ikan, sungai, ciliwung, konservasi, lingkungan

Suaka Ikan

Situasi itulah yang memaksa Maruli dan warga Cibogo tergerak memulihkan  Sungai Ciliwung. Mereka berkumpul  menyusun langkah strategis  menyelamatkan sungai. Digagaslah pendirian Komunitas Pemancing Sungai Ciliwung  atau CRFC sejak 7 September lalu. Langkah kecil yang mulai dilakukan komunitas itu dengan menggelar lomba memancing.

“Yang jadi permasalahan kemarin itu. Bagaimana caranya kita buat lomba mancing itu supaya pemancing itu bisa melarang. Soalnya pemancing itu yang berhubungan langsung dengan para penyetrum. Bagaimana nanti si pemancing itu menjadi penjaga. Dari sosialisasi tuba dan setrum. Terutama setrum, kalau tuba sudah selesai. Supaya bisa mereka melakukan pendekatan mengingatkan si penyetrum. Sebab kalau setrum luar biasa, bisa dilakukan malam hari, bisa dilakukan saat air besar. Setiap waktu dan setiap kondisi air bisa dilakukan. Cuma setelah kita lakukan pendekatan di daerah Desa Cipayung dan Gadog saja tinggal beberapa orang saja yang melakukan setrum. Dan beberapa daerah yang melakukan itu,” papar Marulo.

Kegiatan lain yang melibatkan warga setempat tersebut menanam pohon dan membersihkan sampah di bantaran sungai  tambah Suharlan anggota CRFC.  “Komunitas kerjanya kita melarang untuk yang nuba, nyetrum. Terus komunitas kerjanya bersihkan sampah di Ciliwung. Penghijauan kita lakukan.KBR68H:Orientasi bukan cari uang? Belum. Kita memang orientasi tidak uang. Kita benar-benar sosial untuk mengembalikan aslinya Ciliwung,” tegasnya.

Mereka juga mulai melepaskan pelbagai jenis ikan lokal khas Ciliwung, seperti ikan Hampala. ”Nah ini awalnya itu saya terus per satu bulan saya melepasliarkan kembali. Contoh Hampala, memang tak banyak langsung melepaskan. Pertama tingkat kesulitan kita mendapatkan ikan Hampala itu di Lido atau Cisadane. Itu dengan cara dipancing setelah di pancing di tampung setelah sehat baru dilepas kembali. Kalau kita kesulitan mencari ikan yang akan di lepas kembali, karena tidak ada khan KBR68H Budidaya dari KKP, seperti Ruby juga melakukan budidaya?  Betul. Tapi apakah sudah banyak untuk restocking, jika kita butuh 2000 ekor Soro.Sementara Soro ini ada di Sumatera. Di Jawa untuk budidaya ikan lokal tidak ada. Itu khan sulit. Dari situ kita kembalilah yuk sama-sama gitu kan,” jelasnya.

Maruli berharap upaya kecil komunitasnya bisa memulihkan aliran Ciliwung sepanjang 1 kilometer di Desa Cibogo, Cipayung dan Gadog. Kawasan tersebut  bisa menjadi  “Suaka Sungai Ikan Lokal Sungai Ciliwung”.  “Itu suaka ikan itu, sebetulnya adalah akhir dari pencapaian keinginan lomba mancing itu. Akan tetapi ketika masyarakat kita ajak langsung yuk bikin suaka ikan, akan terasa berat. Tapi bagaimana sedikit demi sedikit ujungnya begitu. Saya ingin punya sebuah lokasi, sebuah titik saja panjangnya satu kilometer. Keinginan saya itu ada area di Ciliwung Gadog yang tak bisa diambil. Jadi seperti larangan. Kalau di Padang seperti Sungai Larangan.”

Upaya lain yang mesti dilakukan Maruli dan kawan-kawan, pesan peneliti ikan Ruby Vidia Kusumah adalah mulai membudidayakan ikan lokal agar tak cepat punah.  “Jadi harapannya bisa kita kembangkanlah diluar habitatnya dulu. Sekarang yang paling cepat kita dilestarikan secara budidaya. Supaya bisa kita produksi lebih banyak. Kemudian kalau misalnya kondisinya suaka berjalan. Setidaknya kita sudah bisa tanam secara eksitu dan insitunya juga jalan. Jadi bagus gitu.”

Maksud Ruby agar stok ikan lokal bisa dijaga, sehingga bisa sewaktu-waktu dilepas ke alam saat daya dukung lingkungan sungai Ciliwung berangsur pulih.
 
Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!