Ilustrasi: Marlyn Sopjan aktivis transgender Indonesia.

Ilustrasi: Marlyn Sopjan aktivis transgender Indonesia.

KBR - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat 800 ribu kematian di dunia setiap tahunnya disebabkan bunuh diri. Sementara para Lesbian Gay Bisexual dan Transgender (LGBT) merupakan salah satu kelompok yang berpotensi melakukan bunuh diri. Faktor psikis dan stigma masyarakat jadi pemicunya.

“Aku kemudian ambil gelas, aku ambil Baygon semprot, Aku semprotin, udah kan, pokoknya hari itu aku nekat, Aku sih waktu itu pokoknya pengen minum aja. Aku minum kan, itu yang di mana hari itu, pada saat Aku kemudian, Aku minum. Kemudian Aku lupa ternyata yang Aku masukan itu kan cairan semprot, bukan cair, berarti cuman baunya, nggak ada cairannya. Apa yang mau Aku minum, tapi itulah yang Aku bilang keajaiban Tuhan, itu rencana Tuhan kalau buat Aku.”

Merlyn Sopjan masih ingat detik-detik ia nyaris mengakhiri hidupnya 25 tahun silam. Merlyn remaja saat itu resah dengan identitas dirinya. Terlahir sebagai laki-laki bernama Aryo Pamungkas, ia merasa berbeda dengan kawan sebayanya. Jiwanya perempuan, dalam bungkus raga kaum Adam. Tapi menjadi waria di era 90-an baginya terasa berat. Waria masih dianggap sampah.

“Waria itu mungkin kalau bunuh diri di Indonesia dibolehkan, mungkin banyak yang sudah bunuh diri, ketika mereka sadar mereka waria. Karena mereka tahu, ke depan ini ketika mereka keluar dari rumah, hidup yang mereka jalani hari ini, luar biasa keras dan berat. Hari itu (tahun 90an) belum diangkat menjadi bagian. Bahkan di LGBT pun belum ada, dibedakan, yang dirangkul masih gay sama lesbian, waria aja belum. Kita bisa membayangkan, sebegitu diskriminatifnya.”

Pada era itu, kelompok gay dan lesbian sudah berorganisasi. Mereka menggelar kongres pertama di Kaliurang Yogyakarta Desember 1993, tanpa menyertakan kelompok waria. Menurut Merlyn, fenomena bunuh diri di kalangan Lesbian Gay Bisexual Transgender (LGBT) kerap terjadi, karena seseorang sulit menerima identitas diri. Belum lagi penolakan keluarga dan stigma dari masyarakat.

Kisah bunuh diri lainnya juga diceritakan Hartoyo, seorang gay. Dia ingat Jonas, rekannya yang juga gay, ditemukan tewas setelah menenggak cairan pembunuh serangga.

“Memang dia agak complicated ya, dia itu seorang gay dan dia itu master lho S2 dan kerja. Kita bayangkan master kerja di perusahaan, seburuk-buruknya pasti gajinya 7 juta, 10 juta. Dia meninggal mungkin setahun yang lalu. Dia memberikan kagetan-kagetan dramatis yang membuat keluarganya  tambah shock, setelah dia ngaku bahwa dia tidak Islam lagi, pindah agama Kristen, terus dia bilang dia gay,” papar Hartoyo.

Hidup Jonas terpuruk setelah divonis positif mengidap HIV-AIDS. Jonas juga makin tak berdaya setelah ongkos pengobatan tak lagi ditanggung asuransi kesehatannya. Jonas sempat ingin menumpang di rumah Hartoyo. Sayang waktu itu Hartoyo ragu karena Jonas mengidap HIV dan tuberculosis.

“Kan ngeri ya kalau misalnya kita satu kamar, kan bisa menular. Jadi aku waktu itu, pokoknya dia butuh aku, tapi dia tidak memberikan perhatian maksimal, padahal dia sebenarnya cuma butuh shelter. Dan aku merasa bersalah banget. Dan itu aku kayak trauma, aduh ya Alloh, kok aku kayak memberi kontribusi dia jadi bunuh diri.”

Kematian tragis Jonas, menginspirasi Hartoyo bersama komunitas Suara Kita yang dipimpinnya, mendirikan shelter atau rumah penampungan bagi para LGBT yang hidup dengan HIV. Di tempat itu, LGBT menjalani masa pemulihan dengan tenang. Setidaknya banyak dukungan hangat dari kawan menguatkan untuk melanjutkan hidup.

Sementara, pemerhati kesehatan jiwa Albert Maramis mengakui fenomena bunuh diri di kalangan LGBT belum jadi kajian serius. Namun dia yakin, para LGBT bunuh diri karena stigma negatif dari masyarakat dan keluarga.

“Kita bisa melihat bahwa LGBT itu kan adalah kelompok juga yang mengalami tekanan sosial yang begitu hebat. Apakah itu stigma, diskriminasi, marginalisasi sehingga mereka hidup dalam kondisi yang distress. Akibat stigma connectedness tadi nggak ada, mereka tidak terhubungkan, malah disingkiri. Dalam kondisi begitu, risiko untuk gangguan jiwa meningkat, terutama depresi, risiko untuk pengambilan langkah bunuh akan meningkat.”

Aktivis Suara Kita dari kalangan transgender, Jane Maryam menyebut sokongan orang-orang terdekat seperti keluarga, adalah yang paling dibutuhkan kawan LGBT. Sementara sikap materialistis keluarga mendorong seorang LGBT terjun ke bisnis prostitusi.

“Si anak ingin mendapat penerimaan, si orang tua, ya udah selagi lu bisa mendapatkan itu, gitu lho, jadi transaksional di situ. Dan itu sangat disayangkan sekali, dan itu nggak sedikit. Itu kutanya, trus gimana? Ya gitu, sih. Terus kamu pergi kemana-mana, istilahnya kasarnya jual diri. Ya tahu, gitu. Tapi mereka nerima, karena aku tiap bulan ngasih, gitu.”

Jane yang bergumul dengan kajian psikologi berharap masyarakat mau mengubah pandangannya terhadap LGBT. Juga perhatian untuk mencegah kasus bunuh diri di kalangan LGBT yang masih sangat rendah.


Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!