Kerja Bakti Bantu Pendidikan Anak di Pelosok (2)

Beberapa wahana lain yang tersedia diantaranya

Jumat, 11 Okt 2013 11:21 WIB

pendidikan, gerakan indonesia mengajar, festival, anak, alat bantu belajar

Ajang Belajar


Beberapa wahana lain yang tersedia diantaranya  “Badan si Badun”, “Kemas-kemas Sains”, dan “Sains Berdendang”.  Di tengah aula pertemuan terdapat tumpukan kardus bekas. Beberapa diantaranya dipotong sedemikian rupa sehingga menyerupai organ pencernaan lambung. Salah satu panitia, Koko menjelaskan. “Itu buat dipotong jadi organ tubuh. Di situ kan ada gambarnya. Itu jadi salah satu materi alat pencernaan Badan Si Badun. Ya alat peraga buat pelajaran IPA soal alat pencernaan. KBR68H: Dibuat sendiri atau dibuatkan? Ini dikerjakan sepertiga sepertiga. Jadi dikerjakan sepertiga sebelum Festival GIM oleh beberapa komunitas. Sepertiga selama Festival GIM ini, dan Sepertiga nanti oleh anak di daerah. Jadi belum hasil final karena anak-anak (di daerah) harus ada pengalaman membuat juga.”

Ada pula wahana belajar lain yang tak kalah atraktif dan aplikatif yaitu alat pendeteksi banjir. Kembali Koko menjelaskan, “Prinsipnya begini. Nanti ada lampunya. Ada stereofoam ditaruh di atas air. Terus kita kasih klip kertas. Kalau air naik streofoam ikut naik juga dong. Nah pada ketinggian tertentu ada stereofoam dan klip kertas lainnya yang klipnya sudah dihubungkan baterai, Jadi kalau klipnya saling ketemu lampunya nyala.  Dan itu alarm. Di sini lampus aja tapi kalau dikirim ke daerah nanti jadinya bisa disambungkan ke bel alarm.” 

Seperti kata Hikmat Hardono, selain membantu menyediakan sarana pendidikan di sekolah pelosok nusantara, festival ini  jadi ajang belajar khususnya bagi para  relawan.  Seperti dituturkan Marco dari SMP Karsa Maria, “Bagus ya rame. Banyak peminat. Tadi apa yang dicoba? Baru Kemas-kemas Sains doang. Bagaimana kesannya? Bagus lumayan ngerti. Beda gak sama yang diajarkan di sekolah? iya beda sama yang diajarkan di sekolah. Bagus ya penemunya pinter otaknya.”

Wahana lain yang ada di Festival Gerakan Indonesia Mengajar adalah Sains Berdendang, sebuah metode kreatif  menghafal materi pelajaran. Direktur Eksekutif Gerakan Indonesia Mengajar  Hikmat Hardono menjelaskan, "Melodi Sains Bedendang. Itu rumusan dari pengalaman pengajar muda. Kalau kita ngajarin murid konsep gerak peristaltik itu susahnya minta ampun. Gerak peristaltik organ pencernaan. Lalu anak-anak buat lagu, lagunya lagu biasa cuma diubah syairnya. Dinyanyikan. Pegalaman temen-temen kalau begitu anak pulang sekolah aja berdendang. Nah itu memberi rasa percaya diri guru kalau bikin lagu sains itu gak rumit. Pake lagu yang sudah aja saja diubah,"



Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

  • Kapolri Ancam Copot Pejabat Polri di Daerah yang Gagal Petakan Konflik Sosial
  • Impor Garam 3,7 Juta Ton, Susi: Bukan Rekomendasi KKP
  • Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas
  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres

RKUHP, Koalisi Kebebasan Pers Sangsi Audiensi dengan DPR Bawa Perubahan

  • BMKG : Kemarau di Aceh Berlanjut Hingga Maret
  • Israel Beli Minyak Ke ISIS
  • TC Tahap Dua TImnas, Milla Tak Panggil Evan Dan Ilham

Tidak lama lagi kita akan merayakan pesta rakyat yang diadakan setiap 5 tahun sekali. Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden yang jatuh pada tahun 2019.