ikan, sungai, ciliwung, konservasi, lingkungan

KBR68H - Komunitas Pemancing Sungai Ciliwung berupaya menjaga dan merawat sebagian ikan lokal Ciliwung yang terancam punah. Ikan hasil pancingan, mereka data  dan lepasliarkan. Reporter Irvan Imamsyah bersama ratusan pemancing ikut bergabung dalam  program pelestarian “Suaka Ikan Lokal Ciliwung”.

Lebih dari 200  pemancing  berjajar di tepian Sungai Ciliwung pagi itu. Lokasi persisnya di seberang Jembatan Gadog Puncak, Bogor,  Jawa Barat. Mereka harap-harap cemas menunggu umpan di kail  disambar ikan sungai yang berhulu di kaki Gunung Pangrango tersebut.
Para pemancing yang berasal dari Depok, Bogor dan Jakarta ini tengah mengikuti sebuah perlombaan. Acara  digagas pendiri  Komunitas Pemancing Sungai Ciliwung (CRFC) Maruli Alpia.

“Menurut saya kalau orang di dekati dengan keinginan yang sama dan kesukaan yang sama biasanya kita akan lebih mudah untuk masuk apa tujuan kita, apa keinginan kita, apa kepedulian kita, harapan kita lah. Kalau kita ajak yuk kita ajak kawan-kawan yuk kita ambil sampah, yuk kita larang orang-orang buang sampah dan membangun ini. Mereka tak akan mau. Tapi ketika, “Yuk kawan-kawan pemancing yuk kita gabung dan jaga kelestarian ikan lokal ini.” Mereka dengan sukarela mendaftarkan diri ke Ciliwung River Fishing Community,” kata Maruli.

Lomba ini tak sekadar untuk senang-senang. Maruli punya misi khusus. Mengajak pemancing  menjaga biota asli Ciliwung, seperti udang dan ikan.“Kita bergabung dengan semua komunitas Ciliwung. Dari hulu – hilir, yuk sama-sama kita bergerak. Bagaimana kita mengembalikan ikan Ciliwung. Salah satunya restocking. Salah satunya saya juga belajar membudidayakan, terus kedua mengambil dari danau LIDO, dan dari Cisadane. Jenis-jenis ikan yang pernah hidup di Ciliwung di kembalikan lagi, dengan metode yang kemarin kita acarakan bersama-sama. Melalui lomba mancing pendataan Ikan Lokal

Meski jumlah populasi ikan asli khas Ciliwung terancam punah, tapi hal itu tak menyurutkan antusiasme pemancing. Di hulu Ciliwung, misalnya semakin sulit menemui  ikan Senggal yang   mirip lele atau ikan  Kebogerang dan  Kehkel.  Salah satu peserta lomba, Syaiful warga Pasir Purut Gadog membenarkan hal itu. “Kalau sekarang memang jauh berbeda dari dulu. Kalau dulu khan ibaratnya masih banyak. Apalagi kata orangtua. Kalau misalnya mau makan, lagi nanak nasi terus kita ngambil ikan, nasi matang, nah ikan ibaratnya mudah diambil. Kalau sekarang jauh. Dalam waktu hitungan jam gitu kita nanak nasi. Ibaratnya kata orang Sunda “Mimilikannya”,” katanya.

Menurut pemancing asal Desa Gadog Bogor,  Naan Suparman salah satu sebabnya akibat ulah warga yang menyetrum atau meracun ikan dengan potassium, warga setempat menyebutnya ‘menuba’.  “Kadang-kadang benci pak kalau ada yang itu, antara mancing dengan yang itu saling musuhan pak. Sebenarnya yang hobi mancing, menjaring terus ada yang nuba, benci dia pak. Berantem. Ya saling ejek lah. Apalagi sekarang ada Undang-Undangnya, enam bulan atau denda. Bagus-lah kalau menurut saya. Mungkin agak amanlah di kali ini, agak aman,” jelas Naan.

Itu sebab, sebelum melempar pancing ke sungai, seluruh peserta menandatangani komitmen bersama: melestarikan ikan dan ekosistem Ciliwung. Mereka juga sepakat menolak meracun dan menyetrum ikan. Selang beberapa jam, tali kail beberapa pemancing disambar ikan. Hasilnya 180 ikan yang berhasil dipancing. Hanya enam jenis ikan lokal Ciliwung yang berhasil dipancing.

Sisanya berasal dari luar yang berkembang-biak di sungai itu. Seperti ikan mas asal Cina, nila asal Afrika, dan lele dumbo asal Taiwan.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!