Pengakuan Pengguna Jasa Calo CPNS (2)

Dita sebenarnya ragu. Tapi sindikat calo meyakinkan imbalan boleh diberikan setelah ia diterima sebagai PNS

Kamis, 17 Okt 2013 13:25 WIB

calo, cpns, suap, kementerian PAN RB, pegawai

Rayuan Calo


Orang tuanya pun ikut tergoda. Maklum saja jika mengikuti jalur resmi melalui tes,  Dita mesti bersaing bersama lebih dari 80 ribu CPNS yang melamar untuk mengisi lebih dari 1500 posisi di lingkungan Pemprov DKI.  “Jadi kan temannya ibuku dia anaknya masuk CPNS , Cuma menurut cerita ibu ya bayar. Dia Masuk Pemprov DKI  kalau tidak salah. Ya sudah, jadi aku ikut ditawarin kan,” kata Dita.

Meski Dita  sudah bekerja di salah satu perusahaan swasta, keluarganya menyarankan agar ia bekerja sebagai PNS.  “Ya apa ya, ya tenang aja. Kalau orang tua bilang, kebetulan orang tua kan PNS kan, dan keluarga besar kebanyakan PNS. Jadi lebih tenang, kalau anak sudah jadi PNS tuh. Sudah jadi kebiasaan dari sana-sananya, karena kebanyakan lingkungan keluara PNS,” akunya. 

Dita sebenarnya ragu.  Tapi sindikat calo meyakinkan imbalan boleh diberikan setelah ia diterima sebagai PNS.  “Lagian Pemprov setahu akau lagi gak butuh apoteker, dia butuhnya kalau tenaga kesehatan cuma D3 farmasi. Aku gak tau deh,  Kalau temen aku yang kemarin itu yang sudah masuk nih jadi PNS memang uangnya setelah diterima baru kasih uangnya. Memang orangnya kayanya beri garansi. Jadi memang menjamin, kamu tidak akan ketipu, memang uangnya setelah diterima,” ungkapnya.

Sindikat calo PNS yang mengaku beroperasi di Pemprov DKI Jakarta tersebut meminta   keluarga Dita menyiapkan uang senilai 180 juta rupiah. Selanjutnya Dita akan mengikuti serangkaian tes CPNS sejak akhir September lalu sampai bulan depan. Ia dijamin bakal lolos dan bekerja di Pemprov DKI.  

Dita adalah segelintir orang yang tergoda menggunakan cara instan untuk menjadi PNS lewat jasa calo. Tak sedikit yang tertipu  seperti yang dialami Angga. Uang amblas.  Impian yang diidamkan menjadi PNS pun kandas. 

Adakah langkah pemerintah untuk atasi percaloan CPNS?


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Arus Balik di Terminal Bus Tegal Mulai Ramai

  • Jalur Puncak Arah Jakarta Mulai Dipadati Pemudik
  • Tiga Aktivis Buruh di Cina Dibebaskan dengan Jaminan
  • Pencipta Karakter Paddington Meninggal

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?