Ilustrasi: Pendeta Stephen Suleeman bersama dengan mahasiswa STT Jakarta. (Foto: Ninik Yunarti)

Ilustrasi: Pendeta Stephen Suleeman bersama dengan mahasiswa STT Jakarta. (Foto: Ninik Yunarti)

KBR - Kelompok Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT) masih menjadi kelompok yang direndahkan. Lembaga agama menjadi salah satu pihak yang paling keras mengecam keberadaan kelompok ini. Tak jarang, pengucilan oleh masyarakat mendorong LGBT bunuh diri. Baru belakangan, muncul lembaga agama yang berani mengakui keberadaan LGBT.

Di sebuah sekolah di Tangerang, saya berjumpa dengan pendeta Stephen Suleeman yang memimpin kebaktian. Pendeta Stephen ini adalah sosok yang langka di dunia keagamaan. Ia mungkin satu-satunya agamawan di Indonesia yang tegas mendukung kaum Lesbian Gay Biseksual Transgender (LGBT). Seperti pagi itu, Pendeta Stephen Suleeman berkhotbah mengajak jemaatnya mengasihi kaum minoritas, salah satunya kaum LGBT.

“Saya tahu bahwa mereka harus diterima sebagai manusia, seperti orang lain, sama aja nggak ada bedanya. Sama seperti kalau di Amerika misalnya, bagaimana orang-orang kulit hitam, harus diperlakukan sama seperti orang-orang kulit putih lainnya. Itu saja, sederhana sekali bahwa sebagai seorang Kristen, saya percaya tidak boleh satu orang pun diperlakukan diskriminatif, apapun juga latar belakang dia, apapun orientasi seksualnya, agamanya, bahkan ideologinya pun, itu tidak boleh menjadi dasar untuk melakukan diskriminasi.”

Menurut Stephen, mayoritas agama masih menganaktirikan LGBT. Semua terjadi karena pemuka agama malas mempelajari kembali tafsir lama. “Mereka ini kan orang-orang teologi ini misalnya mulai mencoba menggali, misalnya kenapa teks-teks kitab suci, ditafsirkan mengutuk homoseksualitas. Setelah dicoba dibaca, ternyata kita harus lebih kritis, ternyata ada berbagai macam tafsir di dalam kekristenan sendiri, yang bisa membuat orang melihat homoseksualitas dari sudut yang lain. Misalnya, teks yang klasik kan, Sodom dan Gomorra, sekarang orang mulai mengkritik teks itu dan melihat bahwa teks itu tidak berbicara tentang homoseksualitas, tapi berbicara tentang ketidakramahan yang dilakukan oleh penduduk Sodom, terhadap tamu-tamu yang datang ke rumah Luth.”

Stephen sendiri mengaku sempat anti dengan homoseksual. Namun pandangannya berubah setelah melihat langsung para pemuka gereja di Amerika Serikat merangkul dan mengasihi kaum LGBT. “Buat Saya nggak ada pertentangan batin, karena itu sudah selesai, waktu Saya di Amerika udah selesai, sebelumnya memang saya boleh dikatakan, saya harus diakui Saya homophobi, tapi ketika saya melihat bagaimana gereja di sana, melakukan pelayanan secara terbuka, saya sadar bahwa memang ini yang harus dilakukan oleh gereja,”

Kini Stephen menjadi pendeta pembela LGBT paling lantang di negeri ini. Bahkan belum lama, Stephen mendorong lembaga tempatnya mengajar, Sekolah Tinggi Teologi Jakarta, mengkampanyekan dukungan terhadap LGBT. Seperti pada Hari Pencegahan Bunuh Diri  Sedunia (World Suicide Prevention Day) tahun ini. STT Jakarta tegas memotret bunuh diri di kalangan LGBT. Termasuk Festival Film Queer yang dengan suka cita terselenggara di kampusnya.

“Kita mengadakan pekan LGBT, tahun ini kita mau bikin, konsultasi internasional tentang gereja dan homophobia. Lalu kita bikin kegiatan, support group sebulan sekali, dengan teman-teman LGBT, bertemu dengan mahasiswa. Jadi mahasiswa juga bisa dengar, pengalaman hidup teman-teman LGBT, dengar sendiri penderitaan mereka, dan dari situ mereka membangun empati. Tahun lalu juga kami bikin acara peringatan World Suicide Prevention Day, 10 September yang lalu, tahun ini kami bikin lagi. Karena kami melihat bahwa tingkat bunuh diri di kalangan LGBT itu sangat tinggi. Jadi kami sangat prihatin, bahwa selama ini, sangat sedikit yang dilakukan oleh, masyarakat maupun agama, untuk mencegah bunuh diri,” ungkapnya.

Berkat kerja keras Stephen, sejak lima tahun terakhir, STT Jakarta menerima LGBT di tengah-tengah mereka dengan tangan terbuka. Bahkan tak sedikit mahasiswa yang berani menyatakan diri sebagai gay atau lesbian. Salah satunya, Nathan, bukan nama sebenarnya. Mahasiswa semester 7 ini sudah setahun menyatakan dirinya gay.

Anak bungsu dari 6 bersaudara ini sebelumnya gelisah dengan orientasi seksualnya. Dihantui perasaan berdosa, Nathan meninggalkan Batam ke Jakarta untuk menempuh studi teologi di STT Jakarta. Pikirnya, menjadi pendeta bisa memusnahkan orientasi seksualnya. “Saya masuk sekolah teologi itu juga karena saya supaya saya, semakin deket sama Tuhan. Manatahu, bisa disembuhkan, saya kira, ternyata nggak. Mungkin ini jalannya gitu khan.”

Tak dinyana, Nathan justru menghirup udara kebebasan. Gay menjadi pilihan hidupnya. “Sangat beruntung, ini hidup gue yang paling beruntung, ya gue kuliah di sini. Kalau gue nggak kuliah di sini, mungkin saya hidup dengan ketakutan-ketakutan yang nggak penting gitu lho. Yang membuat hidup saya jadi nggak bisa mengembangkan kemampuan saya. Jadi saya lebih tertutup mendengar ceramah, pulang, berdoa, minta ampun, mungkin buka internet tentang gay juga, minta ampun lagi, ketakutan dan siklus-siklus seperti itu,” jelas Nathan yang bersiap menjadi pendeta.

LGBT lain belum tentu mengalami nasib semujur Nathan. Di banyak lembaga agama, LGBT tidak jua mendapat pengakuan. Kondisi ini tak jarang memaksa LGBT berpindah agama. Sementara aktivis perempuan Nong Darol Mahmada mengakui sebagian besar ulama Islam tidak toleran terhadap LGBT. Sebagian kecil yang sudah menerima menurutnya baru sebatas kesadaran pribadi. Apalagi alasan teologis untuk mengakui LGBT sulit ditemukan dalam Islam.

“Kalau pribadi, kita tuh udah clear, nggak usah ditanya lagi. Tapi kalau untuk minta justifikasi agama, ntar dulu deh, pelan-pelan, ayo kita kerjakan bareng-bareng. Kamu kalau tanya ke ulama-ulama yang seprogresif apapun, kalau ditanya soal LGBT, pasti jawabannya, kita bicaranya kalau LGBT human right aja deh,” jelas Nong.

Sadar akan kelemahan ini, Nong minta kaum LGBT muslim menawarkan tafsir agama Islam baru versi mereka. Menurut Nong, para LGBT muslim tidak bisa berharap bantuan dari kelompok lain. Mereka, harus unjuk gigi agar keberadaan mereka dihargai. Juga tak ada lagi bunuh diri.

Baca ke cerita awal: LGBT dan Tren Bunuh Diri

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!