suap, kpu, lampung, pileg, portalkbr

KBR - Supir seorang Ketua KPU di Lampung Tengah jadi saksi. Ada transaksi mencurigakan yang mengalir ke kantong majikannya. Kini Ketua KPUD Lampung Tengah meringkuk di penjara, karena terbukti menerima suap dari salah satu caleg. Bagaimana proses transaksi ini terjadi? Simak penelusuran yang dilakukan kontributor KBR di Lampung, Eni Muslihah.

#
Seorang supir bernama Heri Setiawan diminta majikannya membuka rekening tabungan. Majikannya adalah Ketua KPUD Lampung Tengah Hendra Fadilla. Heri pun mengerjakan perintah sang bos. Namun majikannya meminta buku tabungan, ATM dan PIN. Begitu buku tabungan dicetak, terungkaplah sejumlah transaksi yang mencurigakan.

Yang pertama kali mengungkap adalah Rusli dari ormas Pemuda Pancasila. “Ya jelas banyak perubahannya ya. Dari orang ngontrak biasa-biasa saja dan dia adalah aktivis dari Universitas Lampung tadinya.”

Di rekening tabungan atas nama Heri Setiawan itu ternyata ada setoran uang dari FX Karamoy sebesar Rp 50 juta dan Rp 25 juta. FX Karamoy adalah caleg DPR RI dari Lampung Tengah asal Partai Hanura. Ada juga setoran dari pihak lain dengan total mencapai Rp130 juta.

Dugaan suap berikut buktinya lantas diteruskan ke LSM Jaringan Pemberantasan Korupsi, JPK. Feri Hendijaya dari JPK yang lantas mengungkapnya ke media.”Kami tidak membuat laporan atas temuan ini, karena kami menganggap tersiarnya informasi ini ke sejumlah media bisa dijadikan alat bukti bagi Bawaslu ataupun pihak kepolisian.

Kini kasus Hendra Fadillah, bekas Ketua KPUD Lampung Tengah, sudah memasuki masa persidangan. Hendra hadir di ruang sidang dalam kondisi sakit – duduk di kursi roda dan tak sanggup mengangkat bahu atau tangannya. Salah satu saksi yang dihadirkan adalah FX Karamoy, caleg dari Partai Hanura.

Pengacaranya, Merian Toni membenarkan soal adanya transaksi tersebut. “Sidang tadi menghadirkan saksi dengan agenda keterangan terhadap sejumlah saksi yakni Ketua PAC Partai Hanura Lampung Tengah Herman Yordan kemudian teman kecil Karamoy Syarief Chan dan Sopirnya.”

Dalam persidangan di PN Tanjungkarang, Bandarlampung pada 12 Agustus lalu, terungkap juga kalau FX Karamoy juga menyerahkan uang secara langsung sebesar Rp 495 juta, ditaruh dalam kardus. Uang dalam kardus itu diserahkan dengan cara memepetkan satu mobil ke mobil lain di sebuah parkiran Hotel Arinas yang terletak di Bandarlampung.

“Jadi peran Herman dan Syarif Chan membawa uang Karamoy dari Jakarta yang dipandu, lalu dimasukan ke mobil oleh herman dan penandatanganan kwitansi, tapi tak berkenan dan berkata bahwa mereka juga orangnya pak Karamoy.”

FX Karamoy adalah caleg dari Partai Hanura asal Lampung Tengah yang tengah bertarung untuk satu kursi di DPR RI. Rupanya ia tak merasa cukup percaya diri bakal meraih dukungan di Lampung Tengah, mengingat ia orang Ternate dan lebih banyak di Jakarta.

Karena itulah uang disetor. Sayangnya, meski sudah setor uang, ia hanya memperoleh 9 ribuan suara dari target 20 ribuan suara, kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Lampung Mashudi. “ Itu caleg orang luar dapat dapil Lampung karena mungkin agak susah mendapat dukungan dari akar rumput ya walaupun dia sudah berusaha tapi dia tetap menggunakan ketua KPUD Lampung Tengah untuk meyakinkan makanya si caleg memberi konpensasi kepada komisioner,” jelas Mashudi.

Hendra Fadilla, bekas Ketua KPUD Lampung Tengah, kini jadi pesakitan. Pengacaranya, Nuki mengatakan, kliennya dalam keadaan depresi, kurang pendengaran, juga menderita diabetes kronis. “Saya merasa kesulitan saat ini untuk berkomunikasi dengan klien saya. Untuk itu saya meminta persidangan ini ditangguhkan dulu sampai klien saya benar-benar pulih kesehatannya.”

Tersangka lain dalam kasus ini adalah oknum PNS Dinas Bina Marga Lampung Tengah, Indra Safuan yang menjadi kaki tangan Karamoy dalam mengamankan suara di Lampung. Indra yang mempertemukan Hendra Fadila dengan FX Karamoy. Indra pula yang menjadi kaki tangan sang caleg untuk menggalang suara bagi pemenangannya di Lampung, kata Mashudi. “PNS ini menjanjikan si caleg bisa mengkondisikan di tingkat bawah untuk meraih suara.”

Sebagai imbalannya, FX Karamoy membayar dengan uang tunai Rp 495 juta. Sisanya ditransfer lewat rekening Indra Saufan. Uang sebesar Rp 75 juta masuk ke kantong Hendra, sisanya ke 20ribuan pemilih di Dapil Lampung 2. Meski begitu, suara FX Karamoy keok di lapangan – hanya Sembilan ribuan suara dari target sebanyak 20 ribu suara.

Begitu kasus ini sampai ke Polisi, Ketua KPUD Lampung Nanang Trenggono langsung menyerahkan surat pemberhentian sementara bagi Hendra Fadila. “Mantan Ketua KPU Lampung Tengah kami sudah minta klarifikasi dari awal sampai akhir dan kemudian kami mengambil keputusan untuk mengeluarkan teguran teguran dan memberikan sanksi pemberhentian sementara sampai kasus ini selesai,” jelas Nanang.

Di ruang sidang, Hendra terus didampingi keluarganya yang mengikuti persidangan sembari sesekali menyeka air mata mereka. Sementara Feny, adik kedua FX Karamoy, menyayangkan tindakan sang kakak yang menghancurkan karir yang dibangun selama puluhan tahun. “Air mata ini sudah habis, kemarin-kemarin saya tidak bisa dandan seperti ini. Bahkan ayah saya juga tidak sanggup untuk hadir ke sini.”


Kembali ke cerita awal: Jejak Uang Haram Ketua KPU Lampung Tengah

Editor: Irvan Imamsyah

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!