anak jalanan, firdaus, anak yatim, pendidikan, manggarai

KBR68H - Lahir dari keluarga miskin tak membuat Firdaus patah arang wujudkan cita-citanya. Sejak kecil ia bekerja  mulai dari menjajakan koran sampai memarkir kendaraan. Selepas meraih gelar master dari Inggris, lelaki 44 tahun ini mendirikan Yayasan Remaja Masa Depan. Lembaga ini mengurus panti asuhan dan bimbingan belajar gratis untuk anak-anak kaum papa.

Nama saya M. Firdaus. Latar belakang saya berasal dari anak jalanan. Dulu waktu masa kecil, saya adalah seorang pekerja anak. Jadi sejak masa SD, saya sudah dagang kue, sekitar tahun 1970-an. Tahun1980-an saya jadi tukang parkir. Saya lulus SMA tahun 1988. lalu Saya kuliah di Universitas Indonesia  sambil jadi tukang parkir dan satpam di salah satu klinik di wilayah Tebet.

Saya tinggal di Tebet, di Kelurahan Manggarai Jakarta Selatan. Di sana saat usia SD saya berdagang kue dan masa SMP saya jadi pedagang koran. Pada saat itu saya terpaksa melakukan itu, karena bapak dan ibu saya menganggur. Pada saat SMP itu saya mempunyai adik 7 orang, sehingga saya menjadi tulang punggung keluarga. Saat itu di RT saya, saya termasuk keluarga paling miskin. Saya tidak mampu untuk membeli minyak, sehingga juga cari kayu bakar.

Dagang koran di waktu SMP itu ternyata tidak pekerjaan yang mudah. Karena saya sekolah pagi, padahal dagang korannya juga pagi. Jadi saya ke sekolah itu telat. Telatnya begini, saya masuk sekolah itu kan jam 7, sementara selesai dagang koran itu jam 8. Pada awalnya guru marah, tapi setelah saya jelasnya, guru jadi mengerti. Akhirnya mengizinkan saya untuk telat.

Pulang sekolah itu jam 12, saya istirahat sebentar, belajar sebentar, karena jam tiganya harus dagang koran lagi. Dagang koran itu mulai dari stasiun Manggarai, Stasiun Kota, sampai ke Stasiun Bogor. Pulangnya maghrib.


Pekerjaan yang sangat luar biasa beratnya sebagai anak, menanggung beban keluarga.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!