PRT, Anak, Pekerja, Perburuhan, ILO

Pekerjaan Terburuk


KBR68H: Perlakukan mereka ke kamu gimana?
Anisyah: Kalau misalnya beli makanan, enggak pernah nawarin. Sedangkan saya mau beli, enggak ada duit. Jadi penggennya doang, enggak bisa makan. Ya gitu deh, resiko jadi PRT.
KBR68H: Itu yang bikin kamu enggak betah?
Anisyah: ya gitu juga, saya kan butuh cemilan. Makan juga enggak pake bumbu lain, cuma pakai bawang putih, bawang merah, kencur.

Tapi setahun kemudian, Anisyah kembali melakoni pekerjaan yang sama.

Anisyah: Di perumahan puri, momong balita. Jadi umurnya setahun setengah tapi beratnya 15 kali. Jadi gemuk banget. Tangan sama pundak nih, ngilu banget. Jalan belum lancar. Bapaknya kerja di bengkel, ibunya kerja di BPOM. Jadi enggak ada yang jagain. Ada neneknya, tapi galak banget. Kalau marah suka banting pintu. Saya enggak tahu kenapa?
KBR68H: Bertahan berapa lama?
Anisyah: Seminggu. Neneknya cerewet. Cucunya megang batu, marah-marah. Ngepel, nyuci, saya rasa rapi, kaca saya bersihin, masak. Nyuci banyak, ngompol mulu. Tapi itu sebulan Rp600.
KBR68H: Cukup gak?
Anisyah: Enggak sih, kurang.

Kini Anisyah bekerja secara lepas, menyuci dan menyetrika dari rumah ke rumah.

Anisyah: Jadi gini, pertama awalnya nanya tetangga siapa yang butuh menggosok. Ibu Mamah, di sini nyuci dan menggosok. Ibu Nafsiah juga nyuci dan nggosok, tapi diajarin menjahit dan bikin kebaya. Besok juga dipanggil lagi
KBR68H: Berapa bayarannya?
Anisyah: Kalau di Ibu Naf, bayarannya Rp27 ribu menggosok
KBR68H: Butuh berapa jam?
Anisyah: Enggak bisa dhitung jam. Tergantung banyak sedikitnya, kadang sampai 3 bak. Ada yang lemari besar, gosok doang dibayar Rp50 ribu doang. Jadi yang butuh pada telpon atau sms saya.

 
Ada lagi Suci Rahmawati, usianya 16 tahun. Setahun yang lalu ia bekerja menjaga anak saudaranya yang berusia tujuh tahun. Sebulannya, ia dibayar Rp200 ribu.

KBR68H: Kalau malam kamu masih juga kerja jaga anak?
Suci: Enggak, dia udah sama ibunya.
KBR68H: Sampai sore jam berapa?
Suci: Enggak tentu. Nah kebetulan mamanya kerja jahit. Papanya enggak tahu. Pokoknya enggak ada yang jaga. Kalau sabtu sama mamanya
KBR68H: Jadi kamu ngapain saja tugasnya?
Suci: Kadang dimandiin, nyuapain makan juga.
KBR68H: Suka rewel?
Suci: Ngeselin.


Menjadi PRT juga dilakoni Abdul Robi, usianya 17 tahun. Sejak lima bulan lalu, ia menjadi pengantar makanan di sebuah restoran dengan upah perhari Rp 30 ribu.

KBR68H: Mulai kerjanya jam berapa?
Robi: Dari jam 7 pagi sampai setengah lima sore.
KBR68H: Kalau nganterin makanan kemana?
Robi: Deket sih, tapi ada yang jaraknya 5 kilo pakai motor. Tapi kalau deket jalan.
KBR68H: Awalnya mau kenapa?
Robi: Mau bantu orangtua saja sih.
KBR68H: Kerjanya hanya mengantar makanan? Atau nyuci piring juga?
Robi: Enggak cuma anterian sama kasih lauk, bungkusin. Cuma kalau makan dikasih, dua hari sekali.
KBR68H: Terus semalam kerja di situ, ada kesulitan?
Robi: Ya awalnya begitu. Kayaknya enggak sanggup. Apalagi rem motornya gak pakem. Jadi enggak bisa atur lauk, itu baru seminggu kasih lauk dan bumbu. Kalau asal, pelanggan enggak mau.
KBR68H: Ada yang ngajarin? Pernah salah?
Robi: Pernah salah, cuma kalau salah cuma diperingati saja.

Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menyebut, jumlah PRT anak di Indonesia mencapai 10,5 juta. ILO menegaskan PRT merupakan salah satu pekerjaan terburuk bagi anak. Ini karena profesi tersebut tidak mengenal jam kerja, tidak mengenal waktu istirahat, upah rendah, serta tak mengenal jaminan perlindungan kerja. 

Sayangnya, keberadaan Pekerja Rumah Tangga (PRT) Anak ini tak terendus pemerintah, sebab pekerjaan mereka dianggap sebagai kegiatan pekerja informal. Lantas, bisakah Anisyah, Suci, Robi serta jutaan anak lainnya keluar dari kondisi buruk ini?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!