suriname, Peterl, aida, erasmus, portalkbr

KBR - Lebih dari seratus tahun lalu, sekitar 33.000 orang Jawa dibawa ke Suriname. Mereka dibawa pemerintah Belanda untuk bekerja sebagai buruh kontrak di perkebunan. Kini keturunan Jawa di Suriname berkembang dengan jalannya sendiri. Akar mereka tetap Jawa, tapi tampil dengan sajian musik yang berbeda.

#
lagu berjudul Sexy Body kini jadi hits di Suriname, Amerika Selatan. Liriknya berbahasa Jawa, tata musiknya kental nuansa Karibia dan juga rap asal Afrika. Ini lagu bukti adanya percampuran budaya di Suriname, sementara pada tayangan videonya, ada dua perempuan menari Salsa.

Bagaimana komunitas Jawa hadir dan berkembang di Suriname? Saya bertemu Peter Sanchez di Pusat Kebudayaan Belanda di Jakarta, Erasmus Huis. Peter adalah kurator pameran “Stille Pessanten”, yang memamerkan foto dan buku soal masyarakat Jawa di Suriname. Dia menjelaskan kepada saya, sejarah migrasi penduduk Jawa ke Suriname.

“Setelah penghapusan perbudakan di Suriname, pemerintah perlu pekerja di perkebunan. Pekerja pertama yang datang adalah dari daerah yang sekarang disebut India, tapi orang-orangnya tidak bisa pergi ke negeri seberang. Yang terjadi selanjutnya adalah pemerintah kolonial mencari orang lain untuk menggantikan posisi pekerja di perkebunan. Mereka berpikir “Kenapa tidak melihat ke dalam kerajaan sendiri?” Dan mereka berpikir tentang Jawa, karena Jawa sudah kelebihan populasi.”

Pemerintah kolonial Belanda membawa 33.000 orang Jawa menjadi buruh kontrak di perkebunan Suriname. Kebanyakan mereka berasal dari Magelang, Jawa Tengah. Migrasi berlangsung antara periode 1890 – 1939. “Rencananya adalah membawa 500 ribu sampai sejuta orang ke Suriname. Tapi rencananya tidak berjalan karena ada Perang Dunia II. Setelah Perang Dunia II, rencananya tidak bisa dilaksanakan lagi, karena ada perjuangan kemerdekaan di Indonesia,” papar Peter.

Perang membuat situasi migran Jawa kesulitan. Upah mereka tak sepadan dengan kebutuhan hidup yang harus dipenuhi. Hal ini memicu para migran Jawa kembali ke Indonesia atau bahkan pindah ke Belanda.

“Karena kekecewaan. Ketika datang ke Suriname, pemerintah kolonian menjanjikan hidup yang lebih baik. Orang Jawa dibawa ke perkebunan, di mana upahnya sangat kecil, mereka kesulitan membayar kebutuhan sehari-hari. Di satu sisi, mereka meninggalkan kampung halaman untuk kehidupan yang lebih baik. Tapi yang mereka temukan adalah hidup di pengasingan. Kekecewaan ini menyebabkan sejumlah orang ingin kembali pulang.”

Kini populasi penduduk Jawa di Suriname ada di urutan ketiga (15 persen) setelah populasi India 37 persen dan Kreol atau keturunan Afrika 31 persen. Dari total setengah juta jiwa populasi penduduk Suriname, 75 ribu diantaranya warga keturunan Jawa. Tapi meski begitu, warga berdarah Jawa punya pengaruh besar di sana.

“Partai-partai paling dominan cenderung masih berdasarkan asal etnis. Berdasarkan hal itu, kita bisa bilang bahwa komunitas Jawa di Suriname punya kekuatan penyeimbang. Mereka bisa menentukan apakah koalisi jadi mayoritas di Parlemen atau tidak. Jadi, faktanya, mereka bisa menuntut banyak kalau mau.”

Beberapa warga berdarah Jawa yang cukup terkenal diantaranya, penyanyi Aida Amatstam, politisi Paul Slamet Somohardjo, dan juara Olimpiade renang Ranomi Kromowidjojo. Sementara Peneliti Santo Koesoebjono mencatat, tradisi yang tetap dipegang penduduk Jawa di sana diantaranya; wayang kulit, gamelan dan jaran kepang. Lalu tradisi slametan, mitoni, serta sunat.  Tak ketinggalan, dukun bayi, dukun manten, dan dukun sunat.

Tapi Komunitas Jawa di Suriname juga beradaptasi. Mereka mengadopsi musik Karibia, rap asal keturunan Afrika, juga tarian Amerika Latin. Ini adalah cara agar mereka diterima. Seperti lagu hip-hop berjudul “Ji Ro LU”.

“Mereka sudah mempertahankan banyak warisan budaya mereka. Tapi macam-macam kelompok etnis di Suriname saling mempengaruhi satu sama lain. Kamu bisa saja berpikir kamu orang Jawa, dan ketika kamu datang ke pulau Jawa bilang punya warisan yang sama. Tapi tidak semua pengalamannya sama,” ungkap Peter menambahkan.

Menjadi Jawa di Suriname tidaklah semudah di Indonesia. Di Indonesia, keturunan Jawa mendominasi jabatan publik di tingkat nasional. Tapi di Suriname, keturunan Jawa mempertahankan akar mereka, sambil terus berkompromi dengan gempuran budaya Karibia, Kreol, dan Amerika Latin.

Kembali ke cerita sebelumnya: Kisah Jawa di Seberang Benua

Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!