cerita Jonathan, Chastelein lahir pada 1657. Pada usia 17 tahun dia datang ke Hindia Belanda untuk bekerja sebagai pegawai pembukuan di tahun 1675. Sampai akhirnya terjadi pergantian gubernur jenderal, 1691, Chastelein mengajukan pensiun dengan alasan sakit.

Yano Jonathan adalah satu dari 12 keturunan keluarga budak pribumi yang dibebaskan Cornelis Chastelein tepat di hari kematiannya, 28 Juni 1714. Yano, keturunan keenam dari budak bermarga Jonathan. Menurut Yano, Cornelis Chastelein punya andil dalam sejarah berdirinya kota DEPOK. “Dia mengundurkan diri dari VOC karena tidak cocok dengan politik dagang. Politik dagangnya kan keras dan itu tidak diinginkan. Karena, dia punya cukup uang akhirnya memulai usaha perkebunan dan membeli tanah di wilayah Gambir, Banteng, Senen,”

Cornelis menurut Yano penganut paham hugenoot protestan, sebuah aliran kristen yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian. Aliran ini berkembang pesat di Prancis waktu itu. Karena ajaran itu pula Cornelis Chastelein mundur dari VOC, persekutuan dagang Belanda. Dia tak sepaham dengan VOC yang mempekerjakan warga pribumi jauh dari perlakuan yang manusiawi. Dia lantas membeli budak-budak untuk menjalankan usaha perkebunan di Jakarta.

“Dia melakukan perkebunan di wilayah Banteng. Dulu Banteng itu untuk tebu, kemudian dia bikin pabriknya juga di wilayah North Weith yang sekarang juga dikenal sebagai pintu air, disitu dia juga mengusahakan padi. Nah, untuk mengusahakan ini semua dia mengusahakan pekerja. Dia beli 150 budak untuk mempekerjakan perkebunan-perkebunannya ini. Chastelein membeli budak-budak ini dari kampung Bali, kampung Bugis, Melayu dan sekitarnya, ada orang Flores, NTT, dan sebagainya yang mereka ada di Jakarta yang pada waktu itu mereka menjadi tawanan, budak yang dijual.”

Pada 18 Mei 1669 Chastelein memperluas usahanya ke Depok. Ia membeli lahan perkebunan dari  dari tangan Lucas Van der Meur, tuan tanah yang bercokol di Cirebon. Menurut Yano, hubungan para budak dengan Chastelein terjalin erat karena sosoknya yang ramah. Para budak, kemudian dibaptis menjadi 12 marga, diantaranya; Jonathans, Laurens, Loen, Soedira, Isakh, Samuel, Joseph, Leander, Jacob, dan Zadokh.

Tapi pada 28 Juni 1714 tuan tanah kelahiran Amsterdam itu meninggal dunia. Kedua anaknya Anthony dan Maria membacakan surat wasiat untuk para budaknya. “Di dalam surat wasiat ini ada isi yang penting bagi orang-orang dia. Yang pertama, mereka dibebaskan dari perbudakan, kedua dia mewariskan harta miliknya sebagian besar di Depok pada budak-budaknya. Yang diwariskan oleh Chastelein itu Depok tanahnya kira-kira luasnya 1240 hektar. Disana, di tanah-tanah itu ternyata ada tanah-tanah milik Chastelein yang tidak diserahkan kepada pemilik-pemilik pribadi, seperti gereja, bangunan ini, dan makam juga tidak,” jelas Yano menyari surat wasiat sang tuan tanah.

Setelahnya, anak dan cucu 12 marga bekas budak Chastelein menjadi leluhur komunitas asli Depok. Persisnya1876, mereka membangun masyarakat Depok sekaligus mendirikan pemerintahan otonom. Sejumlah peraturan dibuat, termasuk peraturan yang dikenal dengan nama Reglement van Het Land Depok (Peraturan dari Negeri Depok).

“Di dalamnya ada tentang presidennya berapa lama menjabat, ada bendaharanya. Kemudian di sana juga diatur bagaimana mereka harus mengatur pajak atas padi yang dimiliki oleh orang-orang Depok,” ungkapnya.

Mereka kemudian membangun kantor pemerintahan. Gedung bekas kantor pemerintahan otonom itu, kini menjadi Rumah Sakit Harapan. “Iya itu dulu pusat pemerintahan Kota Depok. Di masa itu yang bangun orang Depok sendiri tapi masih dalam bentuk gedek. Itu ada tulisannya Komite Bestier artinya Pusat Pemerintahan.”

Oleh keluarga ke-12 marga, 28 Juni yang merupakan tanggal kematian Chastelein dirayakan sebagai hari jadi kota DEPOK. Dulu pada 28 Juni 1941, mereka mendirikan tugu Chastelein di depan halaman Rumah Sakit Harapan. Tapi tugu itu dihancurkan pemerintah pada 1960 silam. Dalih penghancuran, pemberangusan simbol antek-antek Belanda.

Lalu tepat 28 Juni lalu, mereka kembali membangun tugu Chastelein. Tapi sebelum tugu rampung berdiri, pemerintah kota Depok melarang untuk diteruskan. Dalihnya kurang lebih sama, bekas penjajah tak layak dikenang dan dihormati.

Baca sambungan kisahnya: Polemik Tugu Tuan Tanah Depok (bagian 2)

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!