anak jalanan, firdaus, anak yatim, pendidikan, manggarai

Kuliah di UI

Nah pada saat lulus SMA, saya tetap berdagang Koran. Bahkan kalau tidak ada makanan yang bisa dimakan untuk keluarga. Saya mencari makanan di salah satu supermarket. Dulu di daerah Tebet itu ada super market dan rumah makan cepat saji, di tempat-tempat sampahnya suka ada sisa makanan . Ada beberapa makanan yang masih layak, saya bawa pulang. Sampai di rumah saya potong bagian yang sudah digigit orang, saya rebus atan masak ulang. Buat kami saat itu, itu sudah makanan yang sangat bergizi.

Alhamdulillah selama saya sekolah sambil bekerja, saya termasuk orang yang rajin belajar. Jadi kapanpun saya punya waktu, pasti saya gunakan untuk belajar. Tapi saya juga bukan seorang  yang sangat kuper (kurang pergaulan). Saya tetap anak-anak yang suka nongkrong juga, walaupun waktu nongkrong masih tetap bawa buku. Tapi saya tetap ingin bergaul dengan mereka, karena saya tidak mau terasing.

Pada tahun 1988 saya lulus SMA dan diterima di Jurusan Sejarah Universitas Indonesia. Saat itu saya sangat bahagia, karena tidak menyangka bakal diterima. Masuk ke UI, waktu itu bayarnya Rp 240 ribu. 180 ribu itu untuk uang jaket, SPP dan uang ospek. Pada saat itu saya hanya punya Rp 60 ribu. Tapi tetap diterima walaupun waktu itu masih kurang bayarnya.

Saya kuliah, Alhamdulillah nilai IPK nya cukup. Memang tidak terlalu bagus, karena harus sambil bekerja. Tapi sayang pada masuk semester kedua, waktu mau mendaftar lagi nama saya tidak tercantum lagi. Pada saat mau isi Formulir Rencana Studi, nama saya tidak ada. Lalu saya tanya, ternyata itu karena saya belum lunas bayar biaya pada tahun sebelumnya. Namun atas bantuan teman di Senat dan mahasiswa lainnya, serta dosen yang simpati, mereka bantu saya agar tetap kuliah di UI. Mereka support saya setelah mengetahui kalau saya dikeluarkan karena kemiskinan. Sampai saya selain dibantu juga mendapatkan bantuan beasiswa.

Saat itulah saya berfikir untuk aktif di kegiatan mahasiswa. Karena saya bisa lanjut kuliahnya karena support teman-teman di Senat. Nah saat itulah saya aktif di senat. Tapi malam hari setelah pulang kuliah saya bekerja sebagai satpam di salah satu klinik di Tebet. Jadi bisa dibayangkan, pagi hari saya kuliah, jam 2 hingga jam 6 sore.


Setelah itu saya pulang dari kampus di Depok, balik ke Manggarai. Bekerja malamnya sebagai satpam sampai pagi hari.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!