lansia, kota ramah lansia, kesehatan, Pemprov DKI Jakarta, Ahok

Persiapan Jakarta


Saat ini jumlah lansia di Indonesia mencapai 24 juta jiwa. Tiga juta diantaranya tergolong telantar dan butuh bantuan.  Namun menurut Lembaga Lansia Indonesia, jumlahnya lebih besar, mencapai 8 juta jiwa.

Pemerintah mengakui belum bisa berbuat banyak untuk menyejahterakan lansia. Menurut Direktur Pelayanan Sosial Lanjut Usia Ditjen Rehabilitasi Sosial Kementerian Sosial, Tutiek Haryati, pemerintah baru sanggup menangani 50 ribu lansia. Dia menolak kalau kesejahteraan lansia sekadar tanggung jawab Kemensos.

“Sebetulnya memperhatikan lansia ini tidak hanya menjadi tugas pokoknya Kemensos. Jadi harus bersama-sama. Termasuk di dalamnya Pekerjaan Umum itu untuk akses untuk lansia, Kementerian Kesehatan, termasuk Kominfo yang harus menyuarakan bagaimana kita memberikan perlindungan kepada lansia ini,” jelasnya.

Sejumlah daerah sepertinya mulai sadar untuk membangun kota yang ramah  lansia. Jakarta misalnya akan menyediakan angkutan khusus lansia.

Wakil Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama mengatakan angkutan itu paling cepat hadir akhir tahun ini. “Kan kita dulu pernah berpikir mau kasih orang-orang tua naik busway itu gratis, yang usia-usia pensiun itu. Tapi orang tua mau naik ke busway pun engga sanggup. Belum lagi ke halte bus kan berbahaya,” katanya.


Selain angkutan, rencana lain Jakarta adalah menyediakan dokter keluarga, perbaikan panti jompo, dan uang pensiun untuk lansia.

Direktur Yayasan Emong Lansia, Eva Sabdono melihat rencana Ahok soal anggaran  dana pensiun karena mayoritas penduduk Jakarta bekerja di sektor informal. Sehingga perlu memikirkan kesejahteraan mereka di masa tua nanti. “DKI sendiri mengatakan, mereka yang bekerja di Jakarta, 75 persennya bekerja di sektor informal. Pada saat mereka menjadi lansia tidak punya jaminan hari tua. Siapa yang mau kasih pensiun? Padahal 75 persen bekerja di sektor informal, contohnya pedagang kaki lima, nelayan, petani. Apakah mereka dilupakan begitu saja?,” katanya.

Deden Yulianes salah satu petugas yang selalu menyiapkan fasilitas khusus untuk lansia di sebuah gereja di Jakarta Timur. Inisiatif untuk menyediakan fasilitas untuk lansia, menurutnya tak perlu menunggu pemerintah.

Di tempat ibadah ini, lansia tidak perlu naik ke lantai atas untuk beribadah. Mereka disediakan ruang di lantai bawah, ada pengeras suara dan proyektor  untuk melihat  aktivitas ibadah di lantai atas. Ruangan lansia juga dilengkapi fasilitas  penyejuk udara. “Kita belum punya sesuatu yang memadai, tapi cukuplah untuk memfasilitasi lansia untuk mengikuti kebaktian. Salah satunya ada OHP yang kita punya, audio visualnya kita punya beberapa speaker di bawah. Kemudian ada juga monitor kecil untuk mempermudah pemantauan gambar yang terlihat di (lantai) bawah,” terangnya.

Tapi terlepas dari keterbatasan itu semua  bagi para “senior” ini, mereka cuma butuh satu perhatian, kata Titus Kurniadi yang  3 tahun lagi  menginjak usia 80 tahun. “Tapi yang paling kehilangan bagi orang tua adalah kalau tidak ada perhatian. Itu yang paling kehilangan..Enggak punya uang enggak apa-apa asal keluarganya perhatikan. Tapi kalau enggak punya uang, keluarganya enggak perhatikan?,”tanyanya.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!