ikan, sungai, ciliwung, konservasi, lingkungan

Upaya Konservasi

Ikan asli Ciliwung tersebut kemudian dilepaskan setelah fisiknya  di data. Menurut Maruli pegiat di Sungai Ciliwung langkah ini sebagai bagian dari konservasi dan perlindungan ikan lokal. “Bahwa ikan lokal Ciliwung itu, lima atau dua tahun ke depan kita lihat. Karena apa? Karena lomba mancing akan dijadikan sarana tahunan. Sebagai bahan evaluasi dari apa yang kita tanam. Contoh Hampala. Untuk tahun ini sampai 2014, kita sepakat Ciliwung River Fishing Community itu menanam ikan Hampal yang ukuran besar. Jadi ketika lomba mancing tahun depan kita adakan. Kita tahu, ukuran yang tertangkap. Kalau ada ukuran yang kecil, indikasinya berarti sudah berkembangbiak. Itu salah satu cara untuk evaluasi. Selain saya tanya ke masyarakat, yuk pemancing apa ada yang pernah mendapat Hampala? Yuk penjala apa ada yang dapat Hampala?,” kata Maruli.

Menurut Maruli,  semakin sedikitnya ikan yang berhasil dipancing jadi bukti kualitas Sungai Ciliwung tak lagi layak mendukung kehidupan. Untuk memulihkannya, Komunitas Pemancing Sungai Ciliwung menggagas “Suaka Ikan Lokal Sungai Ciliwung”.

Ruby Vidia Kusumah pegiat Komunitas Peduli Ciliwung atau KPC sejak empat tahun silam menyusuri Sungai Ciliwung. Saat itu peneliti di Balai Riset Budidaya Ikan Hias Kementerian Kelautan dan Perikanan memantau 18 titik, mulai dari Desa Tugu Cisarua Bogor sampai ke wilayah Bojonggede.

“Ya biasa pengen tahu saja. Saya keahliannya di situ ya saya bawa saja ke KPC. Dan itu dari 2009 saya kumpulkan seperti itu dan akhirnya 2011 rilis dan buat publikasi di acara Forum Pemacuan Stok Ikan dulu di Bandung, ” jelas Ruby.

Hasilnya Ruby menemukan puluhan jenis ikan. “Waktu itu saya langsung masuk saja. Coba inventaris, ada berapa sih ikan yang ada di Ciliwung. Medianya ya turun langsung, tangkap langsung dan wawancara, caranya – metodenya. Kemarin tuh kita 33 spesies diperoleh informasi, 13 spesiesnya ikan asing intruduksi. Seperti itu,” paparnya.

Jumlah dan jenis ikan tersebut susut drastis bila merujuk kepada data yang pernah dilansir Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Jumlahnya kata Ruby diperkirakan mencapai 187 jenis.
“Itu sedihnya kita di situ. Kondisinya, kita biasanya dapat ikan mudah dengan banyaknya sampah dan kondisi perairan menurun kita jadi sulit dapat ikan itu. Jadi harapannya bisa kita kembangkan di luar habitatnya dulu. Kan sekarang yang paling cepat kita lestarikan secara budidaya dan supaya kita bisa di produksi lebih banyak. Nah nanti kalau Suaka sudah berjalan, itu masih setidaknya kita bisa tanam secara exsitu dan insitunya sudah jalan nanti bagus gitu,” jelasnya.

Maruli Alpia pendiri Komunitas Pemancing Sungai Ciliwung masih ingat betul sebelum dekade 70-an, ragam jenis biota sungai mudah ditemui. ”Langkah-langkah seperti yang saya lakukan di Ciliwung. Kenapa saya tebar Hampala di Ciliwung? Karena di Ciliwung itu Hampala pernah hidup. Tapi tahun 1972 terjadi tumpahan pestisida, entah ada orang yang menyebar ke sungai Ciliwung atau pun mereka tanpa sengaja ke sawah turun terus mati. Semua ikan Ciliwung itu mati. Yang tersisa hanya beberapa ikan, kalau bahasa lokal orang sini menyebutnya; Soro, Senggal, Berot, Paray, Arelot, Kehkel, Jeler, Lendi dan jenis Ramukasan, itu jenis yang tersisa. Sedang yang orang bilang, Lalawak, Hampala, terus apa Balar, terus gengehek, itu sudah tidak ada,”  ungkap Maruli.

Situasi berubah sejak warga hobi menyetrum dan meracun ikan. “Kita itu tumbuh dan berkembang di lingkungan yang melakukan itu. Ketika kita masih kecil dengan polos kita pasti akan ikut ke sungai. Melihat orangtua kita, tokoh-tokoh masyarakat, satu RT turun ke sungai untuk menuba, menyetrum. Tapi apakah akan kita biarkan terus? Budaya-budaya itu! Saya sudah lakukan minimal, itu satu lingkungan ini Desa Cipayung, alhamdullilah, warganya sudah tak melakukan tuba dan strum. Sekarang masih ada, Desa Suka Birus, Desa Gadog itu terutama kampung pasir Purut dan Pasir Angin, ada beberapa masyarakat beberapa orang. Saya juga sudah tahu rumah mereka. Kita melakukan pendekatan dan penyadaran agar masyarakat tak melakukan hal itu,” tambah Maruli.

Faktor lain yang ikut menggangu laju kerusakan Ciliwung pembangunan di bantaran sungai. Kembali Maruli Alpia menuturkan, “Itu sangat jelas dari penurunan jumlah ikan yang ada. Kalau kita biarkan terus seperti ini, dengan tingkat pencemaran yang tinggi. Terus bagaimana juga dengan sepadan sungai yang di bangun untuk hotel oleh Pramesthi, Cimory. Sekarang lagi tren, orang bangun river side, river view, mereka tanpa sadar, pemanfaatan Ciliwung dia manfaatkan, tapi untuk jaga ekosistemnya dia kurang. Bukannya tidak, mungkin kurang. Nah bagaimana juga kita segenap masyarakat terutama komunitas pemancing untuk mendorong kepedulian itu.”


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!