calo, cpns, suap, kementerian PAN RB, pegawai

KBR68H - Pemerintah tahun ini kembali membuka lowongan kerja bagi calon pegawai negeri sipil. Puluhan ribu posisi  diperebutkan para pelamar. Meski penerimaan CPNS diklaim melalui seleksi dan tes yang ketat, namun celah penyalahgunaan tetap ada. Salah satunya lewat percaloan. Dua pelamar  CPNS bercerita pengalaman mereka memanfaatkan jasa calo.   

Lelaki  muda itu ditemui KBR68H di salah satu tempat di bilangan Jakarta Pusat. Angga baru saja pulang bekerja dari kantornya  di sebuah bank swasta.

Ia bercerita setahun silam sempat ditawari bekerja sebagai pegawai negeri sipil atau PNS honorer  lewat jasa  calo. “Karena begini ya, kita logika saja. Umpamanya kalau kita masuk lewat rekruitan normal, kita tahu yang ikut banyak jaminan masuk tidak ada. Yaitu makanya kita masuk lewat jalur cepat,” ungkapnya.

Tawaran tersebut datang dari rekannya yang bekerja di Direktorat Jenderal Imigrasi,  Kementerian Hukum dan Hak Azasi Manusia. “Waktu itu kita Kemenkuham, dibagian Imigrasi. Waktu itu dari temen kerja, kebetulan suaminya (pegawai) yang bertugas di dalam (Kemenkumham-red). Dia menamwarkan untuk ikut melalui dia. Pertama sih dia menawarkan begini, itu pasti masuk karena pakai jalur dalam. Istilahnya begitu, karena kan lewat jalur dalam jadi harus sediakan duit berapa nanti dapat semuanya,” paparnya.

Sang calo menjanjikan agar bisa diterima Angga mesti menyiapkan uang lebih dari Rp 150 juta. Karena tergiur janji surga, Angga dan keluarganya manut. Demi wujudkan impian, itu ia rela menjual mobil.  “Yang penting sih mereka uangnya. Karena kita diminta Rp 60 juta dulu, awalnya. Terus itu nanti kekurangannya kita sudah di sana kita kasih. Sudah itu, belum kita diminta uang seragam lagi. Mereka minta Rp 5 juta. Rp 150 itu sudah kita kasih. Karena begini lho, dia kan orang dalam karena dia pakai  seragam, NIP nya pun juga ada,” ceritanya.

Janji tinggal janji. Angga ternyata tak diterima sebagai pegawai honorer. Ia ditipu.  Karena posisinya yang lemah Angga dan keluarganya tak berani menuntut secara hukum. Namun dia yakin calo CPNS yang terlibat adalah pegawai di instansi pemerintah tersebut. 

“Ya gak bisa mba, karena itu kan sindikat ya. Mereka terorganisir, pasti kan mereka akan dituntut. KBR68H: Berapa orang kira-kira calo yang terlibat? Saya sih berhubungan dengan satu orang. Tapi dia di dalam (Kemenkumham-red) ada beberapa orang. KBR68H: Sempat dikenalkan sama orang dalam? Waktu itu dikenali lewat nama, sms dan no telepon mereka. KBR68H: Apa saja yang dibicarakan? Ya cuma itu saja, dia minta dibayar itu saja,”aku Angga.

Lain lagi cerita Dita  yang beberapa bulan lalu ditawarkan calo untuk bekerja sebagai calon pegawai negeri sipil di Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!