calo, cpns, suap, kementerian PAN RB, pegawai

Rayuan Calo


Orang tuanya pun ikut tergoda. Maklum saja jika mengikuti jalur resmi melalui tes,  Dita mesti bersaing bersama lebih dari 80 ribu CPNS yang melamar untuk mengisi lebih dari 1500 posisi di lingkungan Pemprov DKI.  “Jadi kan temannya ibuku dia anaknya masuk CPNS , Cuma menurut cerita ibu ya bayar. Dia Masuk Pemprov DKI  kalau tidak salah. Ya sudah, jadi aku ikut ditawarin kan,” kata Dita.

Meski Dita  sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta, keluarganya menyarankan agar ia bekerja sebagai PNS.  “Ya apa ya, ya tenang aja. Kalau orang tua bilang, kebetulan orang tua kan PNS kan, dan keluarga besar kebanyakan PNS. Jadi lebih tenang, kalau anak sudah jadi PNS tuh. Sudah jadi kebiasaan dari sana-sananya, karena kebanyakan lingkungan keluara PNS,” akunya. 

Dita sebenarnya ragu.  Tapi sindikat calo meyakinkan imbalan boleh diberikan setelah ia diterima sebagai PNS.  “Lagian Pemprov setahu akau lagi gak butuh apoteker, dia butuhnya kalau tenaga kesehatan cuma D3 farmasi. Aku gak tau deh,  Kalau temen aku yang kemarin itu yang sudah masuk nih jadi PNS memang uangnya setelah diterima baru kasih uangnya. Memang orangnya kayanya beri garansi. Jadi memang menjamin, kamu tidak akan ketipu, memang uangnya setelah diterima,” ungkapnya.

Sindikat calo PNS yang mengaku beroperasi di Pemprov DKI Jakarta tersebut meminta   keluarga Dita menyiapkan uang senilai 180 juta rupiah. Selanjutnya Dita akan mengikuti serangkaian tes CPNS sejak akhir September lalu sampai bulan depan. Ia dijamin bakal lolos dan bekerja di Pemprov DKI.  

Dita adalah segelintir orang yang tergoda menggunakan cara instan untuk menjadi PNS lewat jasa calo. Tak sedikit yang tertipu  seperti yang dialami Angga. Uang amblas.  Impian yang diidamkan menjadi PNS pun kandas. 

Adakah langkah pemerintah untuk atasi percaloan CPNS?


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!