suap, kpu, lampung, pileg, portalkbr

KBR - Selagi Mahkamah Konstitusi menggelar sidang gugatan Pemilu Presiden 2014, Ketua KPU Daerah Lampung sudah mendekam di penjara selama lebih dari sebulan. Ia terbukti menerima suap dari salah satu peserta caleg, lewat perantara seorang sopir. Bagaimana pola transaksi ini dilakukan?

#
Di Pasar Bandar Jaya, Kabupaten Lampung Tengah ini, saya mencari Heri Setiawan. Dia orang biasa. Dulu sempat menjadi supir pribadi bagi Ketua KPUD Lampung Tengah, Hendra Fadila. Hendra kini meringkuk di penjara seusai Pemilu legislatif   lalu. Sedikit banyak Heri Setiawan ikut berperan menjebloskan sang Ketua KPUD Lampung Tengah ke penjara.

Setelah dipecat jadi supir, Heri Setiawan kini menyambung hidup dengan menjadi supir angkot jurusan Poncowati, di Lampung Tengah. Heri tinggal di Desa Bandarjaya Barat, Kecamatan Terbanggai Besar. Bersama orangtua dan dua adik perempuannya, Heri menghuni rumah berdinding papan keropos, seperti habis dimakan rayap.

Ketika Heri menjadi supir, kehidupan mereka lebih baik. Penghasilannya Rp 750 ribu rupiah per bulan, belum termasuk bonus yang diterima sewaktu-waktu. Tapi kini sebagai supir angkot, pendapatannya mentok di Rp 50 ribu per hari. “Pas empat bulan saya bekerja kemudian sehabis pemilu saya diberhentikan dulu disuruh istirahat. Saya sendiri tidak tahu kenapa diberhentikan. Cuma dia bilang katanya nanti saya akan dipanggil lagi, tapi nyatanya tidak juga, makanya saya kembali menjadi sopir angkot,” jelasnya.

Majikan Heri bernama Hendra Fadilla, Ketua KPUD Lampung Tengah. Ia kini dipenjara karena terbukti menerima suap dari salah satu caleg Lampung Tengah untuk DPR RI. Dugaan suap ini diendus Ormas Pemuda Pancasila yang melihat Hendra mengalami peningkatan kekayaan dalam jumlah signifikan. “ Ya jelas banyak perubahannya ya. Dari orang ngontrak biasa-biasa saja dan dia adalah aktivis dari Universitas Lampung tadinya,” ungkap Rusli, Ketua I Pemuda Pancasila Lampung Tengah.

Heri sang supir jadi saksi. Setelah jadi Ketua KPUD Lampung, majikannya punya tiga mobil baru, ada yang seharga setengah miliar rupiah. “Ya memang dia beli mobil baru sejak saya bekerja di sana, sekitar ada mobil yakni Avanza putih dan Fortuner.”

Heri ikut berperan dalam masuknya uang segar ke kantong Hendra. Begini permintaan yang berkali-kali diajukan oleh majikannya kepada Heri. “Ri kamu ke Bank bikin rekening dan ATM tapi di BCA tidak diterima karena KTP saya mati terus saya ke Mandiri, di sana diterima. Pada awalnya disuruh masukin uang Rp500 ribu,” ungkap Heri mengulang permintaan bekas bosnya.

Setelah berhasil membuat rekening, Heri menyerahkan buku tabungan, ATM berikut nomor sandi rahasia atau PIN kepada sang atasan. Ia tak pernah bertanya kenapa dia diminta membuat rekening. Sampai tiba-tiba Heri diberhentikan sebagai supir pribadi oleh Hendra dengan alasan tidak jelas. “Pokoknya pada saat itu saya dikasih amplop. Dia bilang ini gaji kamu, dia menyuruh saya untuk istirahat nanti dia akan menghubungi saya lagi. Tapi ya sampai sekarang saya tidak pernah dihubunginya,” pungkas Heri.

Rusli dari ormas Pemuda Pancasila yang sudah curiga soal harta baru sang Ketua KPUD, lantas mendekati Heri. Meminta Heri mencetak buku tabungannya, demi menelusuri transaksi yang mencurigakan. Karena buku tabungan yang asli di tangan Hendra, maka Heri diminta membuat laporan kehilangan ke polisi, cerita Mukhlis, juga dari ormas PP. Dari cetakan ulang rekening tabungan sang sopir, terungkaplah transaksi sebesar Rp 130 juta rupiah yang masuk ke kantong Hendra.

Uang siapakah itu? Untuk apa? Simak penelusurannya dalam Saga selanjutnya. 

Baca lanjutannya: Jejak Uang Haram Ketua KPU Lampung Tengah (bagian 2)


Editor: Irvan Imamsyah


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!