anak jalanan, firdaus, anak yatim, pendidikan, manggarai

Dirikan Yayasan
 
Tahun 1994 saya lulus kuliah. Tahun 1994 itu saya diterima bekerja, itu sampai tahun 1995. Pernah jadi editor di Intan Pariwara, pernah jadi kepala administrasi kemahasiswaan di perguruan tinggi swasta, pernah juga jadi manaajer kursus di lembaga kursus ternama di Jakarta saat itu. Tapi semua kerja itu tidak cocok dengan hati nurani, bukan soal uang ya. Saya merasa lebih cocok di bidang LSM. Jadi ada teman yang menawarkan kerja di sebuah LSM. Saya ditempatkan pada bagian life skill, bertugas mengedukasi, memberikan keterampilan bagi anak-anak yang putus sekolah di Jakarta.

Nah tahun 1999-2000 saya punya ide untuk mendirikan sekolah gratis. Pada tahun itu Indonesia krisis ekonomi. Banyak orang tua yang kena PHK, anak-anak pada putus sekolah. Sementara itu, saat itu sekolah negeri untuk masuk SMP negeri 250 ribu, uang bulanannya tak luput sebesar 50-100 ribu. Pada saat itu uang sebesar itu sangat tinggi sekali ketika orang pada menganggur. Nah saat itu saya punya ide untuk mendirikan sekolah gratis, yaitu di tingkat SMP.

Awal mula saya mencari anak-anak putus sekolah sepanjang Sungai Ciliwung, dari Cawang hingga Bukit Duri Manggarai, saya telusuri sungai. Mula-mula 15 hingga 20 anak, tapi lama kelamaan sekolah itu berkembang sampai 200 anak. Itu bukan saja SMP tapi sampai SMA. Perkembangan yang pesat ini buat saya sangat mengharukan. Karena dengan keterbatasan dana, keterbatasan tenaga semua ini bisa berjalan atas bantuan dan sumbangsih dari masyarakat yang percaya untuk memberikan bantuan pada kita.

Nama saya Gandi Sumiarsih, usia saya 23 tahun, saya lulusan pendidikan Biologi UHAMKA tahun 2012. Nah di sini saya mengajar pendidikan IPA untuk anak SD. Nah di sini saya jadi tambah pengalaman untuk menghadapi anak-anak lebih banyak lagi. Menghadapi anak-anak lingkungan bawah dengan atas itu ternyata beda. Anak dari kelas atas itu kan mereka sudah terbiasa mendapatkan jadwal belajar di rumah. Anak di bawah itu, mereka kan kurang pengawasan dari orang tua. Jadi kita harus lebih sabar lagi untuk mengkondisikan mereka untuk termotivasi belajar.

Nama saya Lulu Kholidah, usia saya 22 tahun. Saya sekarang semester 5 di Universitas Islam Al-Zahra Kampung Melayu. Saya di sini masuk tanggal 26 juli 2009, itu kelas tiga SMA. Selama di sini, saya bantu-bantu cari anak jalanan, mendidik adik-adik juga. Pernah juga jadi guru di Yayasan Remaja Masa Depan.

Hari ini anak-anak sedang belajar IPA dan Bahasa Indonesia. Mereka kelas enam SD di sekitar Tebet, ada yang berasal dari Bukit Duri, Manggarai, Menteng Dalam dan Kebun Baru. Mereka mengambil kursus bimbingan belajar gratis di Yayasan Remaja Masa Depan. Mereka kursus di sini, karena kalau di tempat bimbel lain kan biayanya jutaan rupiah.

“Nama saya Maryamah, tapi biasa dipanggil buk May. Saya menikah dengan bapak itu pada 1999. Itu juga awal yayasan kami berdiri. Bapak mendirikan Yayasan Remaja Masa Depan itu pada saat kami menikah. Sekarang sudah punya dua anak, tiga dengan yang perempuan yang paling kecil,” ungkap istri Firdaus.

Pas krisis moneter saat itu, bapak punya niat bantu anak-anak putus sekolah. Jadi saya langsung dukung, niat baik harus didukung. Saya support dengan tenaga dan pikiran. Bahkan saya turun ke pinggir Sungai Ciliwung buat data anak-anak putus sekolah, agar mereka sekolah kembali. Sampai akhirnya ya berjalan sangat lancer saat itu.

Kita itu banyak yatim dan ada juga yang terlantar. Mereka dititipkan keluarga mereka yang masih ada. Anak-anak itu ditipkan agar tetap bisa sekolah. Ada juga seorang nenek mengantar anaknya. Saya tanya kenapa belum sekolah? ternyata selama ini cucunya diajak mengemis. Akhirnya ya tinggal di sini. Sekarang sudah bisa baca.

Nama saya Akbar, kelas empat. Saya tinggal di sini sejak 2010. Selama dipanti senang dan banyak teman. Main, belajar, apa-apa saja, dan main bola.

Nama saya Siti Amroizah, boleh dipanggil Aam atau Amroh. Saya sekarang kelas tiga SMA. Saya dari SMA kelas satu di  sini. Kesan saya, senang sih, bisa mandiri, mengatur  diri, bagi waktu. Saya juga berterimakasih pada ibu Maryamah dan Pak Firdaus, karena sudah membimbing dan menggembleng mental kita.

“Nama saya Siti Maryam, umur saya 65 tahun.  Memang saya orang susah, susah banget deh, tak bisa dibilanglah. Anak saya kan banyak, bapaknya kerja sakit-sakitan, belum ada kerjaan. Saya kan kerja nyuci, bikin combro saya suruh anak-anak jualan, buat cari makan, buat jajan sekolah. Akhirnya sampai kelas 6, pak Firdaus ini dagang koran,” kata ibu kandung Firdaus. 

Dia menambahkan, “Alhamdulillah bangetlah. Bangga lah saya, punya anak seperti ini. Dulu anak saya susah tak ada yang giniin. Jangankan orang lain, sodara aja kalau kita susah ya susah. Jangankan dikasih malah dihinaan. Benar, bukan saya bohong. Orang tua saya sendiri. Mau bayaran anak saya, minjam duit saja susah. Sekarang, pak Daus, kalau ada anak-anak yang belum bayaran sekolah, dibayarin. Kalau dulu, saya sampai kepala buat kaki, kaki buat kepala.”

Firdus menimpali, “Tahun 1994 saya lulus dari UI, sebenarnya 1995 saya diterima di program pasca sarjana Psikologi UI. Tapi satu semester saya berhenti, karena tidak ada biaya. Alhamdulillah, pada 2005 hingga 2007, saya dapat kesempatan belajar di Inggris, itu beasiswa dari IFF. Nah saya berhasil menyelesaikan studi, itu tempatnya di Norwich City. Nah ini ijasah saya dari University of East Anglia, Psikosocial Saintist, saya telah dinobatkan sebagai salah seorang yang meraih gelar Master di bidang International Child Welfare.”

“SMP Islam Terpadu di Jakarta itu tidak ada yang harga 1 juta perbulan dan tidak ada uang masuknya yang 10 juta. Itu yang ada uang mukanya sampai 20 juta dan bulanannya tak putus di atas 2 juta tiap bulan.  Nah kita ingin buat itu semua gratis. Saya yakin bisa buat itu gratis. Saya ingin memberikan pemahaman, bahwa untuk mendpatkan pendidikan Islam dan sekaligus umum tidak perlu masuk sekolah elit. Karena selama ini sekolah Islam berkualitas itu kan swasta, dan itu sangat mahalnya minta ampun,” pungkas Firdaus.

Editor: Taufik Wijaya

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!